Air sangat penting dalam kehidupan manusia, senyawa ionik ini sangat vital eksistensinya dalam berbagai kegunanaan termasuk dunia industri. Kebutuhan akan air yang berkualitas sangat penting akan tetapi kuantitasnya yang memadaipun juga tidak kalah pentingnya. Ini menuntut sinergi teknologi yang compatible untuk menangani permasalahan air yang kian hari kualitas dan kuantitasnya menurun.

Air tidak bisa dilepaskan fungsinya dari dinamika industri karena hampir di semua industri pasti menggunakan air dalam proses produksinya. Di dalam industri air sangat banyak fungsinya tergantung dari jenis industri dan produk yang dihasilkan. Pada umumnya industri – industri menggunakan air untuk berbagai keperluan seperti pelarut bahan kimia, mengencerkan bahan, umpan boiler, Colling Tower/ Chiller water, pembersihan area produksi, campuran produk, sebagai penunjang dalam fungsi kerja alat – alat produksi dan keperluan uji kualitas hasil produk olahan, untuk pemadam kebakaran dan sebagainya.

PERMASALAHAN

Pemilihan kualitas air yang layak dalam setiap kegunaan sangatlah penting untuk diperhatikan agar efektifitas dan pemeliharaan fungsi kerja dapat berjalan lancar sehingga kegagalan – kegagalan ataupun kerusakan alat yang ditimbulkan oleh air dapat dihilangkan. Air dalam industri haruslah memenuhi standar industri yang telah ditetapkan.

Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi gangguan – gangguan produksi, misalnya untuk air umpan Boiller tidak boleh mengandung kesadahan tetap yang terlalu tinggi, ini akan menyebabkan kerak dalam ketel yang dapat mengisolasi kalor sehingga energi uap yang dihasilkan berkurang secara otomatis bahan bakar tungkupun bertambah, ini akan mempengaruhi effisiensi energi dan akhirnya biaya variabel meningkat. Ini berlaku juga kegunaan air pada proses – proses produksi lainnya yang perlu pengawasan mutu dan kuantitasnya.

Cara pemenuhan kebutuhan akan air bisa diperoleh dari vendor seperti PAM, atau air tanah dengan penanganan sendiri atau dari air sungai yang harus membuat insfrastruktur dalam proses pengolahannya, tergantung kondisi geologis tempat industri itu berada dan kapasitas produksi yang dihubungkan dengan kegunaan dalam proses yang menyangkut produk.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

§ POLUTAN AIR

Air merupakan senyawa kimia yang terdiri dari atom H dan O. Sebuah molekul air terdiri dari satu atom O yang berikatan kovalen dengan dua atom H. Molekul yang satu dengan molekul – molekul yang lainnya bergabung dengan satu ikatan hydrogen antara atom H dengan atom O dari molekul air yang lain. Adanya ikatan hydrogen inilah yang menyebabkan air mempunyai sifat – sifat yang khas, yaitu :.

1. Pelarut yang baik

2. Konstanta dielektrik paling tinggi diantara cairan murni lainnya.

3. Tegangan permukaan lebih tinggi daripada cairan lainnya.

4. Transparan terhadap cahaya tampak dan sinar yang mempunyai panjang gelombang lebih besar dari sinar Ultraviolet

5. Bobot jenis tertinggi dalam bentuk cairan ( fasa cair ) pada 4 oC

6. Panas penguapan lebih tinggi dari material lainnya

7. Kapasitas kalor lebih tinggi dibandingkan dengan cairan lain kecuali ammonia.

8. Panas laten dan peleburan lebih tinggi daripada cairan lain kecuali amonia

Rumus kimia air dalam lingkungan laboratorium adalah H2O. Tetapi kenyataannya di alam, rumus tersebut menjadi H2O + X, dimana X berbentuk karakteristika bilogik (bersifat hidup) ataupun berbentuk karakteristika non biologik (bersifat mati). Berbagai macam pengotor utama yang ada dalam air yang akan diolah sebelum digunakan dalam industri dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Kekeruhan dan Warna

Kekeruhan adalah Ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (nephelo metrix turbidity unit) atau JTU (jackson turbidity unit) atau FTU (formazin turbidity unit), kekeruhan ini disebabkan oleh adanya benda tercampur atau benda koloid di dalam air. Hal ini membuat perbedaan nyata dari segi estetika maupun dari segi kualitas air itu sendiri. Partikel – partikel koloid umumya berasal dari kwarsa (pasir), tanah liat, sisa tanaman, ganggang, zat organik dan lain-lain

Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari binatang atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon, protein, dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut.

Warna didalam air terbagi menjadi dua (2) yaitu :

1. Warna sejati (true color)

Warna yang yang berasal dari penguraian zat organik alami yaitu zat humus (asam humus dan asam flufik), lignin, dimana merupakan sekelompok senyawa yang mempunyai sifat-sifat yang mirip. Senyawa ini menyebabkan warna didalam air yang sukar dihilangkan terutama jika konsentrasinya tinggi dan memerlukan pengolahan dengan kondisi operasional yang khusus/berbeda dengan penghilangan warna semu.

Karakteristik warna sejati pada air adalah:

1. Air berwarna kuning terang sampai coklat-merah

2. Air relatif jernih.

3. pH air relatif rendah , dibawah 6 (rata-rata 3 – 5) oleh karena itu air dengan pH < 4,5 tidak mengandung alkalinitas.

Sifat-sifat zat humus yang terutama dan penting dalam pegolahan air dapat dilihat sebagai berikut:

1. Berat molekul adalah 800 – 50.000

2. Ukuran partikel 90% kurang dari 10 nm, partikel koloid.

3. Partikel warna terdiri dari zat humus yang secara dominan berukuran negatif

4. Sifat-sifat seperti ukuran partikel yang kecil dan mengandung muatan negatif yang kuat menentukan mekanisme penghilangan warna yang secara keseluruhan berbeda dari penghilangan kekeruhan.

Karakteristik air berwarna dan sifat-sifat zat humus menyebabkan air berwarna jenis ini sukar untuk diolah.

2. Warna semu

Warna semu adalah warna yang disebabkan oleh :

1. Partikel partikel penyebab kekeruhan (tanah, pasir dll.)

Zat ini lebih mudah dihilangkan dibandingkan dengan penyebab warna lainnya, biasanya didalam air jika zat ini berbentuk koloid biasanya dihilangkan dengan proses koagulasi – flokulasi.

2. Partikel/dispersi halus besi dan mangan

Zat-zat ini pada konsentrasi yang sangat rendah, tidak dapat diterima didalam penyediaan air untuk perumahan maupun industri. Sedikit besi dan mangan dapat menyebabkan warna kecoklatan dalam air yang diproduksi.

3. Partikel-partikel mikroorganisme (algae/lumut)

Warna didalam air yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti algae pembentuk warna (seperti blue – green algae), biasanya agak sukar dihilangkan oleh proses koagulasi – flokulasi tanpa proses pendahuluan seperti menggunakan klor/senyawa klor ( Preklorinasi).

4. Warna yang berasal dari pemakaian zat warna oleh industri (tekstil, pengrajin batik, pabrik kertas, dll.), seperti bahan pencelup, cat, pewarna makanan dll.

Hampir semua zat warna bersifat racun karena zat warna tersusun dari unsur/senyawa kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia. Zat warna tersusun dari Chromogen dan Auxocrome.

b. Mikroba

Dalam air baik yang kita anggap jernih, sampai terhadap air yang keadaannya sudah kotor atau tercemar, di dalamnya akan terkandung sejumlah ke-hidupan, yaitu :

a) Pada air yang kita anggap jernih. misal yang berasal dari sumur biasa, sumur pompa, sumber mata-air dan sebagai-nya, di dalamnya terdiri dari bakteri, yaitu :

Kelompok bakteri besi ( misal Crenothrix dan Sphaerotilus ) yang mampu mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri. Akibat kehadirannya, air sering berubah warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitam-hitaman, kecoklat-coklatan, dan sebagainya.

Kelompok bakteri belerang ( antara lain Chromatium dan Thiobacillus ) yang mampu mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S. Akibatnya kalau air disimpan lama akan tercium bau busuk seperti bau telur busuk.

Kelompok mikroalge (misal yang termasuk mikroalge hijau, biru dan kersik), sehingga kalau air disimpan lama di dalamnya akan nampak jasad-jasad yang berwarna hijau, biru atau pun kekuning-kuningan, tergantung kepada dominasi jasad-jasad tersebut serta lingkungan yang mempengaruhinya.

Kehadiran kelompok bakteri dan mikroalge tersebut di dalam air, dapat menyebabkan terjadinya penurunan turbiditas dan hambatan aliran, karena kelompok bakteri besi dan bele­rang dapat membentuk serat atau lendir. Akibat lainnya adalah terjadinya proses korosi (pengkaratan) terhadap benda-benda logam yang berada di dalamnya, men­jadi bau, berubah warna, dan sebagainya.

b) Pada air yang kotor atau sudah tercemar, misal air selokan, air sungai atau air buangan, di dalamnya akan di dapati kelompok bakteri seperti pada air yang masih jernih, ditambah dengan kelompok lainnya, antara lain :

Kelompok patogen (penyebab penyakit) misal penyebab penyakit tifus, paratifus, kolera, disentri dan sebagainya.

Kelompok penghasil racun, misal yang sering terjadi pada kasus keracunan bahan-makanan (daging, ikan, sayuran, dan sebagainya), ataupun jenis-jenis keracunan lainnya yang sering terjadi di daerah pemukiman yang kurang/tidak sehat.

Kelompok bakteri pencemar, misal bakteri golongan Coli, yang kehadirannya di dalam badan air dikategori-kan bahwa air tersebut terkena pencemar-fekal (kotoran manusia), karena bakteri Coli berasal dari tinja/kotoran, khususnya manusia. Coli termasuk golongan Enterobactericeae. Enterobactericeae merupakan kelompok bakteri yang bersifat gram negative, aerob dan fakultatif anaerob, tidak berspora dan berbentuk batang, memfermentasi glukosa, mereduksi nitrat, oksidase negative serta tahan dalam garam empedu. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah genus Salmonella, Shigella, Yersinia, Proteus, Erwinia, Serratia dan Escherichia. Escherichia Coli adalah Spesies bakteri penghuni normal dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Bakteri ini berbentuk batang, gram negative, bersifat anaerobik fakultatif dan mempunyai flagella peritrikat. Bakteri ini dibedakan atas sifat serologinya berdasar antigen O (somatik), K (kapsul), dan H (flagella).

Kelompok bakteri pengguna, yaitu kelompok lain dari bakteri yang mampu untuk mengurai senyawa-senyawa tertentu di dalam badan air. Dikenal kemudian adanya kelompok bakteri pengguna residu pestisida, pengguna residu minyak bumi, pengguna residu deterjen, dan sebagainya.

Pengaruh kehadiran jasad hidup terhadap kualitas air akan menyebabkan;

Rasa dan bau yang tidak sedap, disebabkan oleh bakteri dan mikroalge.

Air menjadi berlendir dan berwarna merah disebabkan oleh bakteri besi.

Bau yang tidak sedap sehingga dari segi estetika air tidak diterima untuk diminum disebabkan antara lain oleh cacing.

c. BOD dan COD

Biological Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air. Angka BOD ada­lah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat-zat organis yang tersuspensi dalam air.

Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah jumlah oksigen ( mg O2 ) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat – zat organis yang ada dalam 1 L sampel air.

Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat – zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mokrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terkandung didalam air dan diukur dalam satuan ppm. Oksigen yang terlarut ini dipergunakan sebagai tanda derajat pengotor air baku. Semakin besar oksigen yang terlarut, maka menunjukkan derajat pengotoran yang relatif kecil.

d. Logam berat dan metalloid

Sedikitnya terdapat 80 jenis dari 109 unsur kimia di muka bumi ini yang telah teridentifikasi sebagai jenis logam berat. Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat ini dapat dibagi dalam dua jenis. Jenis pertama adalah logam berat esensial, di mana keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek racun. Contoh logam berat ini adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn dan lain sebagainya. Sedangkan jenis kedua adalah logam berat tidak esensial atau beracun, di mana keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat racun, seperti Hg, Cd, Pb, Cr dan lain-lain.

USEPA (U.S. Environmental Agency) mendata ada 13 unsur logam berat yang merupakan unsur utama polusi yang berbahaya. Seperti halnya sumber-sumber polusi lingkungan lainnya, logam berat tersebut dapat ditransfer dalam jangkauan yang sangat jauh di lingkungan, selanjutnya berpotensi mengganggu kehidupan biota lingkungan dan akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan manusia walaupun dalam jangka waktu yang lama dan jauh dari sumber polusi utamanya.

Secara umum diketahui bahwa logam berat merupakan elemen yang berbahaya di permukaan bumi. Masuknya logam berat ke lingkungan berasal dari sumber-sumber lainnya yang meliputi; pertambangan minyak, emas, dan batubara, pembangkit tenaga listrik, peptisida, keramik, peleburan logam, pabrik-pabrik pupuk dan kegiatan-kegiatan industri lainnya. Kontaminasi ini akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya usaha eksploitasi berbagai sumber alam di mana logam berat terkandung di dalamnya. Unsur – unsur yang terdapat pada garis batas antara logam dan bukan logam yaitu metalloid, misalnya Arsen (As).

e. Pengotor lainnya.

Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa. Disamping itu, kesadahan juga merupakan petunjuk yang penting dalam hubungannya dengan usaha untuk memanipulasi nilai pH.

Alkaliniti adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan. Sama halnya dengan larutan bufer, alkaliniti merupakan pertahanan air terhadap pengasaman. Alkaliniti adalah hasil reaksi-reaksi terpisah dalam larutan hingga merupakan sebuah analisa “makro” yang menggabungkan beberapa reaksi. Alkaliniti dalam air disebabkan oleh ion-ion karbonat (CO32- ), bikarbonat (HCO3- ), hidroksida (OH-) dan juga borat (BO33-), fosfat (PO43-), silikat dan sebagainya.

Dalam air alam alkaliniti sebagian besar disebabkan oleh adanya bikarbonat, dan sisanya oleh karbonat dan hidroksida. Pada keadaan tertentu (siang hari) adanya ganggang dan lumut dalam air menyebabkan turunnya kadar karbon dioksida dan bikarbonat. Dalam keadaan seperti ini kadar karbonat dan hidrok­sida naik, dan menyebabkan pH larutan naik.

Surfaktan (zat aktif permukaan/Surface Active Agent) atau Tensides adalah porsi hidrokarbon dari suatu molekul yang mengandung 12 atom karbon atau lebih yang mempunyai gugus hidrofobik (satu rantai hidrokarbon atau lebih) dan suatu ujung gugus hidrofilik (umumnya ionik) yang menyebabkan turunnya tegangan permukaan fluida (spec. Air) dengan mematahkan ikatan – ikatan hidrogen pada permukaan yaitu dengan menaruh ujung kepala – kepala hidrofiliknya pada permukaan air dengan ekor – ekor hidrofobiknya terentang menjauhi permukaan air

Sabun adalah suatu gliserida (umumnya C16 dan C18 atau karboksilat suku rendah) yang merupakan hasil reaksi antara ester (suatu derivat asam alkanoat yaitu reaksi antara asam karboksilat dengan alkanol yang merupakan senyawa aromatik dan bermuatan netral) dengan hidroksil dengan residu gliserol (1.2.3 – propanatriol). Apabila gliserol bereaksi dengan asam – asam yang jenuh (suatu olefin atau polyunsaturat) maka akan terbentuk lipida (trigliserida atau triasilgliserol).

Detergen adalah Surfaktant anionik dengan gugus alkil (umumnya C9 – C15) atau garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari Natrium (RSO3- Na+ dan ROSO3- Na+) yang berasal dari derivat minyak nabati atau minyak bumi (fraksi parafin dan olefin).

Lemak/minyak merupakan asam karboksilat/asam alkanoat jenuh alifatis (tidak terdapat ikatan rangkap C=C dalam rantai alkilnya, rantai lurus, panjang tak bercabang) dengan gugus utama –COOH dalam bentuk ester/ gliserida yaitu sesuatu jenis asam lemak atau beberapa jenis asam lemak dengan gliserol suku tinggi.

§ SISTEM PENGOLAHAN

Pengolahan air sangat tergantung dari karakteristik atau kualitas air baku yang digunakan, metode pengolahan air yang digunakan berkaitan dengan pencemaran-pencemaran yang ada dalam air. Pencemaran-pencemaran yang harus diperhatikan pada kebanyakan persediaan air adalah :

1. Bakteri pathogen

2. Kekeruhan dan bahan-bahan terapung

3. Warna

4. Rasa dan bau

5. Senyawa-senyawa organic

6. Kesadahan

Faktor-faktor ini terutama berhubungan dengan kesehatan dan estetiks (Ray.K dan Joseph. B, 1991)

Tujuan pengolahan air baku menjadi air bersih pada prinsipnya menurut Geyer dan Okun (1968) meliputi :

1. Penjernihan, proses ini diperlukan karena dalam air yang berasal dari badan air banyak membawa kotoran yang berupa butiran-butiran baik kasar maupun halus, ada yang tersuspensi berupa koloid dan harus diendapkan terlebih dahulu.

2. Desinfeksi, pemberian desinfektan dengan dosis tertentu untuk mematikan virus dan bakteri pembawa penyakit, juga menekan pertumbuhan lumut (algae) untuk menjaga nilai estetika. Pengolahan air yang akan digunakan dapat digolongkan menurut sifatnya yang akan menghasilkan perubahan yang diamati.

Pengolahan air menurut Reynolds (1982), dapat digolongksn menjadi :

1. Pengolahan Fisik

Pengolahan air yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar, penyisihan lumpur dan pasir serta mengurangi zat-zat organik dalam air yang akan diolah.

2. Pengolahan Kimia

Proses pengolahan dengan penambahan bahan kimia tertentu dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas air. Penambahan bahan kimia tersebut berupa :

- Koagulan

Koagulan yang dibutuhkan pada proses pengolahan air minum bertujuan untuk membentuk flok-flok dari partikel-partikel tersuspensi dan koloid yang tidak terendap. Koagulan yang ditambahkan biasanya berupa Al2SO4, FeCl3, atau Poly Aluminium Chloride (PAC), dan lain-lain.

- Bahan netralisir

Pembubuhan alkali dimaksudkan untuk menetralkan pH, karena pada umumnya pH akan turun setelah pembubuhan koagulan yang bersifat asam. Pembubuhan alkali diperlukan bila air baku yang diolah memiliki kadar alkalinitas rendah.

- Desinfektan

Bertujuan untuk membunuh bakteri pathogen yang masih terdapat dalam air yang sudah melalui tahap filter. Desinfektan yang digunakan adalah substansi kimia yang merupakan oksidator kuat seperti khlor dan kaporit.

Teknik koagulasi dapat diterapkan dengan bantuan koagulan kimia seperti Polyelektrolit (misalnya : PAC atau Poly Aluminium Chloride, PAS atau Poly Aluminium Sulfat), garam Aluminat (misalnya : Alum, Tawas), garam Fe, khitin, dan sebagainya. Untuk Flokulasi dapat digunakan polimer kationik, anionik, atau nonionik (misalnya : poliakrilik, poliakrilamida). Sedangkan untuk pengendapan dapat digunakan teknologi baffle, settler, lumpur aktif, aerasi, dan lain – lain. Untuk lakuan yang optimal teknik tersebut dapat digabung.

Teknik filtrasi dapat diterapkan dengan bantuan media filter seperti pasir (misalnya : dolomit, diatomae, silika, antrasit), senyawa kimia atau mineral (misalnya : kapur, zeolit, karbon aktif, resin, ion exchange), membran (Osmosis, RO, dialisis, ultrafiltrasi), biofilter atau teknik filtrasi lainnya.

Teknik Redoks dapat diterapkan dengan bantuan inhibitor seperti senyawa khlor (misalnya : Cl2, kaporit, Na-Hypo, Isosyanurat), non khlor (misalnya : H2O2, O3, UV, KMnO4, garam sulfit, terusi), oksida asam basa (HCl, NaOH, H2SO4, garam kalsium, karbonat, amonium) atau teknik redoks lainnya.

Bioremoval merupakan teknik pengolahan menggunakan biomaterial. Biomaterial tersebut antara lain lumut, daun teh, sekam padi, dan sabut kelapa sawit, atau juga dari bahan non biomaterial seperti perlit, tanah gambut, lumpur aktif dan lain-lain.

Bioremidiasi merupakan pengembangan dari teknik bioremoval dengan bantuan mikroorganisma seperti bakteri, kapang dan jamur baik aerobik maupun anaerobik atau dengan menggunakan alga, tanaman dan hewan.

Teknik pengolahan lainnya yaitu adalah Elektrolisa. Elektrolisa mampu memisahkan kation – anion dengan menggunakan efek beda potensial dari masing – masing muatan elektrolit. Apabila ion – ion ditangkap oleh membran selektif atau media lain maka disebut Elektrodialisis. Sedangkan bila digabung dengan koagulasi maka disebut elektrokoagulasi. Elektrodialisis adalah proses pemisahan elektrokimia dengan ion – ion berpindah melintasi membran selektif anion dan kation dari larutan encer ke yang lebih pekat akibat aliran arus searah (DC).

Elektrodialisis memisahkan bahan (ion) dari larutan, proses ini menggunakan perbedaan tegangan listrik sebagai driving force, membrane pertukaran ion (ion exchange membrane) diatur sedemikian rupa sehingga terjadi perpindahan ion secara bolak balikdiantara dua elektroda dalam suatau larutan. Pengembangan proses dilaksanakan dengan muatan eletroda bolak – balik (elektrodialisa bolak – balik).

Reverse osmosis adalah kebalikan dari proses osmosis alami. Osmosis adalah perpindahan cairan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah yang melewati membran semipermeabel sedangkan untuk reverse osmosis adalah perpindahan cairan dari konsentrasi rendah ke konsentrsai tinggi. Reverse osmosis memiliki keunggulan, seperti : efisiensi yang tinggi, biaya yamg rendah dan kualitas air yang dihasilkan sangat berkualitas.

Desalinasi adalah proses pemurnian air dengan cara peminimalan kandungan garam – garam dalam air sehingga diperoleh kadar salinitas yang memenuhi standart. Umumnya digunakan pada pengolahan air laut.

Pengolahan air dapat menggunakan sistem adsorpsi maupun absorpsi. Media adsorben diantaranya adalah kaliksarena (calixarene), karbon aktif, zeolit, bioabsorpsi, dan lainnya. Beberapa jenis mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bioabsorpsi terutama adalah dari golongan alga yakni alga dari divisi Phaeophyta, Rhodophyta dan Chlorophyta.

SIMPULAN DAN SARAN

1. Air sangat penting sekali kegunaannya dalam setiap kehidupan sehingga harus dikonservasi dengan efektif dan efisien.

2. Air baku industri makin hari makin menurun kualitas dan kuantitasnya, hal ini perlu penerapam teknologi yang representatif dan ramah lingkungan

3. Penggunaan air dalam industri sangat vital dan universal untuk perlu mendapat perlakuan khusus dengan parameter standar terpenuhi untuk menjaga kualitas produk dan infrastruktur.

4. Sumber daya air sangat unik dan penanganannya perlu diperhatikan dengan lebih cermat

5. Program kelestarian sumber daya air perlu ditingkatkan untuk menjaga mutu dan kuantitas air.

REFERENSI

Alaerts,G. Dr. Ir; Santika Sumestri, Sri. 1987. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional

Arifin. 2007. Tinjauan dan Evaluasi Proses Kimia (Koagulasi, Netralisasi, Desinfeksi) di Instalasi Pengolahan Air Minum Cikokol, Tangerang. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri

Arifin. 2007. Kajian efektifitas sistem pengolahan air minum Cikokol dalam mengeliminasi logam berat timbal. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri

Ahmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi offset

Busch, D.H; Shull. H; Conley R.T. 1928. Chemistry. edisi kedua. Boston : Allyn and Bacon Inc.

Eaton, Andrew, et al. 2005. Standard Methods for Examination of Water and Wastewater. 21st Edition. American Public Health Association. Marryland USA.

Fessenden, Ralp J; Fessenden, Joan, S. 1994. Kimia Organik. Edisi III, Jilid 2; Jakarta : Erlangga

Hopp. Vollrath. Dasar – dasar Teknologi Kimia untuk Pendidikan dan penerapan di pabrik Industri Kimia. Jakarta: Hoechst

Jr. Linsley. K. Ray: Kohler, A. Max : Paulhus, H, L, Joseph : Hermawan, Yandi. 1989. Hidrologi untuk Insinyur. edisi ketiga. Jakarta : Erlangga

Jr. Day Clyde, M: Selbin, Joel. 1987. Kimia Anorganik Teori. Jogjakarta : Gadjah Mada University press.

Materi training “ Water treatment “ Oleh : PT. Prima Pelita Kimia dan PT. Pulau Sambu Group, Indragiri Hilir, Tahun. 2003

Materi training “ Water treatment “ Oleh : PT. NALCOH dan PT. Pulau Sambu Group, Indragiri Hilir, Tahun. 2003

Materi training “ PAC dalam Water treatment “ Oleh : PT. PACINESIA dan PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri, Tangerang, Tahun. 2005

Materi training “ Water treatment “ Oleh : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri, ( PDAM Cikokol ); Tangerang, Tahun. 2005

PERPAMSI, FORKAMI. 2002. Peraturan Teknis Instalasi Pengolahan Air Minum. Jakarta : Tirta Dharma

Pelczar, Michael J. dkk. 1986. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press

Ralph H. Petrucci, 1993. Kimia Dasar, Prinsip dan Terapan Modern, Edisi keempat, Jilid 3. Jakarta : Erlangga

Sugiharto, 1987. Dasar – dasar pengelolaan air limbah. Jakarta: UI

Sastrawijaya, A. Tresna.1991. Pencemaran Lingkungan. Jakarta : Rineka Cipta.

Sukardjo, Prof. Dr.; 1990. Kimia Anorganik. Jakarta : Rineka Cipta

Sienko. J. Michell; Plane. A. Robert. 1961. Chemistry. edisi kedua. New York: Mc. Graw Hill Book Company Inc.

Wood, Kleinfelter. Keenan. dkk. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga

Unus Suriawiria, Drs. 1985. Mikrobiologi Air. Bandung : ITB

www.chem.is.try.org

www.wikipedia.or.id

Oleh : Arifin_pararaja

About these ads