Sekam padi pada umumnya hanya digunakan sebagai bahan bakar utama atau tambahan pada industri pembuatan bata, bahan dekorasi, atau bahkan dibuang di kandang hewan. Sudah diketahui bahwa sekam padi mengandung anyak silika amorf apabila dibakar pada suhu antara 500 dan 700oC, dalam waktu sekitar 1 sampai 2 jam. Kalsium hidroksida, hasil sampingan dari reaksi semen Portland dengan air, mempunyai sifat yang mudah bereaksi dengan karbon dioksida di udara ataupun di air, dengan ion sulfat dalam tanah, hingga membentuk kalsium karbonat (mudah larut dalam air) dan kalsium sulfat hingga membentuk ettringit yang memiliki volume molekul lebih besar, yang dapat mengakibatkan beton menjadi retak-retak.

Penelitian ini bertujuan melihat reaktivitas silika dalam abu sekam padi dengan kalsium hidroksida dalam pasta semen, mortar semen, dan beton melalui uji laju pengerasan, suhu hidrasi, kuat tekan kubus mortar, kuat tekan silinder beton, uji konsumsi asam garam, uji abrasi, dan pengamatan mikroskopik. Lebih lanjut penelitian ini hendak mengetahui kemungkinan limbah abu sekam padi pada industri pembuatan bata menjadi suatu barang komoditas.

Sekam padi didapatkan dari padi jenis IR-64 dan C-4 yang diambil dari Kelurahan Purwomartani dan Kelurahan Wedomartani, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Semen merek Gresik tipe I (SNI 15-2049-1994), pasir dan agregat pecah dari sungai Progo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, sedangkan air diambil dari saluran air minum di Laboratorium Struktur, Fakultas Teknik, UGM. Dengan menggunakan alat uji penetrasi Vicat laju pengerasan dicatat setiap 15 menit sampai dengan 480 menit setelah sampel dibiarkan di dalam ruangan lembap selama 30 menit.

Sampel dengan jumlah abu sekam padi (ASP) dari 0 sampai 25% menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah ASP yang diberikan, semakin lama laju pengerasannya dan semakin berkurang kalor hidrasinya. Setiap penambahan 5% ASP menyebabkan penundaan laju pengerasan awal sebesar 15 menit dan laju pengerasan akhir 30-45 menit. Jumlah ASP ditambahkan ke dalam beton beragam mulai dari 0 sampai 30% bobot semen dengan kenaikan 5%. Setiap perlakuan dibuat 5 buah benda uji yang dirawat secara sama dan diuji pada berbagai umur. Sebanyak 5 perlakuan benda uji lain yang memiliki kandungan ASP serupa setelah dirawat selama 28 hari kemudian direndam di dalam larutan natrium sulfat (Na2SO4) yang memiliki pH 2.7. Setiap hari keasaman larutan diperiksa. Jumlah larutan asam sulfat 2N H2SO4 yang ditambahkan untuk menjaga pH larutan 2.7 dicatat untuk masing-masing perlakuan. Setelah direndam di dalam natrium sulfat selama 28 hari, silinder beton diuji kuat tekannya.

Penambahan ASP yang diikuti dengan penambahan air untuk mencapai konsistensi awal yang sama mengakibatkan kalor hidrasi menjadi berkurang dan jarak antara gelatin bertambah hingga laju pengerasan tertunda. Dari pengamatan diketahui bahwa untuk mendapatkan kelecakan (workability) yang baik diperlu-kan tambahan air sebanyak 73% bobot ASP.

Hasil pengujian kuat tekan silinder beton pada umur 14, 28, dan 56 hari menunjukkan bahwa peningkatan kuat tekan tetap terjadi dan semakin tinggi pada umur di atas 28 hari (yang biasa digunakan sebagai acuan). Kuat tekan optimum didapatkan pada penambahan ASP sebesar 15% bobot semen yang secara taat asas terjadi pada umur 14, 28, dan 56 hari. Dibandingkan dengan beton normal, beton dengan kandungan ASP masih menunjukkan kuat tekan yang lebih tinggi walaupun telah direndam asam selama 28 hari. Kuat tekan optimum tercapai pada kandungan ASP 15%. Dilihat dari konsumsi asam untuk mempertahankan pH 2.7 maka silinder beton dengan 15% ASP menunjukkan nilai terendah. Ini membuktikan bahwa silinder beton dengan 15% ASP lebih kedap.

Diakses oleh : arifin_pararaja dari Hibah Bersaing VI
About these ads