2008


Banyak sekali jenis tumbuhan yang berguna bagi kesehatan tubuh manusia. Diantara sekian banyak jenis tumbuhan yang berkhasiat bagi kesehatan tubuh adalah tumbuhan jahe.


Beberapa Khasiat Jahe
1. Rasa jahe yang hangat membantu sirkulasi keringat, yang bisa memberi efek baik untuk mencegah flu dan masuk angin.
2. Jahe dikenal dapat mengurangi inflamasi sendi dan jaringan otot pada penderita reumatik
3. Obat herbal ini mujarab mengatasi mual pada wanita hamil
4. Mengurangi efek migram
5. Banyak wanita percaya, jahe bisa meminimakan kram pada saat haid
6. Dapat merangsang pencernaan dan mengurangi rasa kembung akibat masuk angina
7. kandungan antisapriknya, membantu mengurangi penyerapan kolesterol darah dan hati
8. Aromanya yang khas bisa dijadikan aroma terapi untuk obati stres
9. Sering mengkonsumsi jahe membuat tubuh jauh dari penyakit, meningkatkan kekebalan tubuh dari virus.
10. Rasanya yang hangat sangat baik untuk Anda yang sedang merasa kedinginan
11. Membantu menyembuhkan batuk, asma, dan sakit kepala


Institut Pertanian Bogor (IPB), melalui lembaga Pusat Studi Biofarma mengadakan penelitian tentang jahe yang sangat berguna bagi kesehatan, bahkan jahe merupakan tumbuhan yang menjadi salah satu bahan untuk minuman tradisional jamu.
Menurut Prof Dr Ir Latifah K Darusman, Kepala Pusat Studi Biofarma IPB, jahe merupakan tanaman obat yang telah dikenal sejak lama dan digunakan secara luas.


Berikut ini, simak daftar tanya jawab yang dilakukan dengan Prof Dr Ir Latifah K Darusman seputar penelitian jahe yang dilakukan oleh Pusat Studi Biofarma IPB. Dalam memberi keterangannya, Prof Dr Ir Latifah K Darusman dibantu oleh dua orang stafnya, yakni Rudi Heryanto, SSi, MSi (keahlian separasi bahan aktif) dan Dr Min Rahminiwati (keahlian farmakologi).

Sejauh mana inovasi yang dilakukan IPB pada jahe?


Penelitian-penelitian terkait dengan khasiat/kegunaan jahe memang banyak yang sudah melakukannya. Namun, IPB melalui Pusat Studi Biofarmaka mencoba melakukan kajian terkait dengan jahe pada segmen yang belum banyak disentuh yaitu segmen budidaya, potensi pasar dan kontrol kualitas simplisia jahe. Walaupun begitu beberapa kajian khasiat jahe seperti sifat antioksidannya ataupun cara formulasinya menjadi suatu produk juga tetap dilakukan.


Beberapa penelitian terkait dengan jahe yang telah dilakukan oleh Pusat Studi Biofarmaka adalah, pembuatan prosedur operasi standard untuk budidaya jahe, dengan keunggulan sistem budidaya berbasis bahan bioaktif. Pengembangan teknik analisis untuk kontrol kualitas simplisia jahe. Dalam kajian ini telah dicoba dikembangkan metode penentuan bahan aktif jahe secara langsung dari simplisianya. Juga pengkajian strategi untuk menjadikan jahe sebagai komoditas ekspor. Kajian-kajian ini dilakukan baik secara mandiri ataupun dilakukan bekerjasama dengan instansi lain seperti Departemen Pertanian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Berdasarkan penelitian, ada berapa macam/jenis jahe?

Sampai saat ini, Pusat Studi Biofarmaka tidak melakukan penelitian untuk identifikasi keragaman jenis jahe. Mungkin untuk hal ini Balittro-Deptan, telah melakukannya. Adapun untuk penelitian tentang jahe yang selama ini dilakukan, Pusat Studi Biofarmaka menggunakan tiga jenis jahe yaitu jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah. Untuk aplikasi budidaya yang sedang kami lakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan di Kalimantan Timur (kerjasama ITTO-PSB, IPB-Dephut-PT Inhutani), jenis jahe yang dibudidayakan adalah jahe merah.


Apakah kandungan zat yang berbahaya pada jahe?


Tidak ada efek berbahaya yang akan ditimbulkan oleh komponen kimia dalam jahe selama penggunaannya dilakukan sesuai dengan anjuran. Namun yang harus diperhatikan adalah keberadaan bahan kimia lain (misalnya flatoksin) yang disebabkan kontaminasi simplisia jahe oleh misalnya Aspergillus sp.

Seberapa penting atau besar/dominant jahe dibanding tumbuhan lain untuk kesehatan?


Jahe merupakan salah satu tanaman obat yang paling sering digunakan untuk komponen jamu. Pusat Studi Biofarmaka bekerjasama dengan Oxford Natural Product telah melakukan studi inventori tumbuhan obat yang digunakan jamu untuk sembilan jenis penyakit. Hasil studi menunjukkan bahwa jahe tercatat sebagai komponen jamu untuk 7 jenis penyakit dan merupakan tanaman obat yang paling umum digunakan untuk jamu yang berkhasiat sebagai penghilang sakit/antiinflamasi dan penghilang gangguan saluran pencernaan.

Bahan-bahan apa saja yang boleh atau dilarang dicampur dengan jahe?


Beberapa studi menunjukkan bahwa pada penggunaan sesuai dosis klinik, jahe tidak berinteraksi dengan pengobatan yang lain.

Lebih baik mana, jahe dimanfaatkan untuk tubuh apakah sesudah makan atau sebelum makan?


Terkait dengan kandungan senyawa bioaktif jahe yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka pada lambung maka ada baiknya jahe dikonsumsi sebelum makan.


Bagaimana proses pengolahan jahe yang aman sehingga struktur kandungannya tidak berubah?


Senyawa bioaktif yang dikandung jahe (misalnya gingerol atau minyak atsirinya) merupakan senyawa thermolabile. Untuk itu pengolahan yang menggunakan panas yang berlebihan patut untuk dihindari. Walaupun demikian, dalam larutan berair, gingerol dapat bertahan sampai suhu 100 derajat celcius.


Ada kontradiksi yang dialami tubuh bila jahe dikonsumsi setiap hari. Berbahaya atau tidak?


Dalam suatu monograf disebutkan bahwa penggunaan serbuk jahe secara oral pada kadar 2 gram perhari (dalam satu dosis atau dibagi menjadi beberapa kali) dapat dilakukan dalam waktu yang tidak dibatasi.


Ada kontradiksi bila jahe dikonsumsi oleh penderita maag, karena dalam jahe ada zat yang bertolak belakang dengan asam lambung?


Belum ada informasi terkait dengan kontradikasi jahe pada dosis yang dianjurkan selama ini. Hanya saja, satu penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari India menunjukkan bahwa penggunaan serbuk jahe pada dosis 6 gram perhari dapat menyebabkan iritasi lambung.


Komposisi jahe akan bermanfaat pada kondisi apa saja? Penyakit apa saja yang bisa dicegah oleh kandungan jahe dan dosisnya berapa dan bila dibuat sendiri pengolahannya bagaimana? Untuk penyembuhan? Penyakit apa saja?


Secara prekinik baik in vitro maupun in vivo, jahe telah dibuktikan memiliki efek antimikrob, antifungal, antihelmintik, antioksidatif, antiimflamasi, antitumor, bersifat imunomodulatori, antilipidemic, bersifat analgesik, dan memiliki efek perlindungan terhadap saluran pencernaan. Sedangkan secara klinik, efek yang paling nyata dari jahe adalah untuk menghilangkan gejala mual pada perempuan hamil. Untuk efek yang lainnya misalnya mencegah mual setelah operasi, mencegah mabuk karena perjalanan, dan sakit karena osteoartitis, secara studi klinik sampai saat ini cukup efektif tapi masih harus dikonfirmasi dengan studi yang lebih jauh.


Beberapa Tips membuat minuman jahe :
Cara membuat wedang jahe dan Kopi Susu Jahe

- Wedang Jahe

Bahan :
1 liter air
100 gr gula pasir
2 buah jahe dimemarkan
1 lembar dau pandan wangi (diikat simpul)

Cara membuatnya :

Didihkan air, lalu masukan semua bahan kedalam rebusan air, aduk sampai gulanya larut, dan pandan menjadi layu, cicipi bila kurang manis tambahkan gula. Nikmat dihidangkan dalam keadaan hangat.

- Kopi Susu Jahe

Bahan :
1 potong jahe, memarkan
3/4 gelas air
1 sendok makan kopi bubuk
2 sendok makan gula pasir
3 sendok makan susu bubuk

Cara membuat :

masak sekaligus jahe, air, kopi sampai dengan mendidih, tuangkan pada gelas yang sudah diberi susu bubuk dan gula, aduk, dan sajikan.

Selamat mencoba..!
Info : Kami juga mempoduksi Jahe, Kunyit, Temulawak, dsb. dalam bentuk kristal berbagai ukuran yang diproduksi oleh anak – anak sekolah kami di Unit Produksi dan Jasa SMK NEGERI 3 KIMIA MADIUN.
Kami siap melayani anda.

Oleh : Pank.

Kadang masyarakat awam, khususnya para orang tua yang menyekolahkan anak – anaknya, beranggapan bahwa kata ‘pendidikan’ hanyalah terpaku pada pengajaran mata pelajaran yang tiap harinya diterima para murid di sekolah. Mereka seolah dengan menyekolahkan anaknya, beranggapan kalau mereka telah memberikan pendidikan kepada anaknya.

Sebenarnya anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Memang pengajaran mata pelajaran yang diterima oleh para murid adalah salah satu definisi dari pendidikan. Namun, apakah kata pendidikan hanya sebatas itu saja? Tentu saja tidak. Makna pendidikan jauh lebih luas daripada hanya sekedar memberi ilmu tentang pelajaran – pelajaran sekolah. Arti pendidikan yang sebenarnya, di samping memberikan pelajaran juga mendidik akhlak yang baik kepada orang lain. Dan definisi yang kedua inilah yang jauh lebih sulit diaplikasikan jika dibandingkan definisi yang pertama tadi. Sebab, pendidikan tentang akhlak yang baik membutuhkan contoh seorang figur yang baik pula. Bayangkan jika seorang guru yang seharusnya memberikan contoh akhlak yang baik kepada para muridnya, justru bertingkah laku buruk entah di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Bisa dibayangkan akan seperti apa tingkah laku para siswa-siswinya?

Berbicara tentang pendidikan dalam koridor lingkungan sekolah, maka siapakah orang yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan pendidikan itu? Jika kita merunut jawaban secara global, maka tiap instansi dan individu di dalam ligkungan sekolah itu bertanggungjawab atas pendidikan di sekolah tersebut. Namun jika kita harus menyebut sebuah nama, pihak yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan pendidikan di lingkungan sekolah, maka orang itu adalah Kepala Sekolah.

Bagaimana seorang kepala sekolah selaku pemimpin sebuah sekolah berperilaku akan sangat terpantau oleh guru – guru maupun murid – murid yang ia bawahi. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah tak hanya bisa mengajar pelajaran di kelas-kelas, namun yang lebih penting lagi, ia harus bisa menjaga sikapnya baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pendidikan

Kepala sekolah adalah pemimpin pendidikan yang mempunyai peranan sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolah. Berkembangnya semangat kerja, kerja sama yang harmonis, minat terhadap perkembangan pendidikan, suasana kerja yang menyenangkan dan perkembangan mutu professional di antara para guru banyak ditentukan oleh kualitas kepemimpinan kepala sekolah.

Sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus mampu menolong stafnya untuk memahami tujuan bersama yang akan dicapai. Ia harus memberi kesempatan kepada staf untuk saling bertukar pendapat dan gagasan sebelum menetapkan tujuan.

Di samping itu kepala sekolah juga harus mampu membangkitkan semangat kerja yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan suasana kerja yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, aman dan penuh semangat. Ia juga harus mampu mengembangkan staf untuk bertumbuh dalam kepemimpinannya. Ini berarti ia harus mampu membagi wewenang dalam pengambilan keputusan, sebab banyaklah tanggung jawab yang harus dilaksanakan kepala sekolah.

Agar tugas-tugas ini berhasil baik ia perlu memperlengkapi diri baik dengan perlengkapan pribadi maupun perlengkapan profesi. Ia harus memahami masalah kepemimpinan dan prinsip-prinsip kepemimpinan. Adapun prinsip – prinsip kepemimpinan yang dimaksud adalah :

1. Prinsip Demoktratis

Dalam menjalankan kepemimpinannya, kepala sekolah hendaknya bersikap dan bertindak demokratis, mengutamakan musyawarah untuk mufakat, meskipun suatu saat dia dapat pula menjalankan kepemimpinan situasional (dasar sikap dan tindakan kepemimpinan yang berdasarkan situasi).

2. Prinsip Kekeluargaan

Sebagai pemimpin, kepala sekolah perlu menciptakan dan membina situasi hubungan sosial yang karab dan harmonis di dalam lingkungan kerjanya, yang didasari oleh semangat kekeluargaan.

3. Prinsip Kesederhanaan

Dalam menjalankan kepemimpinan pendidikan, kepala sekolah perlu memberikan keteladanan sikap dan tingkah laku yang menunjukkan kesederhanaan dan kemandirian kepada guru-guru agar sikap dan tingkah lakunya yang demikian itu mengimbas/menular kepada para siswa. Kedua sikap tersebut juga perlu ia tunjukkan dalam pengelolaan sumber daya yang terbatas baik kuantitasnya, sehingga akan dapat membantu mengatasi keterbatasan kemampuan sekolah yang dipimpinnya.

Kepala Sekolah dan Fungsinya

Atas tanggung jawab yang begitu besar itu pulalah yang menjadikan seorang Kepala Sekolah harus bisa mengatur sedemikian rupa sebuah lingkungan sekolah dengan baik layaknya seorang sutradara film. Di samping itu, seorang Kepala Sekolah juga harus mampu untuk menjalankan perannya sendiri sebagai seorang guru dan pendidik layaknya seorang aktor.

Seorang kepala sekolah menduduki jabatannya karena ditetapkan dan diangkat oleh atasan (Kepala Kantor Departemen Pendidikan Nasional atau yayasan). Tetapi untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan lancar ia perlu diterima dengan tulus ikhlas oleh guru–guru yang dipimpinnya. Dengan kata lain ia diakui kemampuan serta kepemimpinannya oleh guru–guru.

Kedudukan kepala sekolah adalah kedudukan yang cukup sulit. Pada satu pihak ia adalah orang atasan karena diangkat oleh atasan. Tetapi di lain pihak ia adalah wakil guru-guru atau stafnya. Ia adalah suara dan keinginan guru-guru. Sebagai seorang atasan, ia mempunyai tanggung jawab sebagai tangan kanan atasan untuk membina sekolah, guru-guru serta anggota staf yang lain. Dan sebagai wakil guru-guru ia harus mampu menerjemahkan aspirasi-aspirasi dan keinginan-keinginan mereka. Jadi dapat kita simpulkan bahwa kedudukan kepala sekolah adalah “kedudukan tengah” antara atasan dan staf. Dalam kedudukannya yang demikian itu, kepala sekolah mengemban tugas pokoknya yaitu membina atau mengembangkan sekolahnya secara terus-menerus sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman.

Di dalam usaha meningkatkan mutu sekolahnya, seorang kepala sekolah dapat memperbaiki dan mengembangkan fasilitas sekolah; misalnya gedung, perlengkapan / peralatan, keuangan, sistem pencatatan / pendataan, kesejahteraan dll yang semuanya ini tercakup dalam bidang administrasi pendidikan. Dalam hal yang demikian ini maka kepala sekolah berfungsi sebagai administrator pendidikan.

Usaha peningkatan mutu dapat pula dilakukan dengan cara meningkatkan mutu guru-guru dan seluruh staf sekolah, misalnya melalui rapat-rapat, diskusi, seminar, observasi kelas, penataran, perpustakaan, dsb. Kegiatan-kegiatan yang demikian ini dapat digolongkan pada kegiatan supervisi. Oleh karena itu, dalam hal ini dapatlah dikatakan bahwa fungsi kepala sekolah adalah sebagai supervisor (penyelia) pendidikan.

Peningkatan dalam bidang adminstrasi dan supervisi saja belum merupakan jaminan akan keberhasilan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Ada faktor lain yang tidak kalah penting yaitu masalah kepemimpinan.

Peningkatan mutu hanya dapat berjalan dengan baik apabila guru-guru bersikap terbuka (open mindedness), kreatif dan memiliki semangat kerja yang tinggi. Semua hanya dapat terjadi apabila mereka berada dalam suatu suasana kerja yang menyenangkan, aman dan menantang.

Suasana yang demikian ditentukan oleh bentuk dan sifat kepemimpinan yang dilakukan kepala sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah harus terus-menerus berusaha mengembangkan diri agar kepemimpinannya terus berkembang pula. Hal ini merupakan kewajiban yang penting sekali karena fungsinya sebagai pemimpin pendidikan (educational leader.).

Kepala Sekolah Sebagai Peningkat Kinerja Guru

Performance yang diterjemahkan menjadi kinerja, juga berarti prestasi kerja, pelaksanaan atau hasil kerja atau unjuk kerja atau penampilan kerja. Menurut Sedarmayanti (2001) kinerja adalah hasil atau keluaran dari suatu proses. Menurut Prawirosentono (1999), performance (kinerja) adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.

Jadi bisa disimpulkan, jika kita melihat dalam hal pendidikan, kinerja guru yang dimaksud di sini adalah bagaimana guru tersebut mampu untuk mendidik para siswa-siswinya menjadi orang yang berhasil, baik dalam hal pendidikan, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Sedangkan tugas Kepala Sekolah di sini adalah untuk meningkatkan kinerja para guru tadi sehingga mampu untuk mendidik para siswa – siswanya dan menyampaikan pelajaran serta berakhlak yang mulia, sehingga para guru akan bisa menjadi contoh yang baik bagi para siswanya.

Kesimpulan

Hampir tak ada seorang kepala sekolah pun yang menyangkal bahwa jabatan yang ia emban itu sulit. Tak berlebihan memang jika seorang kepala sekolah merasa berat memangku jabatannya, terlebih lagi setelah kita melihat apa tanggung jawab dan tugas – tugas dari seorang kepala sekolah. Namun, kepala sekolah dengan tingkat kewenangan yang dimiliki, sangat dominan dalam upaya meningkatkan kinerja dan kualitas guru menjadi seorang pengajar dan pendidik yang profesional. Ia pun sangat berpeluang untuk mengharumkan nama sekolah yang dipimpinnya dengan inovasi-inovasi yang ia ciptakan untuk memajukan lingkungan sekolah. Selain dapat mengharumkan namanya sendiri tentunya.

Pun tak berlebihan jika kita menyebut seorang kepala sekolah sebagai sutradara sekaligus aktor dalam sebuah lingkungan sekolah. Sutradara, karena ia harus pintar – pintar mengatur para guru dan staf serta murid-muridnya dengan peraturan dan keputusan – keputusan yang ia ambil. Selain itu, ia adalah orang pertama yang bertanggungjawab atas keberhasilan jalannya roda pendidikan di sebuah sekolah. Ia pun langsung bertanggungjawab kepada atasannya (Kepala Kantor Pendidikan Nasional atau Yayasan) layaknya seorang sutradara yang bertanggungjawab kepada sang produser. Aktor, sebab selain ia membuat peraturan-peraturan dalam sekolahnya, ia pun harus bisa mengaplikasikan dan mematuhinya sendiri. ia pun juga seorang guru yang harus berkewajiban mendidik para murid dan juga anak-anaknya.

Namun, seberat apapun tugas dan tanggung jawab jabatan seorang kepala sekolah, jabatan itu tetaplah sebuah jabatan yang mulia. Jabatan yang mungkin hampir tiap guru mengidam-idamkannya.

Lempung bentonit sangat menarik untuk diteliti karena lempung ini mempunyai struktur berlapis dengan kemampuan mengembang (swelling) dan memiliki kation-kation yang dapat ditukarkan (Katti and Katti, 2001). Meskipun lempung bentonit sangat berguna untuk adsorpsi, namun kemampuan adsorpsinya terbatas (Cool and Vanssant, 1998). Kelemahan tersebut dapat diatasi melalui proses aktivasi menggunakan asam (HCl, H2SO4 dan HNO3) sehingga dihasilkan lempung dengan kemampuan adsorpsi yang lebih tinggi (Kumar and Jasra, 1995). Asam sulfat merupakan asam yang memiliki bilangan ekivalen H+ lebih tinggi dibanding dengan asam klorida ataupun asam nitrat. Aktivasi lempung menggunakan asam akan menghasilkan lempung dengan situs aktif lebih besar dan keasamaan permukan yang lebih besar, sehingga akan dihasilkan lempung dengan kemampuan adsorpsi yang lebih tinggi dibandingkan sebelum diaktivasi (Komadel, 2003).
Sementara itu dewasa ini, khususnya di daerah penghasil cengkeh, sangat banyak terdapat penyulingan minyak daun cengkeh. Namun kualitas minyaknya masih sangat rendah sehingga harganyapun relatif murah. Adapun penyebab rendahnya kualitas ini karena minyak daun cengkeh yang dihasilkan masih mengandung pengotor yang kemungkinan berupa zat warna organik atau anorganik sehingga minyak ini berupa cairan yang berwarna gelap. Minyak daun cengkeh yang diproduksi dengan alat destilasi yang dibuat dari stainless steel umumnya mempunyai kualitas yang lebih baik, akan tetapi alat ini terlalu mahal sehingga petani memilih menggunakan alat yang terbuat dari besi (Guenther, 1990; Sastrohamidjojo, 2002). Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu cara yang murah untuk menghilangkan pengotor pada minyak daun cengkeh sehingga kualitasnya menjadi lebih baik.
Salah satu cara sederhana dan telah banyak dikembangkan oleh banyak peneliti untuk menghilangkan pengotor adalah metode adsorpsi. Beberapa peneliti menggunakan karbon aktif untuk mengadsorpsi material organik terlarut. Tetapi karena tingginya harga adsorben karbon aktif serta sulitnya diregenerasi, mendorong para peneliti untuk mencari material lain sebagai penggantinya. Salah satu bahan yang menarik untuk digunakan sebagai adsorben adalah material anorganik alam, misalnya lempung (McCabe, 1996). Penggunaan lempung sebagai adsorben mempunyai beberapa keunggulan karena lempung khususnya jenis bentonit mempunyai struktur antar lapis yang dapat dimodifikasi sehingga dapat memperbaiki sifatnya. Disamping itu pemanfaatan lempung sebagai adsorben dapat diregenerasi (Ryanto, 1994).
Pada penelitian ini akan dipelajari metode aktivasi lempung menggunakan H2SO4 serta uji adsorpsinya pada minyak daun cengkeh. Adapun kajian yang ditekankan pada pembuatan lempung teraktivasi asam yakni penentuan kondisi optimum reagen pengaktivasi. Diharapkan dengan perlakuan optimum akan menghasilkan lempung teraktivasi dengan aktivitas adsorpsi yang tinggi terhadap pengotor minyak daun cenkeh.
Lempung teraktivasi asam telah diuji adsorpsinya pada proses penjernihan minyak daun cengkeh. Pada proses sintesis dikaji pengaruh konsentrasi asam sulfat terhadap kualitas lempung hasil sentesis dan kemampuan adsorpsinya. Karakterisasi lempung hasil sintesis dilakukan dengan Gas Sorption Analyzer untuk menentukan luas permukaan spesifik, spektrofotometer FTIR untuk penentuan gugus-gugus fungsional .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan di atas menyebabkan terjadinya peningkatan pada: luas permukaan spesifik. Luas permukaan spesifik berturut-turut 48,27; 48,75; 54,31; 65,21; 62,91; dan 51,86 m2/g, untuk variasi konsentrasi asam sulfat = 0; 0,4; 0,8; 1,2; 1,6 dan 2,0 M. Hasil uji adsorpsi menunjukkan bahwa lempung dengan aktivasi = 1,2 M menunjukkan aktifitas adsorpsi terbaik, yakni mampu mengadsorpsi pengotor paling banyak: 284,2 mg/g lempung dan menghasilkan minyak hasil adsorpsi paling jernih dengan perbandingan adsorben : minyak = 1 g : 40 mL.

Adopted by @_pararaja from : Jurnal Kima 2(1). Januari 2008 : 19-24; P. Suarya. 2008. Adsorpsi Pengotor Minyak Daun Cengkeh Oleh Lempung Teraktivasi Asam. Bukit Jimbaran, Bali : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana.

Definisi :
Bencmark adalah :
– Suatu pengukuran terhadap pelaksanaanfungsi, operasi atau bisnis yang berkaitan dengan yang lain, seperti : referensi
– Proses pengukuran produk, jasa dan praktek kegiatan yang dilakukan secara terus menerus terhadap para pesaing yang paling ulet.

Benchmarking juga dapat didefinisikan :
• sebuah alat yang bermanfaat bagi keefektifan sebuah biaya
• memperbolehkan organisasi untuk belajar dari pengalaman organisasi lain

Tujuan Benchmarking
• Untuk mempertinggi keefektifan organisasi
• Untuk mempertinggi prestasi organisasi
• Untuk mencapai status kelas dunia

Tiga pendorong utama Ledakan Benchmarking (Benchmarking boom)

1. Persaingan Global : perusahaan perusahaan harus mengikuti persaingan, untuk melebihi atau sama dengan praktek-praktek terbaik
2. Tanda Penghargaan Mutu : Minat yang terus meningkat untuk memperoleh quality award
3. Perbaikan Terobosan kesadaran manajemen yang meningkat tentang sampai sejauh mana perusahaan dapat tertinggal di belakang para pesaing global mereka.

Jenis jenis benchmarking berdasarkan bentuknya :
1. Benchmarking internal, pembuatan perbanding dengan bagian lain di dalam organisasi yg sama
2. Benchmarking pesaing, lebih sulit dilaksanakan karena merupakan kerahasian suatu organisasi,
3. Benchmarking fungsional, perbandingan organisasi yang tidak bersaing seperti pergudangan, jasa boga dll.
4. Bencmarking umum (Generic Benchmarking): perbandingan proses-proses bisnis yang berlaku pada berbagai fungsi dan dalam indiustri yang berbeda.

3 Macam Benchmarking
• Benchmarking proses berfokus pada proses tertentu dan sistem operasi
• Benchmaking pelaksanaan kerja (kinerja) Berfokus pada harga, mutu teknis, ciri tabahan pada produk/jasa, kecepatan, daya tahan dan karakteristik kinerja lainnya
• Benchmarking strategi menjelajahi industri industri, mencari tahu strategi terbaik yang telah mensukseskan suatu perusahaan untuk bertahan dalam persaingan

Benchmarking memungkinkan anda untuk :
• Meningkatkan prestasi bisnis
• Mempelajari & Meningkatkan praktek terbaik
• Mencapai sasaran yang realistis
• Memasukkan peningkatan² dlm strategi
• Menggunakan praktek terbaik sebagai inspirasi dalam mengadakan pembaharuan
• Berfokus keluar
• Mempunyai tujuan tertentu mengenai peningkatan
• Mengukur peningkatan

Darimana Anda Harus Memulai :
• Jangan tunggu krisis
• Kerjakan ditempat yg secara realistis mungkin untuk dilaksanakan
• Bentuk tim benchmarking, terdiri dari pengambil keputusan dan ahli di suatu proses
• Ketahuilah perusahaan perusahaan lain yang masuk kelas dunia dalam bidang yang serupa
• Tetapkan kunci untuk mensukseskan bisnis yang hendak ditingkatkan
• Tentukanlah pengukuran pelaksanaan kerja perusahaan
• Seleksi proses proses inti
• Dipadukan dng kegiatan perbaikan mutu yg lain
• Dihubungkan dengan kegiatan² perencanaan diperusahaan

Darimana informasi dapat diperoleh ?
• Relasi (pemasok/pelanggan
• Media massa, karya ilmiah,
• konsultan & perantara
• Asosiasi dagang
• Karyawan

Kapan Benchmark dilakukan :
• Saat proses sedang berlangsung
• Saat pengecekan pelaksanaan secara teratur sedang dilakukan
• Saat meng-update benchmark untuk peningkatan berkelanjutan
• Saat peninjauan kegiatan yang sedang dibencmark untuk memastikan bahwa kegiatan tsb masih merupakan faktor sukses yang penting
• Saat mengetahui adanya faktor dan parameter baru

Apa yg dapat di benchmark ?
• Setiap bagian dari bisnis seperti :
o Penjualan per karyawan
o Biaya kegiatan distribusi
o Pengiriman yang terlambat
o Tingkat penolakan (rejects)
o Luas gudang
o Waktu yang diperlukan untuk satu kali proses
o Waktu untuk melayani pesanan
o Waktu yang diperlukan untuk memperkenalkan produk baru
o Jumlah perubahan yang terjadi pada perekayasaan

Siapa yg dapat dibenchmark ?
• Depertemen atau divisi lain
• Pesaing
• Industri lain yg berbeda

Siapa yg akan dilibatkan ?
• Para karyawan – yang mengetahui dengan baik tentang proses dan dapat mengevaluasi peningkatan yang potensial
• Para manajer – dapat menyiapkan kepemimpinan dan dukungan, dan
bertanggung jawab bagi strategi dan proses komunikasi
• Dukungan eksternal – Dapat menyediakan fasilitas bagi ahlinya, pemindahan keahlian ke dalam organisasi dan membantu belajar mengenai keorganisasian

2 Jenis Proses Dalam Organisasi
• proses inti yaitu bahwa proses tersebut merupakan proses dasar untuk menuju ke tujuan strategis organisasi, contoh pabrik.
• proses pendukung yaitu bahwa proses tersebut mendukung kegiatan infrastruktur organisasi, contohnya SDM.

Keempat dimensi dari pengukuran proses adalah :
• Produktivitas
• Kualitas
• Pengiriman/Ketetapan waktu
• Pembaharuan

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum, selama, dan setelah memulai prakarsa benchmarking.
1. Adakah kesenjangan kinerja didalam organisasi anda?
2. Komitmen dari atasan.
3. Team kerja benchmarking kita memerlukan satu atau dua orang yang mau bertindak sebagai fasilitator bagi tim kerja itu.
4. Sindrom potong kompas, mengharapkan terlampau cepat bila memecahkan persoalan.
5. Memadukan benchmarking dengan upaya mutu terpadu lainnya.
6. Proses bisnis internal harus akrab dengan proses-proses bisnis didalam organisasi.
7. Melaksanakan penelitian bencmarking

Proses bencmarking
1. Mengidentifikasi subyek benchmarking
2. Mengidentifikasi perusahaan-perusahaanpembanding.
3. Menentukan metode pengumpulan data dan mengumpulkan data.
4. Menentukan kesenjangan pesaingan yang ada.
5. Memproyeksikan kinerja masa depan.
6. Mengkomunikasikan penemuan dan mendapatkan pengakuan.
7. Menetapkan sasaran-sasaran berdasarkan fungsi.
8. Mengembangkan rencana kegiatan.
9. Menerapkan rencana dan memantau kemajuan.
10. Menyesuaikan kembali ukuran Benchmarking.

Kunci untuk melakukan benchmarking yang berhasil
1. Pahami dahulu proses anda sendiri dengan seksama dan menyeluruh.
2. Kunjungan jangan direncanakan sebelum penelitian diatas meja cukup dilakukan untuk memperoleh informasi perusahaan yang terbaik.
3. Fokusnya harus pada penerapan terbaik bidang industri.
4. Harus ada kemauan membagi informasi, kunjungan timbal balik direncanakan bila mana perlu.
5. Informasi peka selalu dijaga kerahasiaannya.
6. Jangan memusatkan pada hasil akhir, praktek dan prosesnya yang perlu dipahami.
7. Benchmarking harus merupakan proses yang berkesinambungan

Keuntungan Benchmarking
• Meningkatkan mutu organisasi
• Mengantar ke posisi “hemat biaya”
• Menciptakan keterlibatan untuk Merubah
• Memaparkan ide baru dan memperluas sudut pandang
• Meningkatkan kepuasan karyawan lapangan Mempertinggi tingkat maksimum potensi kinerja organisasi
• Kepuasan relasi

@_pararaja

Ir. Sugiono
Electric Fuel Treatment, konsep desainnya mengacu pada metoda Magnetic Resonance Imaging (M.R.I) yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas bahan bakar Solar dan biodiesel sehingga kinerja motor bakar diesel menjadi lebih baik. Dengan menggunakan alat ini, penghematan BBM pada motor bakar diesel mencapai 5~20% dan manfaat lain yang diperoleh selain hemat BBM, juga meningkatkan power mesin, mengurangi kadar emisi gas buang Hidro carbon (HC), Carbon Monoksida (CO) berikut menekan opasitas (Asap gelap) .
Metoda alat ini telah didaftarkan dan dalam proses memperoleh Hak Paten dari Departemen Kehakiman dan HAM RI atas nama LIPI No.P00200400434.
Fungsi kerjanya Electric Fuel Treatment adalah merubah sifat asli BBM yang rantai molekul hidrokarbonnya masih menggumpal diresonansi menjadi terbuka , sehingga oksigen yang masuk dari filter udara lebih banyak dari yang semula (artinya oksigen harus bersih dan bebas dari kotoran debu). Dari proses ini jumlah BBM yang tidak terbakar lebih sedikit dari sebelumnya, ini artinya power yang diperoleh oleh mesin menjadi meningkat dan emisi gas buangnya menjadi menurun.
Kegunaan dari EFT apabila dipasang pada genset :
• Meningkatkan sifat bahan bakar menjadi lebih efisien pada berbagai type genset
• Meningkatkan power mesin dan mengurangi getaran mesin
• Mengurangi emisi gas buang, serta mengurangi pemeliharaan sistem injection dan mencegah timbulnya kerak pada ruang bakar.

Type-type EFT dapat dipasangkan ke beberapa spesifikasi genset di antaranya :
EFT 110 LHD untuk genset 80 HP dengan dia pipa input BBMnya ialah 9 mm dan EFT 135 LHD untuk genset 120 HP, dia pipa input BBMnya 12 mm, sedangkan untuk genset di atas 120 HP, maka EFT 135 LHD dipasang lebih dari satu dengan cara seri.
Harapan yang di inginkan adalah emisi gas buang menurun, power engine bertambah dan Spesific Fuel Consumption (SFC) menurun dalam satuan gr/kw.jam.
@_pararaja

Oleh : Achmad faisol

Almarhum ayah penulis pernah memberi nasihat, “Di sebuah kepanitiaan, umumnya terdapat dapartemen/seksi yang otomatis ada walaupun tidak dibentuk, yaitu seksi nyacat (bahasa Jawa, artinya komplain)… Hal ini layaknya sebuah template bagi pembentukan sebuah kepanitiaan…”

Nasihat itu memang benar adanya. Ketika penulis menjadi ketua remaja masjid Roudhotul Jannah, Kutisari Utara—Surabaya, berbagai bentuk saran, kritik dan komplain cukup sering penulis dapatkan. Bagi penulis, semua kritik adalah sarana untuk memperbaiki diri.

Namun, ada juga komplain yang menurut penulis saat itu termasuk kategori “agak lucu”. Komplain berasal dari orang yang tidak terlibat dalam kegiatan. Tapi, ketika diajak untuk aktif agar bisa turut serta memperbaiki secara kongkret, tidak mau ikut.

Memang, kita seringkali hanya pandai memberi saran, menyampaikan kritik dan mengajukan komplain. Tetapi, tak ada langkah nyata yang kita lakukan kecuali hanya berkata-kata. Kita menginginkan orang lain ‘tuk memperbaiki diri, namun kita lupa bahwa diri kita pun perlu perbaikan.

أَتَأْمُرُوْنَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri? (QS al-Baqarah [2] : 44)

Al-birr adalah segala perbuatan baik.
Al-birr adalah penyucian jiwa.
Al-birr adalah kebersihan hati.
Al-birr adalah keshalehan.

Kenapa kita memberi nasihat orang lain sedangkan kita tidak menjalankannya? Kita peringatkan orang lain sedang kita tidak ingat. Kita menganjurkan orang lain untuk berbuat baik sedang kita tidak melakukannya. Kita mencegah orang lain untuk berbuat jahat sedangkan kita melakukannya. Indah kata-kata kita, tetapi buruk perbuatan. Ucapan kita bagus tapi diri sendiri gersang dari kebajikan dan hidayah. Ibnu Rumi berkata :

Di antara keanehan zaman adalah
Engkau menginginkan orang lain sopan
Tapi engkau sendiri bertindak tidak sopan

Penulis teringat sebuah konsultasi di radio. Seseorang mengadukan permasalahannya, “Saya pusing baca koran tiap hari. Ada saja berita yang membuat saya agak naik darah karena ternyata banyak orang tidak becus mengurus tanggung jawab yang diemban. Bagaimana solusinya agar saya tidak dipusingkan oleh pemberitaan-pemberitaan yang ada?”

Sang konsultan menjawab, “Kita sering berlaku sebagai gubernur dunia. Setiap ada permasalahan langsung kita komentari. Bahkan kejadian-kejadian di luar negeri pun tak luput dari komentar dan komplain kita. Oleh karena itu, kurangilah pekerjaan kita sebagai gubernur dunia.”

Sungguh, sebuah jawaban sederhana tapi sangat mengena. Kita memang pandai sekali berkomentar, sampai-sampai sebuah anekdot telah disebar-luaskan, “Menjadi komentator, memang kita ahlinya.” Saking ahlinya, sebuah komentar bisa disampaikan secara berapi-api bahkan dengan nada emosi. Ya, itulah salah satu spesifikasi teknis keterampilan kita.

Sebenarnya, pesan-pesan kebajikan telah disampaikan kepada kita. Nasihat agar kita lebih melihat kekurangan diri daripada mengurusi aib orang lain telah kita dapatkan. Namun, mengapa semua nasihat itu berhenti hanya sebagai pengetahuan?

Mengapa berbagai nasihat itu tidak mengubah perilaku kita? Mengapa kita bisa berkomentar “Kuman di seberang lautan tampak jelas tapi gajah di pelupuk mata tak tampak”, namun hal itu sebatas ucapan dan retorika semata? Mengapa kita bangga bila disebut pintar, cerdas serta berwawasan luas padahal hakekatnya kita jauh dari apa yang kita katakan? Bukankah itu berarti sekadar kamuflase belaka?

Mari kita bersama-sama muhasabah (introspeksi) diri sendiri, tak perlulah mencari siapa orang yang berjuluk “tukang komplain.” Mari kita tanya diri sendiri, adakah kita termasuk anggota kumpulan orang yang senang mengkritik? Adakah kita termasuk orang yang bisa melihat kekurangan orang lain, sementara kesalahan sendiri kita abaikan, dengan dalih kekeliruan kita termasuk kategori mukhaffafah sehingga mudah dimaafkan dan kurang perlu dihiraukan?

Dengan pesatnya pertumbuhan industri – industri di Indonesia maka air limbah industri perlu perhatian yang ekstra hati – hati.

Air imbah industri dapat merupakan campuran komplek mengandung zat –zat tertentu, baik organic maupun anorganik.

Susunan kimia dari limbah industri tergantung pada jenis bahan yang diproses dan zat – zat yang dipakai dalam proses tersebut.

Untuk mempermudah pemantauan perlu mengetahui karakteristik air limbah industri. Tabel dibawah ini menunjukan beberapa contoh jenis limbah cair pada industri

Table : limbah cair dari industri

Jenis Industri

Jenis Limbah

Farmasi

Roti

Gula

Bir

Pengolah susu

Makanan dalam kaleng

Semen

Plastik dan bahan sintetis

Detergen

Pulp dan kertas

Kulit

Tekstil

BOD, suspensi solid, vitamin.

BOD, lemak gula.

BOD, COD, suspensi solid, total dissolved solid, ammonia,panas (suhu.)

BOD, nitrogen, pati, alcohol,.

BOD, COD, total dissolved solid, pH, sulfida.

BOD, suspensi solid, koloid, pH, minyak, bakteri, klorida

Total dissolved solid, suspensi solid, pH, panas (suhu).

BOD, COD, suspensi solid, logam – logam

BOD, COD, suspensi solid, minyak dan lemak, pH, detergen.

BOD, COD, suspensi solid, total dissolved solid, zat warna, zat pengisi, ammonia, pH, bakteri.

BOD, COD, total solid, pH, sulfida, krom.

BOD, COD, zat warna, pH, suspensi solid, detergen, minyak, logam – logam, panas, bau.

Dari table tersebut di atas diketahui bahwa :

Secara umum parameter yang digunakan dalam pencemaran air antara lain, Kebutuhan Oksigen Biologi (KOB = BOD) Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK = COD), bentos dan plankton, ditambah dengan karakteristik air buangan industri yang bersangkutan.

Pengukuran adanya pencemaran air buangan industri, domestik, dan air buangan dari aktivitas lainnya, dilakukan secara kimia, biologi, dan fisika.

Berat ringannya pencemaran, tergantung dari banyaknya buangan, jenis buangan dan jumlah air yang menampungnya.

PENGERTIAN NARKOBA
1. Narkotika
Istiah narkotika berasal dari bahasa Inggris “Narcotics” yang berarti obat bius, sama artinya dengan “Narcosis” dalam bahasa Yunani yang berarti menidurkan atau membiuskan. Secara umum pengertian narkotika adalah : suatu zat yang dapat menimbulkan perubahan perasaan, suasana pengamatan/penglihatan karena pengaruhnya terhadap susunan saraf pusat.
Dalam Undang-Undang RI No 22/1997 tentang narkotika, yang termasuk narkotika adalah:
 Tanaman Papaver Somniverum, Opium mentah, Opium masak, Opium obat, Morfina.
 Tanaman Koka, daun Koka, Kokaina mentah, kokaina, Ekgonina
 Tanaman Ganja, daun Ganja
 Garam-garam dan turunan dari Morfina dan Kokaina.
 Bahan-bahan lain baik ilmiah maupun sintetic yang dapat dipakai sebagai pengganti Morfina dan Kokaina.
 Campuaran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan dalam a,b dan c yang secara keseluruhan dibagi atas tiga golongan (I, II dan
2. Psikotropika
Psikotropika bukan narkotika, tetapi memiliki efek samping dan bahaya yang hampir sama dengan narkotika. Secara umum Psikotropika adalah obat yang dapat menyebabkan ketergantungan, menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan saraf pusat yang dapat menimbulkan kelainan tingkah laku disertai dengan timbulnya halusinasi, ilusi dan gangguan cara berfikir.
Jenis-jenis narkotika antara lain:
 Depressant : bekerja mengendorkan atau mengurangi aktivitas susunan saraf pusat, contoh: Sedati (pil KB),Rohipnol,Mogadom,Valium.
 Stimulat : bekerja mengaktifkan kerja susunan saraf pusat, contoh: amphetamine dan turunannya (ecstacy).
 Ecstacy : Merupakan obat yang sangat populer di kalangan para remaja Indonesi. Nama lain ecstacy dipasaran adalah : Ice, Adam, Eva, Flash, Dolpin, Dollar dll. Dimana dikalangan Interpol dikenal sebagai obat rekayasa (Drug Disigner) yang bersifat stimulatia (zat yang dapat meningkatkan daya tahan psikis dan phisik.
 Halusinogen: bekerja menimbulkan perasaan halusinasi atau khayalan, contoh: Lysergid Acid Diethylamide (LSD).
3. Bahan Berbahaya
Yang dimaksud bahan berbahaya, yaitu: bahan kimia meledak, mudah menyala/terbakar (minuman keras/spritus),oksidator,racun korosif (kosmetik/alat kesehatan), timbulkan iritasi, sentilasi luka dan nyeri, timbulkan bahaya elektronik, karsinogentik dan mutagenic (Zat pewarna/pemanis), etiologik/biomedik.
DAMPAK PENYALAH GUNAAN NARKOBA
1. Aspek Yuridis
Tindak Pidana narkotika
Sangsi bagi pelaku penyalahgunaan narkotika sesuai UU. 22 Th 11997, diklasifikasikan sebagai berikut:
 Sebagai pengguna dikenakan ketentuan pidana pasal 78 dengan pidana 4 tahun.
 Sebagai pengedar dikenakan ketentuan pidana pasal 81 dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun/seumur hidup/mati + denda.
 Sebagai produsen dikenakan ketentuan pidana pasal 80 dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun/seumur hidup/mati + denda.
Tindak Pidana Prikotropika
Sangsi bagi pelaku penyalahgunaan Prikotropika menurut UU No. 5 tahun 1997 sebagai berikut:
 Sebagai pengguna dikenakan ketentuan pasal 59 dan 62 dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun, maksimal 15 tahun + denda.
 Sebagai pengedar dikenakan ketentuan pasal59 dan 60 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun + denda.
 Sebagai prodosen dikenakan ketentuan pasal 80, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun + denda.
2. Aspek Medis
Kesehatan
Gangguan kesehatan yang bersifat kompleks diantaranya : merusak organ tubuh seperti jantung, ginjal, susunan saraf pusat, paru-paru dll, bahkan sampai pada kematian.
Mental
Merubah sikap dan prilaku secara drastic, karena gangguan persepsi daya piker, kreasi dan emosi sehingga perilaku menjadi menyimpang dan tidak mampu hidup secara wajar.
3. Aspek Sosial
Terhadap Pribadi
 Merubah keperibadian secara drastic, pemurung, pemarah dan tidak takut dengan siapapun.
 Timbul sikap masa bodoh,lupa sekolah ,rumah,tempat tidur.
 Semangat belajar/bekerja turun bahkan dapat seperti orang gila.
 Tidak ragu melakukan sex bebas karena lupa dengan norma-norma.
 Tidak segan-segan menyiksa diri untuk menghilangkan rasa nyeri atau menghilangkan sifat ketergantungan obat bius.
 Pemalas bahkan hidup santai.
Tehadap Keluarga
 Tak segan mencuri uang/ menjual barang di rumah untuk beli narkoba.
 Tidak menghargai barang milik di rumah, seperti memakai kendaraan sembrono hingga rusak bahkan hancur sama sekali.
 Mengecewakan harapan keluarga, keluarga merasa malu di masyarakat.
Terhadap Kehidupan Sosial
 Berbuat tidak senonoh (jahil/tidak sopan) terhadap orang lain.
 Tak segan mengambil milik tetangga untuk tujuan yang sama.
 Mengganggu ketertiban umum,seperti mengganggu lalu lintas.
 Menimbulkan bahaya bagi ketentraman dan keselamatan umum misalnya tidak menyesal bila melakukan kesalahan.
FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NARKOBA
a. Lingkungan
Faktor lingkungan menyangkut teman sebaya, orang tua,dan remaja (individu) itu sendiri.Pada masa remaja, teman sebaya menduduki peran utama pada kehidupan mereka, bahkan menggantikan peran keluarga/orang tua dalam sosialisasi dan aktivitas waktu luang dengan hubungan yang bervariasi dan membuat norma dan sistim nilai yang berbeda.
Faktanya: Pada masa remaja terjadi jarak fisik dan Psikologis yang cendrung berakibat penurunan kedekatan emosi,dan kehangatan, bahkan cendrung timbul konflik remaja denganorang tua. Konflik keluarga membuat remaja tergantung pada teman sebaya uantuk dukungan emosi.
b. Faktor Individu
Selain faktor lingkungan,peran genetik juga merupakan komponen yang berpengaruh terhadap penyalahgunaan narkoba, setidaknya untuk beberapa individu. Sederhananya, orang tua pelaku penyalahgunaan narkoba cendrung menurun kepada anaknya, terlebih pada ibu yang sedang hamil.
Contoh: Variabel Intra Individu : Seperti agresifitas, pemberontak, kurang percaya diri.
Satu studi menunjukan bahwa agresi pada anak kelas 1 SD terlibat penggunaan narkoba pada usia 10 tahu kemudian. Kecemasan dan depresi juga berpengaruh terhadap penyalahgunaan narkoba.
Faktor-faktor individu lainnya adalah: Sikap positif terhadap “minum*quot;. Sifat mudah terpengaruh, kurangnya pemahaman terhadap agama, pencarian sensasi atau kebutuhan tinggi terhadap “excitment”.
c. Faktor Teman Sebaya
Teman sebaya memiliki pengaruh yang paling dasyat terhadap penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Anak dari keluarga baik-baik, nilai sekolah baik, lingkungan baik cenderung telibat narkoba jika teman-temannya menggunakan narkoba.
d. Faktor Sekolah, Kerja, dan Komunitas
 Kegagalan Akademik
 Komitmen rendah terhadap sekolah : datang sekolah hanya untuk ketemu teman , merokok, lalu bolos.
 Transisi sekolah : peralihan jenjang sekolah yang berakibat penurunan prestasi memberi andil dalam penyalahgunaan narkoba.
e. Faktor komunitas
Biasanya akibat : komunitas permisif terhadap hukum dan norma, kurang patuh terhadap aturan,status sosial ekonomi.
STRATEGI PENANGANAN
Secara prinsip penangulangan penyalahgunaan narkoba akan lebih baik dan efektif jika dilakukan sejak dini (upaya preventif) secara simultan dan holistik,yaitu sinergi peran keluarga/orang tua, masyarakat termasuk pemuda, aparat kepolisian dan individu pemakai yang bersangkutan.
Faktor-faktor penyebab merupakan demand yang mempengaruhi orang menjadi pemakai.Sementara produsen dan pengedar bertindak sebagai supply. Ini merupakan mata rantai yang harus diputus sebagai upaya penanggulangannya. Keluarga dan masyarakat mungkin lebih tepat melakukan penanganan dari aspek demandsupply. Upaya teknis yang dapat dilakukan berdasarkan aspek demand antara lain sebagai berikut: sementara aparat kepolisian dapat terfokus pada Pendektesian Terhadap Anak.
 Perhatikan perubahan pada diri si anak (bohong,bolos,bengong bego, dan bodoh);
 Perhatikan prestasi, aspirasi dan masalh yang ada di sekolah.Perhatikan kegiatan keagamaan si anak dan harga diri si anak.
 Perhatikan perubahan emosi dan hubungan anak dan orang tua.
Pendekatan Psikologis
Faktor Individu
 Ciptakan hubungan akrab dalam keluarga.
 Ciptakan kesadaran bahwa keberhasilan dan kegagalan merupakan usaha sendiri, orang lain hanya Fasilitator
 Libatkan secara intensip si anak terhadap aktivitas keagamaan.
Faktor Keluarga
 Ciptakan keharmonisan dalam keluarga , hilangkan jarak antara orang tua dengan membangun suasana demokratis.
 Ciptakan komunikasi yang produktif dan terapkan aturan yang jelas.
Faktor Teman Sebaya, Sekolah dan Lingkungan
 Perhatikan prestasi belajar anak dan terus memberi semangat.
 Cermati latar belakang dan prilaku teman-teman terdekat si anak.
 Cermati jika ada perubahan kebiasaan si anak dari biasanya.
 Lakukan pengawasan terhadap alat-alat sekolah, jikalau ada hal yang aneh.
PERAN PEMUDA
a. Penting sekali menumbuhkan kesadaran akan bahayanya penyalahgunaan narkoba, sehingga paling sedikit dapat memproteksi diri dari pengaruh luar (ajakan teman).
b. Penting sedikit mengenal dan memahami apa itu narkoba, agar tahu mana sesuatu yang berbahaya sehingga memperkecil diperdaya orang.
c. Menjadi yang terdepan dalam keluarga untuk menghidarkan anggota keluarga dari bahaya penyalahgunaan narkoba, jangan sebaliknya menjadi pelaku.
d. Menumbuhkan gagasan-gagasan dalam bentuk kegiatan positif (kreatif) yang dapat mengalihkan perhatian teman-teman sebaya untuk terpengaruh oleh narkoba.
e. Dapat menjadi mitra aparat, setidaknya sebagai informasi terhadap indikasi penyalahgunaan narkoba

I Ketut Gde Adi Saputra. 2007”Peran Generasi Muda Dalam Penanggulangan Bahaya Narkoba”.Bali : BITD-Kerta Sabha

Oleh : Kunadar

Ujian nasional atau UN 2007 memang telah berakhir. Dilaksanakan di tengah protes dari beberapa kelompok masyarakat yang menentangnya, pemerintah tetap berkeyakinan bahwa UN bisa dijadikan alat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
UN yang menelan dana ratusan miliar rupiah itu oleh banyak kalangan memang dipertanyakan signifikansinya terhadap peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air. Pertanyaan besar yang muncul itu adalah sebagai berikut.
Apakah UN yang hanya menguji tiga mata pelajaran lalu bisa dijadikan alat untuk mengukur mutu pendidikan? Apakah dengan menjadikan salah satu pelajaran dari tiga mata pelajaran yang di-UN-kan sebagai persyaratan kelulusan seorang peserta didik memenuhi unsur keadilan? Benarkah UN dapat mendorong semangat belajar siswa?
Tidak signifikan
Harapan UN dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yang dianggap masih rendah sepertinya kurang memiliki signifikansi. Pertama, UN yang hanya menguji tiga mata pelajaran tidak serta-merta dapat dijadikan indikator tentang mutu pendidikan.
Menjustifikasi mutu pendidikan hanya dari tiga mata pelajaran merupakan sikap kurang bijaksana dan terlalu menyederhanakan persoalan. Untuk mengukur standar mutu pendidikan harus dilihat struktur pendidikan secara menyeluruh, termasuk non-akademis, input, proses dan output bahkan out come pendidikan.
Meningkatkan mutu pendidikan tentu tidak sesederhana hanya dengan menguji tiga mata pelajaran lalu dijadikan generalisasi dan justifikasi tentang mutu pendidikan. Sudah saatnya pemerintah menempatkan semua mata pelajaran secara sama (tidak menganakemaskan mata pelajaran tertentu dan memarjinalkan mata pelajaran yang lainnya).
Di lapangan sering terjadi kecemburuan antara mata pelajaran yang masuk UN dan mata pelajaran yang tidak masuk UN. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, dengan hanya tiga mata pelajaran yang diujikan dalam UN, mengakibatkan para guru dan siswa memfokuskan pada latihan bagaimana menjawab soal-soal ujian nasional tanpa memaknai secara mendalam mata pelajaran tersebut dari segi struktur keilmuan. Hal ini bisa menyebabkan anak kurang semangat untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak di-UN-kan, sebab biasanya mata pelajaran non-UN mudah untuk lulus.
Kondisi ini bisa menyebabkan sekolah beralih fungsi dari wahana internalisasi nilai-nilai positif menjadi hanya sebagai bimbingan belajar untuk tiga mata pelajaran yang di-UN-kan. Kalau hal ini terjadi, berarti UN telah mengebiri hakikat pendidikan.
Kedua, dengan standar kelulusan nilai rata-rata 5,00 untuk tiga mata pelajaran yang di-UN-kan sulit dijadikan parameter peningkatan mutu pendidikan. Bagaimana bisa mutu pendidikan dikatakan meningkat dengan standar kelulusan yang rendah.
Ketiga, dalam penyelenggaraan UN ada indikasi terjadi rekayasa hasil UN di lapangan. Tradisi kelulusan 100 persen seolah “menghipnotis” para pelaku pendidikan di lapangan, terutama guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan agar siswanya dapat lulus 100 persen. Maka, dibentuklah “tim sukses” dengan tugas agar tingkat kelulusan UN bisa mencapai 100 persen. Kesan adanya “mark up” nilai dalam UN sulit dihindari.
Tradisi kelulusan 100 persen sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan karena tidak mendorong siswa untuk belajar keras dan guru untuk bekerja keras. Guru tidak tertantang oleh keadaan untuk lebih mempersiapkan diri sebelum masuk ruang kelas. Tidak ada budaya kompetisi, baik bagi siswa maupun guru sebab nantinya juga lulus 100 persen. Seolah-olah guru, kepala sekolah, dan pihak-pihak lain yang berkecimpung dalam dunia pendidikan malu kalau siswanya banyak yang tidak lulus.
Ada budaya malu untuk mengakui kekurangan diri sendiri. Ada kekhawatiran melalui hasil UN akan menunjukkan lemahnya kinerja dan kompetensi para praktisi pendidikan di lapangan selama ini. Alhasil, ada kesan bahwa selama ini ada upaya mengadakan manipulasi terhadap hasil UN.
Perubahan paradigma
Harapan pemerintah agar UN dapat dijadilan alat untuk meningkatkan mutu pendidikan dapat terwujud jika pemerintah dan pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mampu berpikir dan bertindak secara proporsional dan profesional dalam pelaksanaan UN. Pihak pemerintah—melalui Departemen Pendidikan Nasional— harus merancang sistem ujian atau penilaian yang sistematis, bertahap dan berkelanjutan.
Sistem penilaian harus dapat difungsikan untuk mendeteksi potensi dan kompetensi siswa sekaligus bisa memetakan kompetensi guru dalam keberhasilan pembelajaran di kelas. Hasil UN juga harus ditindaklanjuti dengan berbagai program yang dapat meningkatkan mutu pendidikan secara komprehensif.
Sistem penilaian (UN) harus mampu memberi informasi yang akurat, mendorong siswa untuk belajar, memotivasi guru dalam pembelajaran, meningkatkan kinerja lembaga, dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan sistem penilaian yang demikian diharapkan secara berangsur namun pasti mutu pendidikan di Tanah Air akan meningkat.
Di lain pihak, para praktisi pendidikan di lapangan—terutama guru dan kepala sekolah—harus meningkatkan kompetensi dan kinerjanya sehingga kualitas pembelajaran di kelas akan meningkat dan pada gilirannya akan meningkatkan mutu pendidikan. Dengan demikian, standar kelulusan dapat ditingkatkan ke angka yang rasional sehingga dapat dijadikan parameter untuk mengukur mutu pendidikan nasional.
Di sisi lain, para siswa dan orangtua juga perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa untuk mencapai hasil yang memuaskan harus ditempuh dengan kerja keras. Anggapan dalam ujian pasti lulus 100 persen harus dihilangkan dari pikiran siswa dan para orangtua.
Kalau semua pihak sudah pada pemikiran, kesadaran, dan tindakan yang sama, maka mutu pendidikan di Indonesia perlahan-lahan namun pasti akan meningkat. Upaya peningkatan mutu pendidikan nasional tidak bisa ditempuh dengan cara parsial, tetapi harus holistik dengan melibatkan semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan dengan didukung sarana dan prasarana yang memadai.
Kunadar Widyaiswara di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) DKI Jakarta, Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas

Djuanda Suraatmadja D, Dicky R Munaf, B Lationo, dan A Cahyani
Departemen Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung
Beberapa kekurangan beton yang menggunakan semen portland sebagai matriks pengikat antara lain ialah waktu pengikatannya lamban, kekuatan tariknya rendah, penyusutan setelah mengeras cukup besar, serta tidak tahan terhadap agresi kimia. Proses pembuatan semen portland banyak memerlukan material bumi yang tidak terbarui (kapur, lempung, pasir besi). Untuk mengantisipasi kekurangan tersebut telah diteliti beberapa sifat mekanis statis dan dinamis terhadap beton yang disusun dari matriks polimer sebagai pengikat agregat kasar, agregat halus, dan filler.
Untuk agregat kasar digunakan batu andesit pecah mesin dari Banjaran kering oven yang memiliki diameter maksimum 20 mm (C 136-92), bobot jenis kering 2.44 (C 127-88), serapan 4.475% (C 127-88), bobot isi 1.1440 kg/m3 (C 29/C 29M-91a), gradasi memenuhi spesifikasi (C 33-92), modulus kehalusan 6.56 (C 33-92a). Untuk agregat halus digunakan pasir gunung api Galunggung kering oven yang memiliki bobot jenis kering 2.225 (C 128-93), serapan 9.04% (C 128-93), bobot isi 1.516 kg/m3 (C 29/C 29M-91a), kadar lumpur 5.82% (C 87-83/Reapproved 1990), gradasi memenuhi spesifikasi (C 33-92a), modulus ketahanan 2.57 (C 33-92a). Filler diproduksi dari penghancuran batu bata kering oven menggunakan mesin abrasi Los Angeles. Hancuran bata ini kemudian diseparasi menggunakan separator Baldor menurut ukuran-ukuran 0.075, 0.15, dan 0.30 mm. Dalam kajian ini telah digunakan bata dari 3 sumber komersial Garut (warna merah terang, kuat tekan 2.44 MPa, bobot jenis 2.304, bobot isi kering 1.046 kg/m3), Nagrek (warna merah terang, kuat tekan 4.91 MPa, bobot jenis 2.53, bobot isi kering 857 kg/m3), dan Sapan (warna merah terang, kuat tekan 6.57 MPa, bobot jenis 2.551, bobot isi kering 1.013 kg/m3). Untuk polimer digunakan 2 jenis, yaitu resin poliester takjenuh dari polietilena tereftalat daur-ulang yang mempunyai bobot isi (1.05-1.3) x 103 kg/m3, kuat tekan 90-250 MPa, kuat tarik 30-90 MPa, modulus elastisitas Young 1.5-6 MPa, dan monomer stirena yang mempunyai bobot isi (1.0-1.1) x 103 kg/m3, kuat tekan 70-150 MPa, kuat tarik 45-90 MPa, modulus elastisitas 2.0-5.0 GPa. Larutan kobalt naftenat 12% digunakan sebagai promoter, dan metil etil keton peroksida digunakan sebagai initiator. Proporsi campuran yang digunakan ialah agregat kasar 45%, pasir dan bahan pengisi 40%, filler 12% atau 20%, matriks 15%.
Dari hasil penelitian ini diperoleh parameter-parameter fisik dan mekanis sebagai berikut: waktu pengerasan 15 menit, bobot isi (γ) 2200kg/m3 , fc 53.40 MPa, f 3.17 MPa, E 4421.80 MPa, µ 0.17, kehilangan bobot akibat abrasi 0.03 g, indeks daktilitas struktur balok 0.12 dengan model keruntuhan lentur bila ρ 1.05%, diagonal tekan bila ρ 1.77%, diagonal tarik bila ρ 2.68%.
Kadar polimer pengikat efektif di dalam beton polimer berkisar 10-25%. Setelah 84 hari di dalam rendaman larutan 10% H2SO4 mortar polimer bata (fc 79.41 MPa) bobotnya berkurang 0.5% dan kuat tekannya meningkat 27.4%, di dalam rendaman larutan 10% HCl bobotnya berkurang 0.3% dan kuat tekannya meningkat 18.0%, di dalam rendaman larutan 10% NaOH bobotnya bertambah 3.1% dan kuat tekannya berkurang 18.2%, di dalam rendaman larutan 10% NaCl bobotnya bertambah 0.3% dan kuat tekannya berkurang 3.8%.
Setelah 84 hari di dalam rendaman larutan H2SO4 kemudian diabrasi, mortar polimer bata bbotnya berkurang 0.08 g, demikian halnya dengan di dalam rendaman larutan 10% HCl dan di dalam larutan NaCl 10%, di dalam larutan 10% NaOH bobotnya berkurang 0.57 g. Modulus of rupture sekitar 11.29 MPa, besaran uji lelah terhadap mortar polimer bata beban maksimum 6950 N dengan defleksi maksimum 9.9 mm dan jumlah siklus N = 49. Ketahanan tumbuk mortar polimer F = 5.23 N, penetrasi rembesan d = 0.0 mm. Material ini memiliki lekatan sangat baik dengan beton semen, pada pengujian tarik langsung terlihat daerah patahan berada pada beton semennya. Material ini mampu dicor di dalam air (antiwashout material) dengan besaran mekanis kuat tekan fc = 53.07 MPa, kuat tarik belah ft = 9.01 MPa, modulus elastisitas E= 8505 MPa, nisbah Poisson µ = 0.23. Besaran susut mortar polimer bata 0.0097 dan regangan rangkak 0.01603, serta koefisien rangkak 9.326. Besaran-besaran loss factor material komposit ber-filler bata dengan polimer 20% ialah 2.75%, sedangkan bila kandungan polimernya 25% ialah 9.50%.

Hibah Bersaing III

Sering kita kurang memahami perbedaan istilah antara iklim (climate) dan cuaca (weather).
Iklim adalah besaran rata-rata dari fenomena fisis cuaca, yaitu variasi ekstrem dari musim yang berlangusng secara lokal, regional atau global. Pada suatu daerah tertentu cuaca dapat berubah dengan cepat dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam. Perubahan ini antara lain dapat meliputi terjadinya perubahan suhu, fenomena pergeseran waktu terjadinya presipitasi, fenomena perubahan intensitas angin dan akumulasi awan. Itulah mengapa “ramalan cuaca” menjadi sangat penting, khususnya di negara-negara seperti di Eropa dan di Amerika, yang disiarkan berulang kali dalam sehari melalui radio atau televisi. Berbeda dengan cuaca, iklim dipengaruhi oleh terjadinya perubahan orbit bumi terhadap matahari, perubahan enersi matahari yang memancar ke bumi, perubahan-perubahan fenomena fisis yang terjadi di lautan dan didaratan. Jadi pada dasarnya iklim dikontrol oleh fenomena alamiah kesetimbangan enersi antara bumi dan atmosfer yang berlangsung dalam kurun waktu yang lebih lama. Sinar matahari yang sampai ke bumi (visible light) diserap oleh permukaan bumi dan oleh atmosfer. Sebagian dari energi yang diserap tersebut secara seimbang dipancarkan kembali sebagai enersi infra merah yang lebih bersifat panas. Gas karbon dioksida, metana, uap air, awan dan partikel-partikel aerosol yang terdapat di atmosfer bumi, mempunyai sifat menyerap panas dari radiasi infra merah tersebut. Dengan terjadinya peningkatan konsentrasi gas-gas tersebut di atmosfer maka lebih banyak panas yang diserap dan dipantul balikkan, sehingga menyebabkan kenaikan suhu di permukaan bumi kita. Inilah yang dinamakan efek rumah kaca (greenhouse effect).
Angin dan arus laut mendistribusikan panas ke permukaan bumi. Kondisi inilah yang kemudian meyebabkan kecenderungan terjadinya peru-bahan iklim yang ditandai dari berbagai peru-bahan fenomena alam, misalnya naiknya suhu udara, perubahan intensitas presipitasi, pergeseran dan ketidak aturan pergantian musim, perubahan tekanan udara dan lain sebagainya. Dampak dari segala perubahan tersebut akan membawa pengaruh terhadap pola kehidupan di muka bumi ini.
Seperti telah dikemukakan bahwa terjadinya efek rumah kaca disebabkan oleh sejumlah massa berupa gas atau pertikel-pertikel halus yang ada di atmosfer, misalnya gas karbon dioksida, methane uap air dan partikel-partikel halus berupa debu yang berasal dari letusan gunung berapi. Efek rumah kaca ini sebenarnya sudah terjadi sejak beratus bahkan beribu tahun yang lalu, karena uap air dan karbon dioksida secara alamiah sudah hadir secara seimbang di atmosfer bumi ini. Adanya karbon dioksida dan uap air alamiah di atmosfer yang dalam keadaan seimbang inilah yang menciptakan variasi suhu udara seperti yang kita rasakan selama ini. Sebab kalau misalnya di atmosfer ini tidak terdapat gas karbon dioksida dan uap air maka suhu udara di bumi akan menjadi 340C lebih rendah dari yang kita rasakan saat ini. Namun apabila kadar gas rumah kaca di atmosfer bumi ini meningkat terus melebihi kadar alamiahnya akibat perilaku dan tindakan manusia (external factors) maka akan diikuti peningkatan suhu udara global. Akselerasi pertambahan kadar karbon dioksida di alam ini seharusnya agak dapat dikurangi oleh vegetasi kawasan hutan dan tanaman lainnya yang memerlukan gas karbon dioksida dalam proses fotosintesa. Namun ironisnya, manusia dengan dalih ingin memper-cepat laju pembangunan justru banyak mem-babat hutan dan membuka lahan.
Aktivitas manusia yang dapat menambah kadar karbon dioksida di atmosfer adalah semua kegiatan yang dikerjakan dengan menggunakan energi dimana energi tersebut diperoleh dari pembakaran bahan fosil, seperti batubara, minyak bumi dan gas alam. Sebagai produk samping utama dari energi yang diperoleh dari pembakaran bahan fosil tersebut adalah gas karbon dioksida yang makin lama akan makin memenuhi atmosfer bumi. Berapa banyak gas karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer bumi dapat di-ilustrasikan dengan data pada kondisi pada tahun 1997. Pada tahun 1997 tersebut telah diproduksi 5,2 milyard ton batubara, 26,4 milyard barrel minyak bumi dan 81,7 triliun kubik feet gas alam. Apabila bahan-bahan fosil tersebut dibakar untuk memperoleh energi maka akan dihasilkan karbon dioksida sebanyak 6,2 milyard metrik ton yang akan menyebar ke atmosfer bumi. Dari data yang dihimpun oleh UNEP menunjukkan bahwa kadar gas karbon dioksida di amosfer telah meningkat 31% sejak tahun 1975. Peningkatan gas karbon dioksida selama 20 tahun terakhir ini 75% berasal dari hasil pembakaran energi fosil (minyak bumi, gas alam dan batubara).
Apabila penggunaan energi fosil terus berlangsung dan makin bertambah maka akumulasi gas karbon dioksida juga akan makin bertambah. Pada saat sekarang ini kadar gas karbon dioksida di atmosfer sudah mencapai lebih dari 360 ppm. Gas ini bersama dengan uap air dan gas rumah kaca lainnya seperti metana, menyelimuti atmosfer dan menyerap serta memantul balikkan sinar infra merah yang mengandung panas yang dapat meningkatkan suhu di muka bumi.
Kondisi ini akan menyebabkan efek berantai dimana dengan meningkatnya suhu udara akan menyebabkan terjadinya peningkatan intensitas penguapan air permukaan dan air laut. Dengan meningkatnya intensitas penguapan air permukaan berarti menambah kadar uap air di atmosfer dan ini menambah konsentrasi gas rumah kaca. Dengan makin meningkatnya intensitas penguapan juga mengakibatkan meningkat dan berubahnya pola presipitasi di wilayah tertentu yang menyebabkan terjadinya banjir di suatu wilayah dan kekeringan di wilayah lainnya. Meningkatnya suhu udara secara global juga akan menyebabkan mencairnya es di kutup dan salju di pegunungan yang menyebabkan meningkatnya muka air laut dan terjadinya banjir besar di negara-negara wilayah sub tropis. Meningkatnya suhu akan menyebabkan juga terjadinya penurunan kadar air tanah (soil moisture content), sehingga tanah menjadi cepat kering dan memerlukan lebih banyak air untuk irigasi pertanian. Apabila kondisi tersebut berlangsung terus, apalagi kalau makin meningkat, maka akan terjadi apa yang dinamakan perubahan iklim (climate changes).
Pada abad ke 20 ini suhu udara di bumi rata-rata meningkat 0,6 ± 0,20C. Tahun 1998 adalah merupakan tahun terpanas sejak 1861. Antara tahun 1950 – 1993 suhu udara minimum pada malam hari naik 0,20 C setiap dekade. Akibat dari kenaikan suhu udara ini dari foto satelit diketahui bahwa sejak tahun 1960 luasan hamparan salju di wilayah kutub dan sekitarnya telah menyusut 10 %. Demikian pula ice cover di pegunungan-pegunungan juga mengalami penyusutan. Dari data paras air laut dicatat bahwa paras air laut pada abad 20 ini telah meningkat antara 0,1 – 0,2 m.
Pada bulan Februari 2001 UNEP (United Nations Environmental Programme) dan WMO (World Meteorogical Organization) telah mensponsori diadakannya suatu pertemuan para ahli di Geneva Switzerland. Pertemuan tersebut dinamakan Intergovernmental Panel on Climate Change 2001 (IPCC). Ada empat topik utama dimana salah satunya adalah yang dibahas oleh Working Group II yaitu tentang: Impact, Adaption and Vulnerability of Climate Change. Dalam laporanyang dipersiapkan oleh lebih dari 70 orang tenaga ahli dari berbagai negara, secara singkat dapat dikemukakan bahwa sistem alam dan kehidupan akan terpengaruh oleh terjadinya perubahan iklim, yang dimanifestasi-kan dari gejala-gejala sebagai berikut, yaitu:
• perubahan suhu udara yang variatif
• perubahan pola dan intensitas siklus hidrologi
• perubahan jumlah dan pola presipitasi
• terjadinya extreme weather events
• meningkatnya permukaan air laut akibat mencair-nya es di kutub bumi
• perubahan kadar air tanah (soil moisture) dan kondisi sistem hidrologi pada umumnya
Dari berbagai gejala yang dikemukakan tersebut maka dampak dari perubahan iklim ini akan mempengaruhi faktor-faktor kemanusian dalam aspek kebutuhan dasar, aspek sosial dan aspek budaya. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain akan menimbulkan berbagai masalah dalam:
• Ketersediaan sumber daya air
• Sekuriti suplai pangan
• Ekosistem perairan air tawar
• Ekosistem zona kelautan
• Pemukiman penduduk, egergi dan industri
• Sistem asuransi, financial services lainnya
• terjadinya ledakan timbulnya hama (baru)
• terjadinya perubahan distribusi vektor penya-kit dan sasaran penderitanya (host)
Dari masalah-masalah yang dapat timbul sebagai akibat perubahan iklim seperti yang dikemuka-kan di atas maka sangatlah penting apabila masalah perubahan iklim ini juga dimasukkan sebagai salah satu faktor pertimbangan dalam menyusun strategi jangka panjang pengelolaan lingkungan.

*Wandowo, 2005; “Mewaspadai Terjadinya Krisis Sumber Daya Air Bersih”, P3TIR – BATAN

Oleh : Achmad faisol

Setiap kita adalah pendakwah karena kita telah dipesan agar menyampaikan kebaikan walaupun sedikit (satu ayat saja)—sesuai kemampuan kita. Dalam menyeru ke arah kebaikan, sebuah kaidah dakwah telah ditetapkan, yaitu :

إِبْدَأْ بِنَفْسِـكَ

Mulailah dari dirimu sendiri.

Bagaimana mungkin kita meminta orang lain bersikap santun sementara kita sendiri tidak menerapkannya? Bagaimana bisa kita mengharap orang lain menghargai pendapat kita apabila kita tak terlebih dahulu menunjukkan sikap menghargai pendapatnya? Bukankah selain mau‘izhah hasanah (nasihat baik) juga diperlukan uswah hasanah (contoh perbuatan baik)?

Penulis pernah mendapatkan penjelasan yang cukup sederhana mengapa kita harus memulai dari diri sendiri. Ketika penulis mengikuti sebuah pelatihan kepemimpinan, sang mentor, Mas Ahmad Heri (Surabaya), menerangkan hal ini dengan metode cerita.

Inti cerita berikut ini tetap sama dengan yang penulis dapatkan dari mentor penulis, meskipun penulis menyajikannya dengan cara berbeda. Hal ini untuk memberikan kesan kuat dalam diri kita sehingga bisa kita ambil pelajaran dan hikmah darinya. Mari kita baca cerita ini perlahan-lahan serta melarutkan diri di dalamnya.

Di sebuah desa ada seorang ustadz yang ditugaskan untuk berdakwah selama beberapa bulan. Ketika masa akhir tugas sang ustadz, kepala desa mengumpulkan semua penduduk. Beliau berkata,

“Bapak/Ibu sekalian… Esok malam kita akan mengadakan malam perpisahan dengan Pak Ustadz di balai desa… Karena desa kita penghasil madu, maka saya berharap masing-masing keluarga membawa satu botol madu terbaik yang dimiliki sebagai kenang-kenangan bagi ustadz kita.”

Selesai pengumuman, para penduduk pun berpencar pulang ke rumah masing-masing. Di sebuah ruang keluarga nan sederhana, sepasang suami-istri sedang bercengkrama membahas madu yang akan dipilih.

“Bu, menurut Bapak tidak perlulah kita berikan madu terbaik kita… Cukup madu biasa-biasa saja,” kata sang bapak memulai pembicaraan sambil sesekali menyeruput kopi panas di sampingnya.

“Tapi, Pak… Bukankah Pak Kepala Desa sudah berpesan agar madu terbaik yang kita kasihkan?” tanya si ibu sambil melanjutkan sulamannya.

“Iya, Bapak tahu… Tapi, madu terbaik itu kan bisa dijual dengan harga lebih tinggi. Toh, nanti para penduduk lain akan memberikan madu terbaik mereka. Kalau kita memberi madu biasa, tidak akan banyak efeknya, karena hanya madu kita yang biasa, sedangkan madu-madu lain adalah madu terbaik.”

Suasana sejenak berubah hening. Tak pernah terbersit sedetik pun di benak perempuan paruh baya itu untuk melanggar pesan kepala desa. Ia sebenarnya tak ingin menuruti saran pendamping hidup yang telah menemaninya selama ini, tapi argumentasi yang diberikan masuk akal juga.

Selang beberapa saat kemudian, ia pun menjawab,
“Kalau menurut Bapak itu yang terbaik, ibu setuju saja… Semoga saja penduduk lain ada yang membawa lebih dari satu botol madu terbaik mereka.”

******************

Mentari telah beristirahat di peraduannya. Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Cahaya rembulan memancar begitu teduh, terlihat laksana sebuah senyum bidadari yang menyejukkan jiwa dan meneduhkan diri. Angin berhembus semilir menambah syahdu suasana.

Balai desa tak kalah cantik. Hiasan indah telah disiapkan oleh pemuda-pemudi anggota karang taruna. Sebuah background bertuliskan kata-kata perpisahan digunting dan ditata begitu rapi dalam berbagai model huruf. Jajan pasar dan aneka gorengan lengkap dengan sambal petis serta cabe hijau tak lupa disajikan, sungguh menggoda selera setiap orang ’tuk mencicipinya. Benar-benar Mak Nyusss!!!

Sound system telah dicek berulang kali semenjak sore. Dengan suara bas, sang operator mengecek untuk terakhir kali,
“Jek, jek, jek… satu… satu…satu-dua-tiga…suara dicoba…”

Entah mengapa hitungan untuk mengetes sound system hanya segitu saja sejak zaman antah berantah. Mengapa tak ada yang memulai hitungan dari angka seribu, sejuta dan selainnya? Mengapa pula bukan “mikrofon dicoba”, tapi “suara dicoba”? Entahlah, mungkin memang konvensi itu sudah dari sono-nya. Tak ada guna dipermasalahkan, yang penting semuanya berjalan sesuai harapan.

Semua penduduk hadir di balai desa guna melepas sang ustadz yang telah membimbing mereka selama beberapa bulan terakhir. Namun, sesuatu yang kontradiktif terjadi. Madu mereka berbuah masalah. Apa yang terjadi dengan madu yang mereka kumpulkan?

Ternyata, semua penduduk membawa madu berkualitas sama, seolah sudah berembug di alam mimpi. Seakan sudah mufakat, mereka membawa madu biasa, bukan madu terbaik sebagaimana saran kepala desa. Tak ada seorang penduduk pun membawa madu terbaik produksi desa itu.

Menyaksikan perilaku warga yang tak hendak memberikan madu terbaik bagi sang ustadz, guratan kesedihan tampak jelas di wajah sang kepala desa. Air mata nan bening merayap lambat menuruni hamparan pipi yang mulai keriput dimakan usia. Beliau membenamkan muka ke arah kedua telapak tangan yang masih terlihat kuat dan kokoh. Itu semua beliau lakukan untuk menahan malu. Beliau juga merasa gagal memimpin dan mengarahkan warga.

Penduduk saling berpandangan, seolah tak percaya apa yang sedang terjadi. Sungguh, mereka tak mengira sama sekali peristiwa itu bakal mereka alami. Sontak kedua pipi mereka merona merah karena rasa malu menyerang dengan begitu sengit.

Tanpa ada yang mengomando, para hadirin membubarkan diri. Panitia kalang kabut melihat apa yang mereka tonton. Pembawa acara (MC) segera meraih mikrofon,
“Bapak/Ibu sekalian, mohon tetap menempati kursi yang telah disediakan… Acara segera kita mulai…”

Bagi penduduk, suara MC ibarat igauan orang yang lagi asyik tidur, tak ada yang menggubris. Semakin jauh, suara itu pun hilang ditelan angin. Ke manakah gerangan para penduduk desa itu?

Ternyata mereka pulang ke rumah masing-masing. Tanpa diperintah oleh siapa pun, akhirnya mereka mengambil botol-botol madu terbaik yang dimiliki. Ada yang cuma sebotol, namun tak sedikit pula yang membawa beberapa botol sebagai oleh-oleh bagi sang ustadz.

Ketika semua penduduk sampai di halaman balai desa sambil menenteng botol-botol madu terbaik mereka, senyum indah menghiasi wajah kepala desa. Lagi-lagi, air mata mengalir membasahi pipi beliau. Namun, kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia. Hati beliau benar-benar terharu-biru melihat ketulusan warga.

Saat memberikan sambutan, beliau menuturkan, “Bapak/Ibu/Saudara/i-ku sekalian… Kalau setiap kita memulai kebaikan dari diri sendiri, tidak menunggu apalagi menuntut orang lain terlebih dahulu, niscaya kualitas kehidupan kita akan jauh lebih baik…”

Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT), tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm!


Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index). Mereka meng angga p bila pemeriksaan menunjukkan hasil index yang normal berarti semua OK. Kesalahpahaman macam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter spesialis. Benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar. Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar.


Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Chuan. Tetapi ironisnya, ternyata dokter
yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat, inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.


Penyebab utama kerusakan hati adalah :
1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama
2. Pola makan yang terlalu berlebihan.
3. Tidak makan pagi.
4. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
5. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.
6. Minyak goreng yang tidak sehat! Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit.
7. Mengkonsumsi masakan mentah (sangat matang) juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3/5 ba gian . Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.
Kita harus melakukan pencegahan dengan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya,
Sebab:

@ Malam hari pk 9 – 11: adalah pembuangan zat- zat tidak berguna/beracun (de-toxin) diba gian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santai seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan.


@ Malam hari pk 11 – dini Hari pk 1: saat proses de-toxin di ba gian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.


@ Dini hari pk 1 – 3: proses de-toxin di ba gian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur.


@ Dini hari pk 3 – 5: de-toxin di ba gian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.


@ Pagi pk 5 – 7: de-toxin di ba gian usus besar, harus buang air di kamar kecil.


@ Pagi pk 7 – 9: waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 6:30. Makan pagi sebelum pk 7:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pk 9-10 daripada tidak makan sama sekali. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itu, tidurlah yang nyenyak dan jangan terlalu sering begadang.

Oleh : Sawali Tuhusetya


Tak seorang pun dapat membantah bahwa guru berada di garda depan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka telah melahirkan banyak dokter, insinyur, menteri, bahkan presiden. Tidak heran apabila guru dielu-elukan sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”.
Namun, banyak kalangan menilai, kesejahteraan guru belum sepadan dengan gelar luhur dan mulia yang disandangnya. Iwan Fals lewat lirik “Oemar Bakri” pun tersentuh hatinya menyaksikan nasib guru yang tak pernah berubah sepanjang zaman. “Datang ke sekolah membawa tas dari kulit buaya, naik sepeda kumbang di jalan berlubang, selalu begitu dari dulu waktu zaman Jepang. Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang, banyak polisi bawa senjata berwajah garang …” Sungguh ironis, sampai-sampai polisi pun tidak lagi hormat pada guru. Begitulah sosok guru Oemar Bakri di mata sang “seniman rakyat” itu. Guru tidak lagi menjadi figur yang terhormat dan berwibawa.


Zaman memang telah berubah. Pergeseran nilai menyergap di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Nilai-nilai keluhuran budi dan cerahnya akal budi (nyaris) luntur tergerus oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang cenderung memanjakan nilai konsumtivisme, materialisme, dan hedonisme. Banyak orang yang makin cuek dan masa bodoh terhadap keagungan nilai kejujuran, keuletan, atau kebersahajaan. Sukses seseorang pun semata-mata dinilai dari kemampuannya menumpuk harta, tanpa memedulikan dari mana harta itu diperoleh.


Dalam kondisi zaman yang makin memberhalakan gebyar duniawi semacam itu, profesi guru pun makin tidak dilirik dan diminati generasi muda. Secara sosial, pamor guru pun semakin redup. Kalau hanya mengandalkan penghasilannya sebagai guru, hampir mustahil seorang guru bisa hidup layak di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang kian gencar memanjakan nafsu keduniawian. Jangan heran apabila banyak guru yang terpaksa nyambi jadi tukang ojek, penjual rokok ketengan, atau calo, sekadar untuk bisa mengikuti “ombyaking zaman”.
Bagaimana mungkin seorang guru bisa menjalankan tugas dan fungsiya secara profesional kalau masih dibebani oleh thethek-mbengek urusan perut? Bagaimana mungkin seorang guru bisa menjalankan tugasnya dengan tenang dan nyaman kalau harus terus memikirkan keluarganya yang sakit akibat minimnya jaminan kesehatan? Bagaimana mungkin seorang guru bisa mengikuti laju informasi yang demikian cepat kalau tak sanggup langganan koran atau internet? Padahal, dunia ilmu pengetahuan dan informasi terus berkembang. Bagaimana bisa membikin siswa didiknya cerdas kalau dirinya sendiri buta informasi dan “gaptek” (baca: gagap teknologi)? Tidak berlebihan jika pada akhirnya mutu pendidikan di negeri ini hanya “jalan di tempat”, bahkan mengalami kemunduran.


Sungguh menarik data yang dikemukakan oleh Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Fasli Djalal, sebagaimana dilansir sebuah surat kabar nasional. Menurutnya, terdapat hampir separo dari sekitar 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah. Lebih rinci disebutkan, saat ini yang tidak layak mengajar atau menjadi guru sekitar 912.505. Terdiri atas 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA, dan 63.961 guru SMK.
Kondisi ini jelas amat kontras dengan mutu pendidikan di negeri jiran yang dulu menimba ilmu kepada bangsa kita. Konon, guru-guru di negeri jiran, seperti Malaysia atau Singapura bisa hidup lebih dari cukup hanya dengan mengandalkan penghasilannya sebagai guru. Para penguasa negeri itu benar-benar memosisikan guru pada aras yang mulia dan terhormat dengan memberikan jaminan kesejahteraan, kesehatan, dan perlindungan hukum yang amat memadai. Implikasinya, mutu pendidikan di negeri itu melambung bak meteor, makin jauh meninggalkan dunia pendidikan kita yang (nyaris) tak pernah bergeser dari keterpurukan. Hal itu bisa dilihat dari kualitas HDI (Human Development Index) negeri-negeri tetangga yang jauh berada di atas kita.

“Kemauan Politik”
Sudah banyak kalangan yang risau terhadap nasib guru. Organisasi profesi semacam PGRI, misalnya, sudah pernah “nglurug” besar-besaran ke Jakarta agar pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru. Demikian juga para pakar, pengamat, dan pemerhati pendidikan. Tak henti-hentinya mereka berteriak menyuarakan opininya melalui berbagai media massa.


Gerakan massa dan berbagai tekanan terhadap pemerintah baru surut setelah presiden dengan persetujuan DPR memutusan dan menetapkan Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada 30 Desember 2005 yang lalu. Lahirnya UU ini jelas membawa angin segar bagi guru dan dosen. Setidaknya, pemerintah sudah menunjukkan “kemauan politik” untuk mengangkat harkat dan martabat guru pada aras yang lebih terhormat.


Dalam pasal 14 ayat (1), misalnya, dinyatakan bahwa setiap guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Apakah yang dimaksud penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum? Pasal 15 ayat (1) menyatakan bahwa yang dimaksud penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi. Bahasa sederhananya, ke depan seorang guru profesional berhak mendapatkan tambahan penghasilan yang jumlahnya sangat “aduhai” untuk ukuran guru di Indonesia pada umumnya.


Bagi kebanyakan guru di Indonesia, tambahan penghasilan merupakan sesuatu yang sangat diharapkan mengingat penghasilan guru di Indonesia pada umumnya relatif rendah. Rendahnya penghasilan guru di Indonesia semakin terasa apabila dibandingkan dengan penghasilan guru di negara yang kinerja pendidikannya relatif memadai seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat (AS).


Akan tetapi, tunggu dulu! Untuk mendapatkan tambahan penghasilan yang “aduhai” itu bukanlah persoalan yang mudah. Dalam pasal 16, misalnya, ditetapkan bahwa (1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat; (2) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Itu artinya, guru yang belum memiliki sertifikat pendidik jangan bermimpi untuk mendapatkan tunjangan profesi yang setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok. Persoalannya sekarang ialah bagaimanakah cara guru untuk memperoleh sertifikat pendidik itu?


Sekarang ini sedang diperbincangkan kualifikasi guru yang dapat diuji sertifikasi; artinya tidak semua guru dapat dilakukan uji sertifikasi. Guru yang dapat diuji sertifikasi ialah guru yang memenuhi kualifikasi akademik sebagaimana diatur dalam PP dan UU; dalam hal ini PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan UU Guru.
Untuk menjadi guru SD (atau MI) misalnya. Pasal 29 ayat (2) PP SNP secara eksplisit menyebutkan pendidik (guru) pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1), b) latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan c) sertifikat profesi guru untuk SD/MI. Implikasinya ialah, untuk mendapatkan sertifikasi pendidik atau dapat diuji sertifikasi maka seorang guru SD setidak-tidaknya harus berpendidikan D-IV atau S1.


Berapakah guru SD yang telah memenuhi kualifikasi akademik D-IV atau S1? Menurut data Balitbang Depdiknas, secara nasional baru sekitar 8 persen guru SD yang memiliki pendidikan minimal sarjana. Itu berarti, dari sekitar 1,2 juta guru SD yang dimungkinkan diuji sertifikasi hanya 8 persen saja. Permasalahannya sekarang ialah bagaimana nasib guru yang 92 persen atau sekitar 1,1 juta orang jumlahnya. Di luar SD banyak guru SMP, SMA dan SMK yang bernasib sama; demikian pula dengan guru (pendidik) TK dan PAUD, meskipun dengan variasi angka yang berbeda-beda. Itu artinya, untuk mendapatkan tunjangan profesi, guru yang belum memiliki kualifikasi akademik D-IV atau S1 harus melalui perjalanan yang cuku panjang dan berliku.


Lantas, bagaimana dengan guru yang telah memenuhi syarat kualifikasi akademik?


Untuk Jawa Tengah, menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Widadi, sebagaimana dilansir Kompas (2/11/2006), pada akhir tahun 2006 sebanyak 2.000 guru dari tingkat sekolah dasar hingga menengah, dijadwalkan mengikuti program sertifikasi guru. Jumlah ini merupakan sebagian kecil dari 140.000 guru di Jawa Tengah yang perlu mendapat sertifikasi guru. Jumlah guru seluruhnya mencapai 235.000 orang.


“Kemarin kami sudah dipanggil, katanya akhir tahun ini akan ada 2.000 guru dari Jateng yang akan mengikuti program sertifikasi,” ungkapnya di Pondok Pesantren Assalaam.


Sertifikasi guru menjadi amanat Pasal 82 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mewajibkan pemerintah mulai melaksanakan program sertifikasi pendidik paling lama dua belas bulan sejak diundangkannya aturan tersebut, yakni pada akhir tahun 2005 lalu. Diharapkan dalam jangka waktu 10 tahun setelahnya, semua guru sudah memiliki kualifikasi akademik setidaknya S1 atau diploma IV dan memiliki sertifikat pendidik.


“Jawa Tengah sendiri menargetkan semua guru di sini sudah mendapatkan sertifikasi pada tahun 2010 mendatang. Meskipun sulit, tapi kami harus optimistis hal ini tercapai. Dalam hal ini memang kami sangat bergantung pada pemerintah pusat karena ini program pusat,” kata Widadi. Meski demikian, untuk sementara ini pihaknya belum mengetahui lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) mana yang ditunjuk pemerintah yang akan menyelenggarakan proses sertifikasi bagi 2.000 guru tersebut. Sambil menunggu proses sertifikasi guru berjalan, pihaknya untuk sementara ini memberikan stimulan berupa beasiswa kepada para guru untuk meningkatkan kualifikasinya.

Tunjangan Fungsional
Sementara itu, untuk tunjangan fungsional, menurut Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Fasli Jalal, sebagaimana dilansir sebuah media cetak nasional, tahun 2007 sudah pasti akan dialokasikan anggarannya. Meski demikian, tunjangan fungsional masih dimungkinkan untuk diberikan pada guru bila terjadi perubahan APBN 2006. Besaran tunjangan fungsional beragam, dan pemerintah sedang menghitung. Diperkirakan tunjangan fungsional sedikit lebih rendah dibanding gaji pokok. “Kami memperkirakan tunjangan fungsional untuk seluruh guru, baik negeri maupun swasta memerlukan dana Rp 17 triliun. Kalau ada anggarannya di APBN 2006, mungkin tunjangan fungsional bisa mulai diberikan. Tetapi yang pasti, tahun 2007 pasti sudah kami anggarkan,” jelas Fasli.


Sementara menyangkut tunjangan profesi, pemerintah akan segara membuat peraturan agar guru bisa segera mendapat sertifikat pendidik. Dalam enam bulan, akan segera turun peraturan mengenai akreditasi perguruan tinggi yang berhak mengeluarkan sertifikat pendidik. “Akan kita atur agar proses mendapat sertifikat profesi tidak KKN, bagaimana guru yang ada di daerah juga dapat mengambil sertifikat profesi. Siapa yang harus didahulukan mengambil sertifikat pendidik, akan kita buat aturannya,” katanya.


Guru-guru berstatus sarjana dan sudah mempunyai pengalaman kerja lebih dari 20 tahun akan didahulukan. Diharapkan pada tahun ajaran 2006/2007, proses sertifikasi pendidik sudah dimulai. Direncanakan pada tahun 2006 akan dilakukan proses sertifikasi pada 150.000 guru negeri dan 100.000 guru swasta. Sementara bagi guru yang belum bergelar sarjana tetapi mengajar puluhan tahun, akan diberi kemudahan. “Kita akan minta ada perlakuan khusus bagi mereka. Masa kerja, dan cara mengajar mereka di kelas, semua akan diperhitungkan. Tidak harus mereka harus kuliah sarjana baru kemudian profesi,” jelasnya. Saat ini diperkirakan 470.000 guru negeri yang sudah mempunyai gelar sarjana. Sementara dari 900.000 guru swasta, belum diketahui berapa yang bergelar sarjana.


Seandainya sudah banyak guru yang memiliki sertfikat profesi, apakah ada jaminan adanya peningkatan mutu pendidikan? Jika berkaca pada pengalaman negara-negara maju, program peningkatan kualitas dan profesionalisme guru memang diperlukan, apa pun namanya. Hal ini dapat dilihat dari sejarah beberapa negara dalam rangka peningkatan kompetensi guru. Di Amerika Serikat, dimulai dengan munculnya reformasi pendidikan yang diinisiasi oleh keberadaan laporan federal yang berjudul A Nation at Risk pada 1983. Laporan ini lantas melahirkan laporan penting berjudul A Nation Prepared: Teachers for 21st Century. Dalam laporan tersebut, direkomendasikan adanya pembentukan National Board for Professional Teaching Standards, dewan nasional standar pengajaran profesional di Amerika Serikat pada 1987. Demikian juga di Jepang, UU Guru ada sejak 1974 dan UU Sertifikasi pada 1949. Sementara di Cina, UU Guru hadir pada 1993 dan PP Kualifikasi Guru pada 2001.


Jika program sertifikasi guru dijalankan, maka pada 2011 sekitar 1,3 juta guru dengan predikat pendidik profesional yang memerlukan gaji dan tunjangan profesi mencapai 77,46 triliun rupiah. Jumlah tersebut lebih besar dua kali lipat dari total pengeluaran untuk gaji pada 2005.
Angka yang fantastis itu pun belum menyangkut berbagai hal yang secara substansial perlu dibenahi untuk menciptakan guru berkualitas sesuai tuntutan masa depan. Peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi guru, bukan jaminan kinerja guru akan menjadi lebih baik. Pada masa penjajahan, dengan kualifikasi pendidikan yang jauh lebih rendah, guru dipandang lebih berhasil melahirkan lulusan yang bermutu.


Meski tidak bisa diperbandingkan sepenuhnya dengan situasi saat ini, tetapi setidaknya kenyataan itu mengingatkan bahwa kualifikasi akademik hanya menyelesaikan sebagian kecil masalah. Apalagi bila formalitas yang lebih dikejar, bukan substansinya. Peningkatan kualifikasi akademik guru menjadi S1, menjadi tidak bermakna bila gelar kesarjanaan yang diperoleh guru tidak relevan dengan yang ia ajarkan sehari-hari di kelas, atau didapat melalui jalan pintas. Profesionalisme guru bukan barang sekali jadi, bim salabim. Hambatan menjadi guru profesional sangat banyak. Hubungan antarsesama guru dan kepala sekolah lebih banyak bersifat birokratis dan administratif, sehingga tidak mendorong terbangunnya suasana dan budaya profesional akademik di kalangan guru. Guru pun kian terjebak jauh dari prinsip profesionalitas. Jauh dari buku, kebiasaan diskusi, menulis, apalagi riset. Oleh karena itu, pembenahan dan peningkatan mutu guru harus berlaku sepanjang kariernya.


Pekerjaan rumah yang tak kalah besar ialah mendidik calon guru demi menciptakan generasi guru baru yang intelek, transformatif dan profesional. Bukan sekadar tukang dan operator. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Mau tidak mau, perlu dikaji terlebih dahulu lembaga yang selama ini menghasilkan tenaga guru. Tidak ada salahnya, lembaga pendidikan yang melahirkan tenaga guru belajar dari Fakultas Kedokteran yang mencetak tenaga dokter. Sebuah proses pembelajaran yang ajeg dan meyakinkan, semua pihak percaya dan yakin pada profesionalisme dokter (meski akhir-akhir ini banyak kasus tentang mal praktik). Setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan dokter, ia berhak atas gelar akademis sarjana kedokteran atau dahulu disebut dokter muda. Kemudian dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan profesi dokter (ko-asistensi) di rumah sakit yang ditentukan, minimal dua tahun. Di sinilah kawah candradimuka untuk menjadi seorang dokter. Merupakan medan nyata (emphirical field) kerja dokter setelah proses teoritis selama manjalani pendidikan kedokteran. Setelah dinyatakan lulus ujian profesi dokter, barulah ia berhak disebut dokter (dr).


Pemeliharaan profesi dokter pun didukung oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang mewajibkan dokter untuk mengabdi sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) di daerah yang ditentukan, atau dapat diganti dengan kompensasi tertentu yang dianggap tidak mengurangi nilai pengabdian dan profesionalisme. Demikian juga Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) atau asosiasi profesi guru apa pun namanya, harus dapat berjuang untuk memelihara profesi guru.
Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Guru dituntut mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebabnya dan mencari jalan keluar bersama peserta didik; bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya.


Menjadi guru bukan sebuah proses yang yang hanya dapat dilalui, diselesaikan dan ditentukan melalui uji kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati, mengajar adalah profesi hati. Hati harus banyak berperan atau lebih daripada budi. Oleh karena itu, pengolahan hati harus mendapatkan perhatian yang cukup, yaitu pemurnian hati atau motivasi untuk menjadi guru.


Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk mengenal diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tak mungkin kerasan dan bangga menjadi guru. Kerasan dan kebanggaan atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru yang profesional.


Harus disadari, kondisi guru seperti yang tecermin saat ini, merupakan keprihatinan bersama. Kondisi ini yang harus dihadapi, bukan menjadi ajang untuk menyangkal atau malah menyalahkan pihak tertentu. Dari itu semua, yang paling berkepentingan adalah pribadi guru sendiri. Namun, itu jangan sampai untuk mematahkan semangat rekan guru yang masih ingin menghidupi keguruannya.

Suwedo Hadiwiyoto, Supriyadi, dan Endang Sutriswati Rahayu
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada


Penanggulangan limbah oleh industri besar tidak menjadi masalah, berbeda halnya dengan industri menengah dan kecil, mengingat sarana dan biaya pengoperasiannya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mencari cara atau metode alternatif penanganan limbah cair dengan memodifikasi teknik kolam ganggang sehingga teknologi dan biaya pengadaan serta pengoperasiannya terjangkau oleh industri menengah ke bawah.


Teknik kolam ganggang atau lagoon merupakan cara pengolahan limbah cair dengan menafaatkan pertumbuhan ganggan fotosintesis dengan proses fakultatif anaerob serta merupakan cara yang paling sederhana dibandingkan cara-cara lainnya. Cara ini sangat cocok untuk negara berkembang. Kebutuhan oksigen hayati (BOD) dan kebutuhan oksigen kimia (KOK) dapat dikurangi sampai 60-80%. Pada dasarnya teknik kolam ganggang terdiri atas banyak kolam yang terbuat dari semen atau logam dengan kapasitas yang besar dan dilengkapi dengan berbagai peralatan pengendali, pengatur kondisi untuk menumbuhkan ganggang, penyaring, sedimentasi, denitrifikasi, dan klorinasi. Teknik ini dapat dimodifikasi sehingga menjadi peralatan yang sederhana dengan biaya relatif murah bagi industri menengah ke bawah. Modifikasi tersebut pernah dikerjakan di India pada tahun 1970-an dengan menggunakan dua kolam pengolah untuk mengolah limbah cair di pedesaan. Kolam pertama untuk menumbuhkan ganggang dan yang kedua untuk penjernihan. Meskipun demikian masih diperlukan beberapa alat seperti pompa dan bak penyaring.

Adopted from : Hibah Bersaing I

Teknik isotop alam adalah salah satu teknik yang sangat berguna dalam penelitian yang berkaitan dengan perubahan iklim serta respon dari lingkungan terhadap perubahan tersebut. Hal ini dimungkinkan karena isotop alam tersebut, baik yang bersifat stabil atau radioaktif, terdapat dalam berbagai matriks alam seperti sediment di danau dan lautan, sebagai komponen dari molekul air dalam bentuk es yang terdapat di kutub bumi, glasir dan lapisan es di daerah dingin dan puncak pegunungan, sebagai presipitasi dan bahkan yang terdapat pada pepohonan.

Kandungan isotop dapat diukur dan datanya dapat digunakan untuk merekonstruksi terjadinya perubahan iklim. Data tersebut juga dapat digunakan untuk studi adanya interaksi kompleks antara atmosfer, lautan dan biosfer yang ketiganya saling mempengaruhi faktor-faktor terjadinya perubahan iklim. Salah satu contoh penggunaan teknik isotop adalah teknik penanggalan dengan karbon-14 yang dapat digunakan untuk mengestimasi waktu kapan suatu material mengabsorb karbon-14.

Teknik ini biasa digunakan untuk mengestimasi waktu tinggal (residence time) air dalam akuifernya, untuk penanggalan fosil dan sediment serta dapat digunakan dalam studi atmosfer karena karbon dioksida terdapat di atmosfer bumi dalam jumlah yang besar. Inter relasi antara karbon-14, karbon-13 dan oksigen-18 dalam gas karbon dioksida di atmosfer dapat digunakan dalam studi interaksi antara lautan dan atmosfer. Dengan mengetahui kandungan isotop stabil hydrogen-2 dan oksigen-18 dalam kerang (shell) yang diambil dari sediment dasar lautan, memungkinkan untuk mengetahui suhu air pada saat kerang tersebut masih hidup.

Data komposisi isotop pada lapisan paling bawah dari es dan glasir yang diambil dengan core sampling dapat memberikan informasi tentang curah dari presipitasi, suhu, kecepatan angin dan konsentrasi gas rumah kaca pada masa yang lalu. Metodologi teknik perunut isotop dapat digunakan untuk mengetahui asal dari gas rumah kaca yaitu dari kadar karbon-13 dalam karbon dioksida gas rumah kaca tersebut. Isotop deuterium dan oksigen-18 juga dapat digunakan sebagai indikator parameter yang berkaitan dengan iklim misalnya suhu udara, kelembaban udara dan banyaknya curah hujan.

Dari uraian singkat ini dapat dicatat bahwa teknik isotop merupakan teknik yang sangat bermanfaat dalam menyajikan data dimana para ilmuwan dapat melihat ke belakang ke masa lalu dan mengembangkan suatu opsi modelling untuk memprediksikan kondisi mendatang dan meminimalkan dampak dari perubahan iklim global.

*Wandowo, 2005; “Mewaspadai Terjadinya Krisis Sumber Daya Air Bersih”, P3TIR – BATAN

TURUT BERDUKA CITA ATAS WAFATNYA

 

Bpk. Hari Subekti

Guru: OTK/ PIK Smkn 3 Kimia Madiun

 

Semoga Amal Ibadahnya Diterima Di sisi-NYA,

dan Kesabaran serta Ketabahan bagi Keluarga Yang Ditinggalkannya.

 

Regards.

Skimaters.

Sementara kita mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan – tantangan tahun depan, fokus kita haruslah tertuju pada Quality, Safety (Produk dan Manusia), Cost, Produktivitas (Efisiensi dan keefektifan) dan pelayanan pelanggan (internal/eksternal). Ukuran berkala terhadap kinerja akan didasarkan pada pencapaian tujuan dan/ atau tujuan yang ditetapkan. Karenanya setiap fungsi diharapkan untuk mengadakan analisis situasi dan mempersiapkannya hingga akhir tahun sekarang.

Secara Mayor, tipe dari tujuan harus dikelompokkan sebagai berikut  :

Rutin (40%)

Tujuan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan dengan cara “VIRTUE” posisi atau Fungsi.

Finance / Keuangan (20%)

Tujuan mengenai alokasi, anggaran, monitoring dan pengaturan biaya.

Fungsi Silang (20%)

Tujuan berkaitan dengan kegiatan koordinasi, kerjasama (ko-operasi), partisipasi dalam tim dan komite, misalnya Permintaan Tindakan Korektif & Preventif, Audit).

4.     Pengembangan Pribadi (10%)

Tujuan mengenai analisis kebutuhan training dan pelaksanaannya, dan

5.      Keterlibatan dalam Masyarakat (10%)

     Tujuan mengenai lingkungan, hubungan dengan penduduk sekitar, program peningkatan. Diharapkan bahwa dengan pedoman ini, pencapaian tujuan dan/atau sasaran akan ditingkatkan.

Langkah – langkah menetapkan tujuan/ sasaran :

Step 1 Identifikasi perhatian, issue dan kesempatan didalam setiap Tipe Tujuan yang Mayor

-         Harus dilakukan (Mendasar yang berarti mendesak dan penting, bahkan jangka pendek atau segera)

-         Perlu dilakukan (Pemecahan Masalah dengan menggunakan siklus Deming : Plan-Do-Check/Study-Act).

-         Sebaiknya ada (Inovatif yang berarti jangka panjang, penting, tapi tidak mendesak).

 

Step 2 Tuliskan tujuan/sasaran yang S-M-A-R-T untuk masing² jenis tujuan yang bersifat Mayor (gunakan blanko Tujuan Mutu).

-         Specific                : Terperinci, partikular dan/atau terfokus.

-         Measurable          : Dapat dihitung dan ada batasannya.

-         Action-Oriented   : Ada hasilnya ; gunakan kata kerja yang bermakna tindakan, seperti : meningkatkan, menurunkan/mengurangi, membuat, menambah dll.

-         Realistic               : Dapat dilaksanakan, dapat dicapai dan tersedianya sumber daya.

-         Time Bound          : Skala prioritas, diatur dengan batasan waktu.

Step 3 Membuat tujuan dan/atau sasaran untuk setiap tipe tujuan yang mayor.

-         Klasifikasi tujuan dalam setiap jenis tujuan yang mayor, seperti mendasar, pemecahan  masalah, inovatif, atau kombinasinya.

-         Prioritaskan dalam setiap tipe, seperti penggunaan pareto atau alat QCC lainnya.

-         Tetapkan standar kinerja.

-         Identifikasi rintangan, penghalang dan/atau hambatan lainnya yang akan dihadapi dalam mencapai tujuan mutu.

-         Tetapkan “WIIFM” (What’s In It For Me ?)  (apa bagian saya ?).

Step 4 Rumuskan rencana tindakan

-         Analisa dan jawablah 5W dan 1H (mengapa, apa, kapan, dimana, siapa, dan bagaimana).

-         Dokumenkan rencana (lampirkan pada blanko tujuan mutu).

-         Ajak tim untuk bekerjasama dalam menentukan tujuan dan merumuskan rencana tindakan.

-         Sediakan.

-         Tetapkan frekuensi pelaporan dan kepada siapa dilaporkan.

-         Tujuan dan/atau sasaran dapat ditetapkan

Step 5 Kiat – kiat untuk mencapai tujuan

-         Lakukan sesuai rencana (perencanaan harus bersifat menyeluruh, silakan lihat setp 4).

-         Monitor kemajuannya (bandingkan hasil yang dicapai dengan hasil yang direncanakan, tetapkan elemen – elemen yang berjalan dan apa yang tidak).

-         Perbaiki tujuan (lebih baik ubah taktik dan/atau strategi, jangan ubah tujuan).

-         Mulai lagi siklus PDCA (lihat siklus Deming, mengenai peningkatan yang berkelanjutan).

Step 6 Pertimbangkan   3   faktor kritis   tentang   Pimpinan  atau  Juara yang disebut dengan “Faktor  DEF”. 

“D” è Merupakan   singkatan dari Peter Drucker, seorang  profesional dalam  hal mutu dan  pemikir   mengenai   manajemen,    yang  berkata    bahwa   orang  harus  memotivasi dirinya sendiri.  Para  pemimpin yang hebat, secara naluriah mengakui hal ini.

“E” è Merupakan   singkatan   dari   Entrepreneurial,   adalah  kata  lain  dari   risiko.  Para pemimpin   harus   mengambil risiko,  mempelajari  risiko. Memimpin hari ini berarti mengambil risiko.

“F” è Merupakan    singkatan  dari    Fokus,   kita harus    berfokus    pada  masalah   untuk dipecahkan. Kita harus menghilangkan hal yang tidak perlu.

Step 7 Harus  ada  tindakan,  dengan mengingat   3   hal kritis, pimpinan  harus  melakukan  “Faktor ROI”.

”R” è Merupakan singkatan dari Removing Barriers, yang mencegah motivasi diri.

”O” è Merupakan singkatan dari Obtaining the right result,  atau  mendapatkan  hasil  yang   benar.  hal ini melibatkan pengakuan dan pekerjaan pada masalah yang tepat.

”I” è Merupakan  singkatan dari  Inspirasi.  Para   pemimpin   harus  tahu  bagaimana cara   menginspirasi orang lain untuk memotivasi diri mereka sendiri.

Contoh tujuan yang S-M-A-R-T

Tipe goal Mayor rutin :

1.      Meningkatkan hasil pengetikan  surat/dokumen  dibidang  administratif hingga 40 surat/dokumen perhari mulai dari keadaan sekarang yaitu 20 sampai 30 perhari pada tanggal 31 Januari 2001 tanpa menambah staff administrasi baru.

Spesifik                       :  “ Hasil Pengetikan ”

Measurable                  : “ Dari 20-30 ” dokumen/hari hingga 40/hari

Action-Oriented            :  “ Meningkatkan ”

Realistic dan Limiting      : “ Tanpa menambah staff administratif baru “

Time Bourd                   : “ Pada tanggal 31 Januari 2001

 

MODEL PENINGKATAN

Kerangka kerja untuk peningkatan sebagaimana digambarkan dibawah ini secara luas dapat diterima dan dapat diterapkan. Model ini merupakan refleksi atas fakta yang kita pilih secara rasional, apakah dilakukan atau tidak, didasarkan pada pengetahuan dan ketertarikan yang ada mengenai pencapaian tujuan/sasaran yang dipilih. Model ini juga merupakan kerangka kerja yang fleksibel untuk mengadakan dan menguji perubahan, dan bahkan penggunaan aplikasinya spesifik dan metedologi :

Keadaan Sekarang ==è

 

Apa yang mau kita coba kerjakan ?

Bagaimana kita akan tahu bahwa perubahan ini merupakan peningkatan ?

Perubahan apa yang dapat kita buat, yang menghasilkan peningkatan ?

==è  Siklus Pembelajaran Dan Peningkatan

ACT     ==è      PLAN    ==è CHECK   ==è      DO

CONTOH – CONTOH KARAKTERISTIK MUTU, ISSUE DAN PERTIMBANGANNYA

Marketing/Sales/Service

Waktu memproses permintaan pelanggan

Keluhan pelanggan

Kesalahan dalam mengisi pesanan ke dealer

Salah hitung

Kelebihan hitung

Kinerja Penjualan

Kepuasan pelanggan

Pengiriman yang lambat/terlewatkan

 

ENGINEERING

Waktu untuk memproses perubahan engineering/job order

Waktu kegagalan produk

Jumlah perubahan desain

Permintaan perubahan

Keterbatasan part

Informasi teknis

 

ADMINISTRATIF

Waktu memproses laporan

Pemakaian telepon

Kesalahan pembukuan yang dapat diterima

Waktu tunggu

Biaya inspeksi

Waktu singgah/transit

Panggilan telepon

Waktu membuat order

Komputer down time

Jumlah supplier

Kesalahan dalam purchase order

Kesalahan kerja

Waktu tunggu kendaraan, mobil, alat kantor

Biaya garansi

 

MANUFACTURING

Downtime, tindakan korektif dan prefentif

Jumlah serap

Keakuratan laboratorium

Jumlah kerja ulang

Waktu perbaikan

Tingkat inventory

Dimensi fisik

Biaya inspeksi

Mutu yang dihasilkan

Usulan karyawan

Viskositas proses batch

High TPC pada produk DC

 

MANAJEMEN

Jumlah kecelakaan

Waktu yang terbuang karena kecelakaan

Persen lembur

Jam kerja karyawan yang terbuang

Absensi/ketidakhadiran

Varian dari anggaran

Keluar masuk karyawan (turnover)

Penilaian karyawan (kinerja atas tujuan)

Biaya perawatan kesehatan

Pelatihan dan pendidikan karyawan

Aspek dan dampak lingkungan

Pembuatan proyek dan program

 

Referensi  :

1.       Moen, Ronald D dan Nolan, Thomas. W dan Provost Lioyd P (1999) : “ Quality Improvement    Through Planned experimentation “. Mc Graw Hill.

2.       Philip Morris.1998. “ Managing and Appraising performance (Map Goals) ”. USA

 

 

 

Di dalam jagad pewayangan dikenal istilah padhepokan sebagai tempat penggemblengan bagi para calon ksatria agar kelak dapat megabdikan diri bagi kepentingan darma kemanusiaan. Para calon ksatria tersebut biasanya diajar oleh seorang ajar atau guru. Untuk mendapatkan kesempurnaan ilmu, para cantrik (calon ksatria yang berguru), diajarkan ilmu kanuragan, tata negara dan tentunya ilmu agama.

Dalam sejarah praja Majapahit, barangkali tercatat dalam sejarah adanya sebuah institusi untuk mencetak calon pejabat negara atau tanda, istilahnya PPCT (Pusat Pendidikan Calon Tanda). Lembaga ini mendidik calon pejabat mulai tingkat wedana, perwira prajurit hingga pangeran adipati anom. Para siswa tanda biasanya berasal dari para putra pejabat (kasta ksatria), namun demikian ada juga kalangan Sudra maupun Waisya yang dapat mengikuti pendidikan dikarenakan dharma bakti luar biasa yang diberikan kepada negara. Kuti dan Semi adalah contoh perwakilan rakyat awam yang menjadi siswa tanda. (lebih…)

Adi Suarman Situmorang 1

1FKIP Universitas Darma Agung Medan, Jl. Sriwijaya Medan, Sumatera Utara, Indonesia

ABSTRACT

The uses of educational media for the teaching of mathematics in high school is explained in the paper. The research was conducted onto the high school students in Medan. The research was carried out through teaching the students with a Concept map media and analises the effectivity of the media in enhanching the ability of students in understanding the concept of mathemetics. Based on the preliminari test it was foud that most of the student 65%) have low understanding ability on the concept of mathematics. After³( teaching the students by using educational media it was found that most of the students (89%)understand the concept of the mathematics.

Kata kunci: Media pendidikan, petakonsep, belajar tuntas, pangkat rasional, dan bentuk akar (lebih…)

“Dan diantara tanda – tanda kekuasaan Allah ialah menciptakan ruang angkasa & bumi, berbeda – beda bahasa dan warna kulitmu. Yang demikian itu adalah tanda – tanda (kebesaran Allah) bagi orang – orang yang mengetahui”(QS. Ar Ruum 30:22)

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Dan Allah maha tahu dan mengenal dirimu.” (QS. Al. Hujarat, 49:13) (lebih…)

Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fasa teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat kesetimbangan pada temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm adsorpsi.

1. Isoterm Langmuir  

Isoterm ini berdasar asumsi bahwa:

a. Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanya dapat mengadsorpsi satu molekul adsorbat untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak ada interaksi antara molekul-molekul yang terserap.

b. Semua proses adsorpsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.

c. Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorpsi maksimum.

                        Namun, biasanya asumsi-asumsi sulit diterapkan karena hal-hal berikut: selalu ada ketidaksempurnaan pada permukaan, molekul teradsorpsi tidak inert dan mekanisme adsorpsi pada molekul pertama sangat berbeda dengan mekanisme pada molekul terakhir yang teradsorpsi.

                         

                        Langmuir mengemukakan bahwa mekanisme adsorpsi yang terjadi adalah sebagai berikut: A(g) + S AS, dimana A adalah molekul gas dan S adalah permukaan adsorpsi.

                         

2. Isoterm Brunauer, Emmet, and Teller (BET).

Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang homogen. Perbedaan isoterm ini dengan Langmuir adalah BET berasumsi bahwa molekul-molekul adsorbat bisa membentuk lebih dari satu lapisan adsorbat di permukaannya. Pada isoterm ini, mekanisme adsoprsi untuk setiap proses adsorpsi berbeda-beda. Mekanisme yang diajukan dalam isoterm ini adalah:

Isoterm Langmuir biasanya lebih baik apabila diterapkan untuk adsorpsi kimia, sedangkan isoterm BET akan lebih baik daripada isotherm Langmuir bila diterapkan untuk adsoprsi fisik

3. Isoterm Freundlich

Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm adsorpsi dapat digambarkan dengan persamaan empirik yang dikemukakan oleh Freundlich. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang paling banyak digunakan saat ini. Persamaannya adalah

     x/m = kC1/n

dengan x = banyaknya zat terlarut yang teradsorpsi (mg)

m = massa dari adsorben (mg)

C = konsentrasi dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan

k,n,= konstanta adsorben

Dari persamaan tersebut, jika konstentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersep k. Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisiensi dari suatu adsorben.

Hal-hal yang dapat dilihat dari kurva isoterm adalah sebagai berikut.

            1. Kurva isoterm yang cenderung datar rtinya, isoterm yang digunakan menyerap pada kapasitas konstan melebihi daerah kesetimbangan.

            2. Kurva isoterm yang curam artinya kapasitas adsorpsi meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi kesetimbangan.

Adsorpsi ion logam oleh material padat secara kuantitatif mengikuti persamaan Langmuir. Persamaan Langmuir merupakan tinjauan teoritis proses adsorpsi.

 C/(x/m) = 1/Kb + C/b

Persamaan tersebut dapat digunakan pada adsorpsi oleh padatan. Konstanta pada persamaan adsorpsi Langmuir menunjukan besarnya adsorpsi maksimum (b) oleh adsorben, dan K menunjukkan konstanta yang dihubungkan dengan energi ikat. Harga adsorpsi maksimum secara teoritis seperti yang dicantumkan pada tabel 3.

Keterangan: *per berat membran

Terdapat perbedaan antara berat teradsorp teoritis dan eksperimen. Hal tersebut menunjukan bahwa berkurangnya konsentrasi ion logam tidak hanya terjadi karena adsorpsi secara pertukaran ion, tetapi terjadi juga pemerangkapan ion logam pada pori-pori membran.

Data hubungan persamaan :

I. PENDAHULUAN
Buah-buahan merupakan bahan pangan sumber vitamin. Selain buahnya yang dimakan dalam bentuk segar, daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misalnya daun pisang untuk makanan ternak, daun pepaya untuk mengempukkan daging dan melancarkan air susu ibu (ASI) terutama daun pepaya jantan.
Warna buah cepat sekali berubah oleh pengaruh fisika misalnya sinar matahari dan pemotongan, serta pengaruh biologis (jamur) sehingga mudah menjadi busuk. Oleh karena itu pengolahan buah untuk memperpanjang masa simpannya sangat penting. Buah dapat diolah menjadi berbagai bentuk minuman seperti anggur, sari buah dan sirup juga makanan lain seperti manisan, dodol, keripik, dan sale.
Manisan buah adalah buah yang diawetkan dengan gula. Tujuan pemberian gula dengan kadar yang tinggi pada manisan buah, selain untuk memberikan rasa manis, juga untuk mencegah tumbuhnya mikroorganisme (jamur, kapang). Dalam proses pembuatan manisan buah ini juga digunakan air garam dan air kapur untuk mempertahankan bentuk (tekstur) serta menghilangkan rasa gatal atau getir pada buah. (lebih…)

Oleh : Achmad Faisol.
Lebih detail tentang kesombongan, al-Ghazali menerangkan bahwa kesombongan dibagi dua, yaitu kesombongan batin dan kesombongan zhahir. Kesombongan batin adalah kesombongan yang terdapat dalam hati, sedangkan kesombongan zhahir dilakukan oleh anggota tubuh.
Kesombongan batin lebih berbahaya, karena tingkah laku seseorang merupakan akibat dari yang terjadi di hatinya. Apabila seseorang mewujudkan kesombongannya dalam perbuatan, maka hal itu disebut takabbur (berlaku sombong), sedangkan jika hanya menyimpan di dalam hati tanpa ada tindakan disebut kibr (sifat sombong).

Menurut definisinya, kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan atau merendahkan orang lain.
مَنْ سَـفَهَ اْلحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ

(Orang sombong adalah) orang yang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. (HR Muslim)
Larangan Allah kepada kita untuk menjauhi kesombongan tercantum dalam Al-Qur’an al-‘Azhîm :
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فىِ ٱْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتـَالٍ فَخُـوْرٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri. (QS Luqmân [31] : 18)

Jika kita terjangkit penyakit sombong berarti kita menggabungkan dalam diri kita kebodohan dan kebohongan. Kebodohan karena kita tidak mengetahui bahwa kebesaran hanya milik Allah sehingga akibat kebodohan, kita menduga dirinya besar. Kita juga melakukan kebohongan, karena dengan takabbur kita membohongi diri sendiri sebelum orang lain. Bukankah takabbur berarti membuat-buat kebesaran kepada diri yang pada hakikatnya tak pernah wujud?
Jika kita sombong maka kita menciptakan keburukan di atas keburukan. Kesombongan sendiri telah merupakan keburukan. Selanjutnya dengan sikap takabbur, sesungguhnya kita memaksa orang lain memendam rasa dendam dan antipati terhadap diri kita, bahkan menghina dan mencela kita. Kalau tidak di hadapan kita dengan suara keras, maka di belakang kita dengan suara sayup atau di dalam hati.
Jika kita sombong maka kita adalah manusia yang sangat tidak terpuji. Bagaimana mungkin kita sombong padahal asal kita adalah nuthfah dan akhirnya menjadi mayat tak berdaya, sedangkan masa antara awal dan akhir hidup kita selalu membawa (di dalam tubuh) urine serta kotoran yang berbau menusuk.
Manusia sombong harus disombongi, karena menyombongi orang sombong adalah sedekah. Ber-takabbur kepada mereka dimaksudkan agar yang bersangkutan menyadari dirinya dan tidak larut dalam keangkuhannya.
التَّكَـبُّرُ عَلَى الْمُتَكَـبِّرِ صَدَقَةٌ

Menyombongi orang sombong adalah sedekah.
Entah apa jadinya kehidupan ini jika semua orang telah terjangkit sifat sombong. Setiap orang saling melecehkan, tak ada lagi penghormatan kepada orang lain, hilanglah kewibawaan dan sopan santun terhadap orang lain.
Entah apa yang akan terjadi jika setiap orang menolak ketika kebenaran diperlihatkan. Semua orang tidak dapat saling memberikan pemahaman atau melakukan diskusi dengan baik, kecuali dengan cara memaksa.
Sama halnya mereka tidak dapat bersatu dalam kebenaran, mereka pun tidak dapat bersatu dalam kebatilan. Hukum rimbalah yang akan muncul, yaitu siapa yang kuat dialah yang menang. Bersamaan dengan itu akan muncul gejala-gejala sosial seperti kezhaliman, emosi, pertengkaran, permusuhan, peperangan dan pelanggaran hak asasi. Itu semua berawal dari penyakit hati, yang masyhur dengan nama “sombong”.
Mari kita bersama-sama berusaha agar tidak terinfeksi penyakit “sombong” ini. Tak perlu kita mencari siapa orang yang di dalam hatinya terjangkit penyakit ini. Introspeksi diri harus didahulukan. Janganlah kita mudah menyalahkan orang lain akan tetapi kita tidak mau menyalahkan diri sendiri. Bukankah sudah kita pahami bersama kaidah “Mulailah dari dirimu sendiri (ibda’ binafsika)?”
Mungkin ada di antara kita yang mempertanyakan, “Mengapa saya harus menyalahkan diri sendiri? Bukankah hidup ini ada sistem yang juga melibatkan orang lain? Sebagai contoh, kalau saya mengantuk/tidur ketika khutbah, itu karena khatibnya tidak menguasai sosiologi dakwah. Begitu pun dengan tindakan-tindakan saya yang lain. Semua itu hanyalah reaksi akibat aksi yang saya terima dari lingkungan. Mengapa harus saya yang disalahkan? Mengapa bukan orang lain atau sistem yang ada?”
Sekadar menyalahkan orang lain apalagi mencari kambing hitam termasuk pekerjaan mudah. Kita tidak perlu sekolah untuk menumpahkan kesalahan pada orang lain. Anak kecil pun bisa melakukannya. Namun, tidakkah kita sadari bahwa hidup ini antara kita dan Allah? Bukankah di akhirat nanti, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan kita, bukan perilaku orang lain?

Edi Suhaimi Bakar, O Rachman, Muh Yusram Massijaya, dan Bahruni
Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Institut Pertanian Bogor

Kelapa sawit sangat besar potensinya di Indonesia dengan luas tanaman lebih dari 2.9 juta ha sehingga Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia setelah Malaysia. Dengan laju pertumbuhan sekitar 8.5% per tahun, diperkirakan Indonesia akan melewati Malaysia pada tahun 2014 nanti. Namun, pemanfaatan biomassa kelapa sawit masih belum efisien, terbatas hanya pada buah untuk memproduksi minyak, serta sampai pada tingkat tertentu, pada sabut, tandan, dan pelepah untuk memproduksi serat. Biomassa batang dari hasil regenerasi tanaman tua setelah berumur 25-30 tahun yang merupakan massa terbesar belum dimanfaatkan, melainkan hanya dibakar atau dibiarkan jadi tumpukan limbah yang menimbulkan berbagai dampak lingkungan dan gangguan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi kayu sawit dari hasil peremajaan tanaman, mengetahui sifat-sifat dasarnya (fisik, mekanis, kimia, keawetan, dan pemesinan), serta memperbaiki kelemahan kayu sawit sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan furnitur. Pada bagian akhir juga dilakukan kajian sosial ekonomi dari pemanfaatan kayu sawit sebagai bahan bangunan dan furnitur.
Dari penelitian tahap pertama diketahui bahwa sepertiga bagian terluar batang kelapa sawit dapat dimanfaatkan dalam bentuk kayu utuh untuk bahan bangunan perumahan. Bagian ini mencapai 30% volume batang bebas pelepah, mempunyai kelas kuat III-V dan kelas awet V, yang secara umum setara dengan mutu kayu sengon (Paraserianthes falcataria). Diketahui bahwa faktor kedalaman batang sangat mempengaruhi sifat-sifat dasar yang diuji: bagian tepi mempunyai sifat yang jauh lebih baik daripada bagian medium dan pusat. Sebaliknya, faktor ketinggian tidak memiliki kecenderungan tertentu, meskipun pada sebagian sifat-sifat mekanis menunjukkan penurunan mutu dengan semakin tingginya batang.
Dari penelitian tahap kedua diketahui bahwa kayu kelapa sawit sebaiknya digergaji dengan pola yang berbeda dengan penggergajian pada umumnya, yaitu menggunakan pola modified round sawing (MRS). Meskipun dapat diawetkan dengan baik dengan bahan pengawet Basilit-CFK dan Impralit-B1, sifat dan mutu pemesinan kayu kelapa sawit tergolong sangat jelek dengan persen bebas cacat berturut-turut sebesar 6 dan 12% untuk proses penyerutan dan pelubangan segi-empat, dan tergolong sedang dengan persen bebas cacat berturut-turut sebesar 50, 66, dan 62% untuk proses pembentukan, pengeboran, dan pengampelasan. Secara keseluruhan mutu pemesinan kayu kelapa sawit tergolong jelek, sehingga perlu diupayakan perbaikan mutu agar penggunaannya dapat diperluas. Selanjutnya diketahui bahwa perbaikan mutu dengan teknik impregnasi (perendaman) tidak berhasil meningkatkan mutu kayu kelapa sawit karena imprenasi tidak mampu masuk ke dalam kayu.
Pada penelitian tahap ketiga dilakukan perbaikan mutu kayu kelapa sawit dengan teknik kompregnasi, yaitu pemasukan bahan kompregnan resin fenol dengan bantuan tekanan dalam tangki tertutup. Dari hasilnya diketahui bahwa perlakuan kompregnasi dengan resin fenol dapat memperbaiki sifat fisis, mekanis, keawetan, dan pemesinan kayu sehingga cocok digunakan untuk bahan bangunan. Kondisi kompregnasi yang optimum ialah dengan konsentrasi larutan impregnan 30% dan waktu tekanan 60 menit. Secara umum mutu proses pemesinan kayu sawit terkompregnasi sebanding dengan jenis-jenis kayu komersial (mahoni, kamper, dan jati) yang biasa digunakan untuk furnitur. Sifat pengetaman, pembentukan (shaping), dan pengeboran kayu kelapa sawit terkompregnasi termasuk sedang hingga sangat baik (III-I) dan sifat pengampelasan sangat baik (kelas I).
Meskipun perlakuan kompregnasi kayu kelapa sawit memerlukan biaya yang relatif tinggi, harga akhir kayu kelapa sawit terkompregnasi masih dapat bersaing dengan kayu utuh lain yang mutunya sebanding. Bahkan kayu kelapa sawit terkompregnasi mempunyai nilai lebih dalam hal warna dan tekstur serat sehingga sangat cocok digunakan untuk furnitur mutu tinggi. Dari hasil wawancara diketahui pula bahwa masyarakat masih menunjukkan kepercayaan yang rendah terhadap kayu kelapa sawit sebagai alternatif baru untuk bahan bangunan dan furnitur (terutama dari segi kekuatan dan keawetan), sehingga perlu dilakukan sosialisasi yang tepat dari hasil-hasil perbaikan mutu yang telah dicapai kepada masyarakat.

Adopted from : Hibah Bersaing VI

TUJUAN
– Memahami maksud dan arti pentingnya Inovasi (ACTS)
– Memotivasi bagaimana menjadi anggota sebuah team
– Dapat berinovasi (menemukan cara-cara baru) secara proaktif dalam menyelesaikan tantangan kerja sehari-hari
– Mengefektifkan penggunaan metode ACTS
– Menstandarisasikan laporan (notulensi) inovasi
– Menghargai gaya inovasi yang berbeda
– Dapat berperan dalam menghasilkan pemecahan yg inovatif & meningkatan dengan melaksanakan proses ACTS
PROSES ACTS
– Ask (Tanya) : Apa Yang ingin kita kerjakan ; Apa yang kita takutkan/khawatirkan
– Chek (cek) : Apa yang telah kita ketahui ; apa yang telah kita kerjakan dapat membantu ; apa yang tiap anggota kerjakan ; ketrampilan yang bermanfaat apa yang dimiliki oleh tiap-tipa orang ; Masalah apa yang sebenarnya
– Think (Fikir) : Ide apa yang kita miliki ; Modifikasi faktor pengaruh ; penyelidikan simbol alam ; eksperimen ; keuntungan – kerugian
– Suggest (saran) : Minta persetujuan ; jelaskan dan lakuka ; terapkan (Action Plan)
ACTS SEBUAH MODEL PEMECAHAN MASALAH
– Keterkaitan antar poin dan pola fikir pemecahan
– Penggunaan data real dan analisa
– Penggunaan gaya inovasi dan tekhnik pengembangan ideMetode untuk memilih pemecahan yang benar
APAKAH INOVASI
– Mempunyai ide baru/dan atau yang lebih baik bisa meningkatkan produk/hasil, pelayanan dan prosedur kerja
– Bersifat Dramatis & mendapat Perhatian yang Nyata
– Kreatifitas , Individualisme
– Inovasi bisa merubah (fenomena sekali tembak) secara langsung atau bertahap
GAYA INOVASI
– Visioning : Melihat pada gambaran yang diinginkan sebagai tujuan
– Modifyng : Membuat dan meningkatkan pada apa saja yang telah dicoba dan teruji
– Experimenting : Menggabungkan dan menguji kenyataan
– Exploring : Meragukan informasi yang ada dan menemukan cara baru
NILAI TIAP GAYA INOVASI
EXPERIMENTING
– Tetap pada realitas
– Tahap pembuktian pengalaman
– Pendekatan analitik
– Mengikutsertakan orang lain dalam mengambil keputusan
– Hasil dan keuntungan bisa dicapai
– Rendah biaya
– Menggunakan sumber daya yang ada
– Menggunakan metode yang hemat waktu
EXPLORING
– Banyak ide baru
– Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda
– Berani menantang norma-norma
– Pikiran yang terbuka
– Membangkitkan semangat
– Tidak takut kegagalan
– Menawarkan alternative
– Menemukan hal yang mustahil
– Mengenalkan variabel/faktor lain
MODIFYNG
– Tidak mereka-reka aturan
– Hemat waktu, biaya dan penggunaan
– Sumber daya yang tersedia
– Mendorong ide-ide
– Praktis, realistis
– Fleksibel dan bisa menyesuaikan
– Menghasilkan pekerjaan yang lebih bermutu
– Mudah mendapat dukungan dari atasan dan sekerja
– Sistematis, proses yang berkesinambungan
– Lebih cepat menerapannya
4 PRINSIP INOVASI
– Kita semua mempunyai kemampuan untuk menjadi inovatif
– Kita mempunyai perbedaan cara untuk menangani dan menyelesaikan masalah
– Kita menggunakan suatu kombinasi dari keempat gaya inovasi
– Gaya ini seperti bermacam-macam bahasa yang lebih seperti sebuah gambar dari kepribadian kita
MENGOPTIMALKAN KINERJA SEBUAH TIM INOVASI
– Menyadari keragaman perbedaan sudut pandang dan gaya inovasi sebagai sebuah kekayaan bukan sebaliknya
– Pengaturan Tempat Duduk
– Mendengar dan sulitnya memahami maksud orang lain
– Apakah kelompok akan membangun / merusak ide yang sudah ada
– Bagaimana Tim Sampai pada keputusan
JANGAN JADI Mr. Averageman
Dilahirkan pada tahun 1901, nilai-nilainya antara C & D, kawin dengan nona Medicore pada tahun 1924 mempunyai seorang anak laki-laki bernama Averageman Jr dan seorang anak perempuan bernama Baby Medicore. Dia mempunyai masa pengabdian tidak baik selama 40 tahun dan memegang berbagai posisi tidak penting. Dia tidak berani menghadapi resiko dan memanfaatkan peluang. Dia juga tidak berani mengasah bakat dan terlalu bersikap pasif.
Buku kegemarannya “Noninvolvement ; The Story of Playing It Save (Tiada keterlibatan ; suatu kisah bagaimana untuk tidak menyusahkan diri). Dia hidup selama 60 tahun tanpa mempunyai tujuan, rencana, kemauan, keyakinan atau tekad. Pada batu nisannya tertulis kata-kata berikut :
– Disinilah makam Mr. Averageman
– Dilahirkan pada tahun 1901, wafat tahun 1921 dikebumikan pada tahun 1964
– Dia tidak pernah mencoba sesuatu
– Harapannya pada kehidupan terlalu sedikit
– Kehidupan tidak berarti baginya.
KEKHAWATIRAN
– Mungkin saya melakukan kesalahan
– Orang² tidak menyukai saya
– Mungkin saya akan gagal
– Saya tak ingin merasa tidak enak
– Saya bisa belajar dari kesalahan
– Saya suka menolong
– Saya percaya diri
– Saya bisa menyesuaikan
BEBERAPA NILAI DAN ARTI PENTING
– Dependensi Manusia
– Tujuan ‘Kesejahteraan’
– Perhatian yang paling utama dari para manajer
– Perluasan Pasar yang cepat
– Perubahan Dari
– Prilaku Konsumen
o Kemajuan Iptek
o Mindset
MENGEMBANGKAN USULAN TEAM
– Dengarkan hal-hal yang baik dari setiap usulan
– Mendorong orang tersebut untuk memperinci ide-idenya
– Kembangkan ide tsb
UCAPAN MENDORONG ORANG LAIN
– Pekerjaan bagus, pertahankan hal tsb
– Saya bangga padamu
– Anda adalah salah satu anggota team yang penting
– Mari kita saling belajar
– Kita satukan pikiran untuk selesaikan masalah ini
– Sangat bagus
– Ayo, cobalah
– tu ide cemerlang
– Lakukan hal yang terbaik
– Sangat fantastis
KONSEP PROAKTIF
BAHASA REAKTIF
– Tidak ada yang dapat lakukan
– Memang sudah begitulah saaya
– Ia membuatku bagitu marah
– Mereka tidak akan mengizinkan itu
– Saya terpaksa melakukan it
– Saya tidak bias
– Saya harus
– Seandainya saja
BAHASA PROAKTIF
– Mari kita lihat alternatif yang kita miliki
– Saya dapat memilih pendekatan yg berbeda
– Saya mengendalikan perasaan saya sendiri
– Saya dapat memberikan presentasi yang efektif
– Saya akan memilih respons yang sesui
– Saya memilih
– Saya lebih suka
– Saya akan
SISTEM DAN STANDAR LAPORAN
– Target Tema dan Pembagian Tim
– Standar Laporan
Urutan Proses; SISTEM DAN STANDAR LAPANGAN
– Notulensi lengkap
– Besar Huruf
Tekhnik Presentasi
– Penekanan Poin penting
– Penyajian data/gambar/table
– Waktu

Mekanisme Koagulasi-Flokulasi
Stabilitas koloid merupakan aspek penting dalam proses koagulasi untuk menghilangkan koloid-koloid.
Stabilitas koloid tergantung ukuran koloid dan muatan elektrik, juga dipengaruhi oleh media pendispersi (dalam hal ini media pendispersi adalah air) seperti kekuatan ion , pH.
Muatan permukaan partikel-partikel koloid penyebab kekeruhan di dalam air adalah sejenis, oleh karena itu jika kekuatan ionik di dalam air rendah, maka koloid akan tetap stabil. Stabilitas merupakan daya tolak koloid karena partikel-partikel mempunyai muatan permukaan sejenis (negatip).
Antara koloid-koloid ada gaya tolak menolak dan gaya tarik massa (van der Waals). Dengan adanya enersi interaksi kedua gaya tersebut yang disebabkan oleh gerakan Brownian, dihasilkan suatu enersi kinetik. Jika kekuatan ionik di dalam air cukup tinggi, maka gaya tolak menolak memberi keuntungan kepada situasi dimana tumbukan yang terjadi menghasilkan aglomerasi partikel-partikel.
Ada beberapa daya yang menyebabkan stabilitas partikel, yaitu :
1). Gaya elektrostatik yaitu gaya tolak menolak terjadi jika partikel-partikel mempunyai muatan yang sejenis (negatif atau positif ).
2). Bergabung dengan molekul air (reaksi hidrasi)
3). Stabilisasi yang disebabkan oleh molekul besar yang diadsorpsi pada permukaan.
Mekanisme yang disebut diatas seringkali terjadi pada saat yang sama. Dalam suspensi yang keruh seringkali hanya ada partikel bermuatan negatip yang disebabkan oleh penggantian kation maupun adsorpsi zat anionik.
Mineral seperti silika, tanah liat, oksida dan hidroksida seringkali selain mempunyai daya elektrostatik, juga ada hidrasi yang mampu untuk mengadsopsi zat penyebab stabilisasi.. Suspensi atau koloid bisa dikatakan stabil jika semua gaya tolak menolak antar partikel lebih besar dari gaya tarik massa, sehingga didalam waktu tertentu tidak terjadi agregasi.
Untuk menghilangkan kondisi stabil, harus merubah gaya interaksi diantara partikel dengan pembubuhan zat kimia (sebagai donor muatan positip) supaya gaya tarik menarik menjadi lebih besar.
Untuk destabilisasi ada beberapa mekanisme yang berbeda :
a. Kompresi lapisan ganda listrik (Compression of electric double layer) dengan muatan yang berlawanan
b. Mengurangi potensial permukaan yang disebabkan oleh adsorpsi molekul yang spesifik dengan muatan elektrostatik berlawanan.
c. Adsorpsi molekul organik diatas permukaan partikel bisa membentuk jembatan molekul diantara partikel.
d. Penggabungan partikel koloid kedalam senyawa presipitasi yang terbentuk dari koagulan/ flokulan.
Destabilisasi yang terjadi tergantung dari mekanime destabilisasi yang mana atau bisa saja hanya ada satu mekanisme yang menyebabkan agregasi atau kombinasi dari mekanisme yang lain (diantara yang tersebut diatas). Untuk aplikasi praktis di IPA Instalasi pengolahan air) ada kombinasi dari beberapa mekanisme destabilisasi yang disebabkan adanya kompresi lapisan ganda, tetapi hal ini biasanya tidak begitu penting untuk aplikasi praktis.
Secara garis besar (berdasarkan uraian di atas), mekanisme koagulasi dan flokulasi adalah :
(1) Destabilisasi muatan negatip partikel oleh muatan positip dari koagulan
(2) Tumbukan antar partikel
(3) A d s o r p s i
Selain tumbukan antar partikel terdestabilisasi/mikroflok yang bertujuan membentuk flok dengan ukuran yang relatif besar (makroflok), adsorpsi merupakan mekanisme flokulasi diantaranya dilakukan oleh Al(OH)3, aluminium hidroksida yaitu bentuk hidroksida Al, hasil reaksi hidrolisa Al dengan air. Senyawa ini berbentuk agar-agar (jelly) yang mempunyai sifat “adsorpsi (menyerap di permukaan), seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Jika kekuatan ionik di dalam air cukup besar, maka keberadaan koloid di dalam air sudah dalam bentuk terdestabilisasi. Destabilisasi disini disebabkan oleh ion monovalen (valensi 1) dan divalen (valensi 2) yang berada di dalam air. Kejadian ini dinamakan “Koagulasi elektrostatik”, sedangkan koagulasi kimiawi adalah suatu proses dimana zat kimia seperti garam Fe dan Al, ditambahkan ke dalam air untuk merubah bentuk (transformasi) zat-zat kotoran. Zat-zat tersebut akan bereaksi dengan hidrolisa garam-garam Fe atau Al menjadi flok dengan ukuran besar yang dapat dihilangkan secara mudah melalui sedimentasi dan filtrasi.
Pada sistem pengolahan air, koagulasi terjadi pada unit pengadukan cepat (flash mixing), karena koagulan harus tersebar secara cepat dan reaksi hidrolisa hanya terjadi dalam beberapa detik, jadi destabilisasi muatan negatip oleh muatan positip harus dilakukan dalam perioda waktu hanya beberapa detik
Nilai gradien kecepatan (G), waktu tinggal/detensi ( td ) dan kecepatan aliran air adalah jarang berubah selama instalasi pengolahan air (IPA) berjalan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi koagulasi :
(1) Pemilihan bahan kimia
Pemilihan koagulan dan koagulan pembantu , merupakan suatu
program lanjutan dari percobaan dan evaluasi yang biasanya
menggunakan Jar – test. Seorang operator dalam pengetesan untuk memilih bahan kimia , biasanya dilakukan di laboratorium. Untuk melaksanakan pemilihan bahan kimia, perlu pemeriksaan terhadap karakteristik air baku yang akan diolah yaitu :
• S u h u
• pH
• Alkalinitas
• Kekeruhan
• W a r n a
Efek karakteristik tersebut terhadap koagulan adalah sebagai berikut :
S u h u Suhu rendah berpengaruh terhadap daya koagulasi/flokulasi dan memerlukan pemakaian bahan kimia berlebih, untuk mempertahankan hasil yang dapat diterima.
pH Nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah, dapat berpengaruh terhadap koagulasi/flokulasi, pH optimum bervariasi tergantung jenis koagulan yang digunakan (lihat tabel jenis koagulan !).
Alkalinitas Alum sulfat dan ferri sulfat berinteraksi dengan zat kimia pembentuk alkalinitas dalam air, membentuk senyawa aluminium atau ferri hidroksida, memulai proses koagulasi. Alkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan koagulasi yang kurang baik, pada kasus demikian, mungkin memerlukan penambahan alkalinitas ke dalam air, melalui penambahan bahan kimia alkali/basa ( kapur atau soda abu)
Kekeruhan Makin rendah kekeruhan, makin sukar pembentukkan flok yang baik. Makin sedikit partikel, makin jarang terjadi tumbukan antar partikel/flok, oleh sebab itu makin sedikit kesempatan flok berakumulasi. Operator harus menambah zat pemberat untuk menambah partikel- partikel untuk terjadinya tumbukan.
Warna Warna berindikasi kepada senyawa organik, dimana zat organik bereaksi dengan koagulan, menyebabkan proses koagulasi terganggu selama zat organik tersbut berada di dalam air baku dan proses koagulasi semakin sukar tercapai. Pengolahan pendahuluan terhadap air baku harus dilakukan untuk menghilangkan zat organic tersebut, dengan penambahan oksidan atau adsorben (karbon aktif).
Keefektifan koagulan atau flokulan akan berubah apabila karakteristik air baku berubah. Keefektifan bahan kimia koagulan/koagulan pembantu, dapat pula berubah untuk alasan yang tidak terlihat atau tidak diketahui, oleh karena itu ada beberapa factor yang belum diketahui yang dapat mempengaruhi koagulasi – flokulasi . Untuk masalah demikian Operator harus memilih bahan kimia terlebih dahulu, dengan menggunakan jar –test dengan variasi bahan kimia, secara tunggal atau digabungkan atau dikombinasikan.
Jar–test secara subyektif masih merupakan uji yang paling banyak digunakan dalam mengontrol koagulasi dan tergantung semata-mata kepada penglihatan kita ( secara visuil ) untuk mengevaluasi suatu interpretasi/tafsiran. Selain itu seorang Operator juga harus melakukan pengukuran pH, kekeruhan, bilamana mungkin harus melakukan uji “filtrabilitas” dan “potensial zeta”.
(2) Penentuan dosis optimum koagulan
Untuk memperoleh koagulasi yang baik, dosis optimum koagulan harus ditentukan. Dosis optimum mungkin bervariasi sesuai dengan karakteristik dan seluruh komposisi kimiawi di dalam air baku, tetapi biasanya dalam hal ini fluktuasi tidak besar, hanya pada saat-saat tertentu dimana terjadi perubahan kekeruhan yang drastis (waktu musim hujan/banjir) perlu penentuan dosis optimum berulang-ulang.
Perlu diingat bahwa hasil jar-test tidak selalu sama dengan operasional di IPA, jadi harus dibuat koreksi dosis yang dihasilkan jar-test dengan aplikasi dosis di IPA.
Seorang operator perlu membuat suatu grafik hubungan antara nilai kekeruhan vs dosis koagulan, melalui percobaan jar – test untuk variasi nilai kekeruhan ( rendah, sedang, tinggi ) selama periode waktu minimal satu tahun atau dari data – data yang lalu selama
beberapa tahun untuk sumber air baku yang sama. Sehingga dengan adanya grafik ini mempermudah penentuan dosis secara cepat jika ada perubahan kekeruhan secara tiba–tiba . Selanjutnya penentuan dosis dilanjutkan dengan melakukan jar-test.
(3) Penentuan pH optimum
Penambahan garam aluminium atau garam besi, akan menurunkan pH air, disebabkan oleh reaksi hidrolisa garam tersebut, seperti yang telah diterangkan di atas. Koagulasi optimum bagaimanapun juga akan berlangsung pada nilai pH tertentu (pH optimum), dimana pH optimum harus ditetapkan dengan jar-test.
Untuk kasus tertentu ( pada pH air baku rendah dan pada dosis koagulan yang relatif besar ) dan untuk mempertahankan pH optimum, maka diperlukan koreksi pH pada proses koagulasi, dengan penambahan bahan alkali seperti : soda abu ( Na2CO3 ) , kapur ( CaO ) atau kapur hidrat { Ca(OH)2 }. Dilakukan penentuan dosis alkali pada dosis optimum koagulan yang digunakan.
Proses Flokulasi
Setelah proses koagulasi partikel-partikel terdestabilisasi dapat saling bertumbukan membentuk agregat sehingga terbentuk flok, tahap ini disebut ” Flokulasi “. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel-partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan dapat dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi. Dengan kata lain proses flokulasi adalah proses pertumbuhan flok (partikel terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar (makroflok).
Terdapat 2 (dua) perbedaan pada proses flokulasi yaitu :
1. Flokulasi Perikinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran μm dengan mengandalkan gerakan Brownian. Biasanya koagulan ditambahkan untuk meningkatkan flokulasi perikinetik.
2. Flokulasi Ortokinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran di atas 1μm dimana gerakan Brownian diabaikan pada kecepatan tumbukan antar partikel, tetapi memerlukan pengaduk buatan (artificial mixing)
Setelah destabilisasi selesai mulai terbentuk agregasi partikel yang mana diameternya lebih kecil dari 1 mikrometer untuk sementara cuma bergerak berdasarkan difusi dan akan terjadi agregasi antar mereka. Dengan ukuran flok dan partikel yang semakin besar semakin penting terjadi agregasi yang disebabkan oleh ortokinetik , maka perbedaan kecepatan diantara partikel semakin besar, akan terjadi pembentukan flok. Dilain pihak jika flok terlalu besar tidak bisa menahan tekanan abrasi didalam air, artinya dengan nilai gradien kecepatan ( G value) yang semakin besar ukuran flok rata-rata akan menurun. Untuk mempertahankan nilai G yang berhubungan dengan ukuran partikel, pada prakteknya dilakukan semacam pengadukan pendahuluan (premixing) dengan nilai G yang tinggi, kalau sudah terjadi flok, nilai G diturunkan. Semakin lama agregat akan menumpuk semakin banyak, tahap berikutnya nilai G diturunkan. Dalam beberapa instalasi, misalnya dari nilai G = 100/dt diturunkan menjadi 10/dt. Dengan demikian ada kesempatan untuk menentukan daya enersi yang akan dimasukkan ke dalam masing-masing tahap sesuai dengan kondisi air baku dan sesuai dengan sistem pemisahan yang akan dilakukan selanjutnya.
Jika ditinjau dari mekanisme tersebut di atas, maka pada proses flokulasi memerlukan waktu (yang dinyatakan oleh waktu tinggal / detensi = td , dalam detik) yaitu waktu untuk memberi kesempatan ukuran flok menjadi lebih besar dengan berbagai cara yang sudah diterangkan di atas. Disamping memperhatikan waktu, pada proses flokulasi diperhatikan pula kecepatan pengadukan (yang dinyatakan oleh gradien kecepatan = G , dalam dt−1). Kombinasi dari kedua hal penting tersebut, yaitu nilai G x td merupakan kriteria penting yang harus dipenuhi pada proses flokulasi. Nilai spesifik adalah : 104 − 105. Jika nilai spesifik G td dilampaui, maka flok yang sudah terbentuk akan pecah kembali, sebaliknya jika kurang dari nilai spesifik, maka flok tidak akan terbentuk seperti yang diharapkan.
Untuk menghasilkan flokulasi yang baik, maka perlu diperhatikan:
 Nilai G : 20 – 70 dt−1
 Waktu tinggal (waktu ditensi) : 20 – 50 menit.
Karena proses flokulasi ini memerlukan waktu, dan kecepatan yang relatif rendah, maka flokulasi dilakukan pada unit yang disebut “Pengadukan lambat” atau biasa disebut “Flokulator” dimana jenis pengadukan bisa berupa pengaduk mekanis atau hidraulik.
Dengan dosis koagulan/flokulan pembantu (+ 0,1 – 1 mg/l) kestabilan flok bisa dipertahankan terhadap abrasi yang menjadi lebih besar dengan adanya flokulan pembantu. Penambahan koagulan/flokulan pembantu yaitu jenis polimer, flok yang terbentuk akan lebih besar pada nilai G (gradien kecepatan) yang sama.. Harus ada selisih waktu antara pembubuhan koagulan/flokulan pembantu dengan pembubuhan koagulan (misalnya Al3+ atau Fe3+). Pembubuhan koagulan/flokulan pembantu paling sedikit 30 dtk setelah pembubuhan koagulan.
Jika polimer dibubuhkan terlalu awal, kebutuhannya bisa jauh lebih besar dibandingkan dengan adanya selisih waktu diantara kedua pembubuhan tersebut di atas. Jika dicampur dengan efisien, pemakaian koagulan/flokulan pembantu akan lebih baik.
Jika ada flok yang besar yang terbentuk dengan koagulan/flokulan pembantu polimer, setelah flok ini hancur maka tidak bisa dibentuk kembali (jadi bila digunakan koagulan/flokulan pembantu polimer tidak boleh ada arus yang dapat menghancurkan flok sebelum terjadi sedimentasi atau proses separasi yang diinginkan).
Efisiensi dari proses flokulasi pada prakteknya seringkali dapat dilihat dari kualitas air setelah dilakukan pemisahan flok secara mekanik. Dengan demikian, cara pemisahan zat padat atau flok sangat penting dan sangat dipengaruhi oleh bentuk flok yang ada, misalnya untuk melakukan flotasi diperlukan bentuk flok yang lain berbeda dengan flok untuk sedimentasi. Jika dipakai sedimentasi diperlukan flok dengan berat jenis dan diameter yang besar. Pada proses flotasi dibutuhkan flok yang lebih kecil dan mempunya berat jenis yang lebih ringan tetapi mempunyai sifat untuk bergabung dengan gelembung udara. Untuk filtrasi dibutuhkan flok yang kompak yang cukup homogen dengan struktur yang kuat terhadap abrasi dan dengan sifat mudah melekat diatas partikel media penyaring (filter) untuk menjamin pemisahan yang efisien dan operasional penyaringan yang ekonomis.
Untuk efek penjernihan air secara keseluruhan, belum cukup apakah flok bisa dipisahkan dari air secara efektif, karena belum dapat menjamin dengan pasti apakah kualitas air yang diinginkan bisa tercapai hanya dengan kondisi ini saja. Selain itu dibutuhkan bahwa semua zat yang akan dihilangkan dari air juga melekat pada flok.
Untuk mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti misalnya :
 Waktu flokulasi,
 Jumlah enersi yang diberikan
 Jumlah koagulan
 Jenis dan jumlah koagulan/flokulan pembantu
 Cara pemakaian koagulan/flokulan pembantu
 Resirkulasi sebagian lumpur (jika memungkinkan)
 Penetapan pH pada proses koagulasi
a. Koagulasi, Flokulasi, dan sedimentasi.
Pentingnya Koagulasi-flokulasi di IPA
Pentingnya koagulasi-flokulasi di IPA terhadap air baku air permukaan dan air tanah yang sudah mengalami pengolahan pendahuluan; seringkali terdapat zat padat dalam bentuk atau ukuran yang tidak memungkinkan mengendap pada proses sedimentasi saja atau dengan proses lain di dalam waktu dentensi yang efisien.
Zat tersuspensi yang mempunyai ukuranlebih dari 5 – 10 μm dapat dihilangkan agak mudah dengan filtrasi atau sedimentasi dan filtrasi. Sedangkan penghilangan koloid yang tidak tercemar berat dapat menggunakan Saringan pasir lambat. Timbul kesulitan bilamana kualitas air baku tidak baik sehingga tidak semua zat koloid dan kotoran lainnya dapat dihilangkan dengan saringan pasir cepat atau saringan pasir lambat. Untuk mengatasi hal ini maka proses koagulasi dengan menggunakan bahan kimia dilakukan.
Dengan aplikasi teknologi koagulasi-flokulasi zat yang berbentuk suspensi atau koloid dirubah bentuknya menjadi zat yang dapat dipisahkan dari air. Agregasi sebagai akibat dari pemakaian koagulan/flokulan adalah tahap awal dimana selanjutnya dilakukan pemisahan flok dari air misalnya dengan proses sedimentasi, filtrasi atau flotasi.
Proses koagulasi-flokulasi selain untuk menurunkan tingkat kekeruhan untuk memperoleh air yang bening, juga ada efek samping yaitu fraksi zat tersuspensi dalam air yang seringkali menyebabkan pencemaran. Dengan koagulasi-flokulasi zat suspensi tersebut yang juga sebagai pencemar, bisa dihilangkan dari air.
Selain itu juga penting bagi proses desinfeksi dengan adanya pemisahan zat padat sebelum desinfeksi dilakukan, karena sering kali mikroorgamisme terdapat di dalam zat padat, yang tidak dapat dimusnahkan oleh proses oksidasi reduksi, karena oksidan akan tereduksi oleh zat organik didalam flok sebelum bisa menembus mikroorganisme untuk dimusnahkan.
Proses koagulasi-flokulasi bisa juga menghilangkan sebagian atau seluruh zat terlarut, sehingga hal ini yang menjadi fungsi utama dari koagulasi-flokulasi.
Teknologi koagulasi-flokulasi bisa juga dipadukan dengan proses pengendapan secara kimiawi (bukan proses pengendapan flok secara fisik), akan tetapi reaksi kimia antara koagulan/flokulan dan zat terlarut didalam air yang menghasilkan senyawa kimia yang tidak larut.
Semua zat yang ada didalam air bisa terdiri dari beberapa macam komponen misalnya organik atau anorganik. Komponen ini beraneka ragam termasuk partikel dari erosi tanah, maupun sisa tanaman, hidroksida logam hasil proses oksidasi, atau plankton, bakteri maupun virus, yang merupakan tantangan utama untuk proses pengolahan yaitu dapat merubah jenis dan komposisi zat-zat tersebut yang dilakukan dalam waktu yang cepat.
Sangat sulit untuk menghilangkan algae dan bakteri dari dalam air karena ukuran maupun sifat-sifatnya yang spesifik menyulitkan dalam proses pemisahan.
Di dalam air permukaan terdapat partikel-pertikel dengan ukuran yang berbeda. Klasifikasi yang dikenal adalah :
Molekul yang mempunyai ukuran diameter lebih kecil dari 1 nm
Koloid pada umumnya mempunyai ukuran antara 1 nm – 1 μm
Zat-zat tersuspensi mempunyai ukuran lebih besar dari 1 μm
Contoh koloid yang biasa terdapat di dalam air permukaan adalah : zat humus (asam humus), tanah liat, silika dan virus. Sedangkan yang tergolong zat tersuspensi adalah bakteria, algae, lumpur, pasir, sisa berupa kotoran organik,
Diameter partikel yang ada didalam air sangat bervariasi, hal ini menjadi dasar klasifikasi zat di dalam air juga jangkauan ukuran zat di dalam air dan waktu sedimentasi untuk beberapa zat dengan berat jenis yang berbeda, yaitu waktu sedimentasi yang dibutuhkan untuk melewati jarak 1 meter oleh 2 (dua) berat jenis zat padat yang berbeda. Sebagai contoh berat jenis 2,6 kg/lt berlaku untuk partikel silikat, berat jenis 1,1, kg/lt berlaku untuk flok hidroksida. Semua partikel yang berdiameter < 10 μm, mengendap sangat lambat bila dibandingkan dengan flok yang berukuran antara 100 – 1000 μm yang mengendap jauh lebih mudah.
Partikel-partikel terdispersi yang mempunyai ukuran lebih kecil dari 1 μm dan lebih besar dari ukuran molekul-molekul itu sendiri ( 1 nm ) disebut partikel-partikel koloid. Partikel-partikel ini dapat menghamburkan/menyebarkan cahaya menghasilkan apa yang disebut “Efek Tyndall”. Penyebaran cahaya ini di dalam sorotan cahaya hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Dengan cara ini adanya partikel-partikel secara individu di dalam larutan koloid akan nampak sebagai kilatan cahaya yang dihamburkan. Jika tidak ada pertikel-partikel koloid, tidak ada cahaya yang dihamburkan maka yang terlihat adalah bayangan hitam. Melalui mikroskop partikel-partikel koloid terlihat bergerak kesegala arah secara terus menerus, fenomena ini disebut ” Gerakan Brownian (Brownian movement) “, dimana gerakan ini disebabkan oleh bombardir partikel-partikel koloid oleh molekul air. Jadi gerakan partikel-partikel ini sebagai akibat langsung dari gerakan molekul-molekul disekelilingnya.
Muatan listrik yang dipunyai oleh partikel-partikel koloid merupakan dasar yang penting karena tanpa hal ini, larutan koloid (sol) menjadi tidak stabil. Muatan awal partikel dapat diadsorpsi di permukaan oleh gaya van der Waals dari ion spesifik, disosiasi grup fungsional tertentu atau mengganti kisi-kisi kristal Si dengan Al. Semua partikel koloid mempunyai muatan elektrik, dimana besarnya muatan bervariasi, tergantung dari material koloid dan dapat bermuatan positip dan negatip. Pada air alam (pada pH 6 – 8) pada umumnya koloid bermuatan negatif.
Kandungan ion yang dekat dengan koloid dalam air dipengaruhi oleh muatan permukaan. Koloid bermuatan negatip mempunyai konfigurasi lapisan ion. Lapisan pertama merupakan kation yang melekat pada permukaan muatan negatip yang melekat pada koloid dan bergerak bersama koloid tersebut. Ion-ion lainnya di sekitar koloid tersusun teratur dimana konsentrasi ion positip atau ion yang berlawanan lebih dekat dengan permukaan koloid. Susunan ini menghasilkan jaringan yang sangat kuat pada lapisan yang melekat dan akan berkurang kekuatannya sebanding dengan jarak koloid.
Dispersi koloid dalam air secara umum terbagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1). Sifat hidrofilik (senang air) dan
2). Sifat hidrofobik (tidak senang air)
Sifat hidrofilik menyebabkan ikatan koloid dengan air menjadi lebih kuat, sehingga koloid akan lebih stabil dan sulit dipisahkan dengan air.
Kestabilan sistem koloid hidrofobik disebabkan oleh adanya fenomena hidrasi, yaitu suatu keadaan dimana molekul-molekul air tertarik oleh permukaan koloid, sehingga menyebabkan terhalangnya kontak antara koloid yang satu dengan lainnya. Kestabilan koloid hidrofobik terjadi karena koloid-koloid bermuatan sejenis, sehingga terjadi gaya tolak menolak antar koloid. Koloid bermuatan negatip akan menarik ion yang berlawanan pada permukaan, membentuk lapisan pelindung dari air di sekelilingnya. Keadaan ini menghasilkan lapisan ganda listrik (“electrical double layer”) dari muatan positif dan negatif.
Kelebihan muatan listrik dipermukaan sering dikompensasi karena pada bagian luar dari lapisan ganda listrik, dengan konsentrasi ion yang muatannya berlawanan dan yang bersifat difusi disebabkan oleh gerakan molekul air yang disebabkan oleh termic.
Lapisan molekul air diatas permukaan partikel menghindari partikel langsung bisa bergabung dengan partikel lain dan bisa tidak mendekati cukup dekat dengan partikel yang muatannya berlawanan dan mempunyai daya tarik. Sebagai contoh untuk suspensi stabil itu adalah asam silikat yang baru mengendap, ada hidroksida maupun zat dengan molekul besar dengan proses hidrolisa lengkap misalnya ekstrak kanji (startch), protein, karbohidrat, asam humus dan polimer sintetis yang terlarut.
Permukaan zat suspensi di dalam air bisa tertutup oleh zat yang netral yang diadsorpsi diatas permukaan supaya tidak bisa terjadi lagi pendekatan dengan daya tarik ion. Terutama lapisan adsorpsi dari zat sintetis atau zat kimia alami dengan molekul besar bisa menyebabkan daya tolak yang sangat besar dan dengan ini menghindari suspensi tersebut bergabung (efek perlindungan koloid).
Edited by : @_pararaja

By : arifin_pararaja

The phosphate ion is a polyatomic ion with the empirical formula PO43− and a molar mass of 94.973 g/mol; it consists of one central phosphorus atom surrounded by four identical oxygen atoms in a tetrahedral arrangement. The phosphate ion carries a negative three formal charge and is the conjugate base of the hydrogenphosphate ion, HPO42−, which is the conjugate base of H2PO4, the dihydrogen phosphate ion, which in turn is the conjugate base of H3PO4, phosphoric acid. It is a hypervalent molecule (the phosphorus atom has 10 electrons in its valence shell). Phosphate is also an organophosphorus compound with the formula OP(OR)3

A phosphate salt forms when a positively-charged ion attaches to the negatively-charged oxygen atoms of the ion, forming an ionic compound. Many phosphates are not soluble in water at standard temperature and pressure. (lebih…)

Abdul Kadir Salam, Sri Djuniwati, Sarno, Nanik Sriyani, dan Heri Novpriansyah

Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

Pada konsentrasi tinggi semua jenis logam berat dapat bersifat racun bagi makhluk hidup. Industri akan terus-menerus menghasilkan limbah logam berat yang tinggi sehingga lingkungan dapat dicemari olehnya. Pemanfaatan kimiawi logam berat dengan berbagai komponen dalam sistem tanah diharapkan dapat menetralkannya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknik pengelolaan limbah industri berlogam berat di dalam sistem tanah dengan memanfaatkan kapur dan kompos daun tanaman.

Penelitian dilakukan dalam empat tahap. Tahap I bertujuan menentukan jenis bahan kapur dan bahan organik yang memungkinkan dapat digunakan dalam penyusunan teknologi mengurangi logam berat. Bahan organik mencakup kompos daun dari tanaman singkong, jagung, alang-alang, dan kedelai; sedangkan bahan kapur mencakup kapur karbonat (CaCO3), kapur hidroksida [Ca(OH)2], dan kapur dolomit [CaMg(CO3)2]. Jenis tanah mencakup tanah Ultisol, Oxisol, dan Andisol yang semuanya diambil dari Lampung. Contoh limbah terdiri atas limbah model berupa larutan logam berat baku dan limbah industri berupa lumpur limbah dari industri sendok logam. (lebih…)

Oleh : Dr. Sulipan

Pendahuluan

Guru adalah jabatan profesi, untuk itu seorang guru harus mampu melaksanakan tugasnya secara profesional. Seseorang dianggap profesional apabila mampu mengerjakan tugasnya dengan selalu berpegang teguh pada etika kerja, independent (bebas dari tekanan pihak luar), cepat (produktif), tepat (efektif), efisien dan inovatif serta didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan prima yang didasarkan pada unsur-unsur ilmu atau teori yang sistematis, kewenangan profesional, pengakuan masyarakat dan kode etik yang regulatif. Pengembangan wawasan dapat dilakukan melalui forum pertemuan profesi, pelatihan ataupun upaya pengembangan dan belajar secara mandiri.

Sejalan dengan hal di atas, seorang guru harus terus meningkatkan profesionalismenya melalui berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuannya dalam mengelola pembelajaran maupun kemampuan lain dalam upaya menjadikan peserta didik memiliki keterampilan belajar, mencakup keterampilan dalam memperoleh pengetahuan (learning to know), keterampilan dalam pengembangan jati diri (learning to be), keterampilan dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu (learning to do), dan keterampilan untuk dapat hidup berdampingan dengan sesama secara harmonis (learning to live together). (lebih…)

Fotosintesis adalah sebuah proses kimia yang namanya dikenal hampir oleh semua orang yang pernah bersekolah. Tetapi, kebanyakan orang tidak menyadari betapa sangat pentingnya proses ini bagi kehidupan di atas bumi, atau misteri apa yang ada di dalam proses ini.

Pertama, mari kita lupakan ilmu kimia SMU kita, dan perhatikan rumus reaksi fotosintesis ini:

6H2O + 6CO2 + cahaya matahari Z C6H12O6 + 6O2 Glukosa

Artinya: Air dan karbondioksida dan cahaya matahari menghasilkan gula dan oksigen.

Secara lebih terperinci, yang terjadi dalam reaksi kimia ini adalah, enam molekul air (H2O) bergabung dengan enam molekul karbondioksida (CO2) dalam reaksi yang mendapatkan energi dari sinar matahari. Saat reaksi selesai, hasilnya adalah sebuah molekul glukosa (C6H12O6), gula sederhana yang merupakan elemen makanan yang penting, dan enam molekul gas oksigen (O2). Sebagai sumber semua makanan di planet kita, glukosa mengandung energi yang sangat besar. (lebih…)

Oleh : Achmad Faisol

Salah satu penyakit yang harus dicuci bersih dari dalam hati kita yaitu ‘ujub. ‘Ujub adalah bangga terhadap diri sendiri, misalnya terhadap ibadah, ilmu, harta, kecantikan, kedudukan, kekuasaan dan sebagainya.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa ‘ujub dibagi dua, yaitu :

  • ‘Ujub terhadap perbuatan yang dilakukan atas kehendak diri (dengan usaha), misalnya ilmu, ibadah, sedekah, memberikan kesejahteraan kepada umat, perang dan sejenisnya.
  • ‘Ujub terhadap apa-apa yang bukan atas kehendaknya sendiri seperti garis keturunan, warna kulit, ras dan lainnya.

(lebih…)

Dimas Satya Lesmana1

Chemwatch / Chemcare Asia

1) Country Representatives Chemwatch

Abstrak

Global Harmonized System (GHS) yang dimandatkan oleh PBB melalui ILO telah mewajibkan perubahan global dalam hal komunikasi bahaya termasuk Klasifikasi Bahaya, MSDS, beserta Penandaannya. Implementasi GHS menyangkut MSDS memerlukan pembahasan lintas sektoral terkait dengan amandemen dan revisi peraturan perundangan terkait. Makalah ini membahas mengenai implementasi MSDS berdasarkan mandat GHS dan perubahan apa saja yang diperlukan dalam menjawab tantangan global.

Kata kunci: MSDS, GHS, Implementasi, Global (lebih…)

Kabar gembira untuk para pengembang ethanol yang ada di Indonesia, pemurnian ethanol yang selama ini menggunakan teknologi destilasi yang cukup rumit dan memakan cost produksi yang tinggi kini dapat digantikan dengan sebuah alat mungil yang disebut sebagai membran pervaporasi.

Adalah Dr I Gede Wenten MSc, dosen Teknologi Kimia Institut Teknologi Bandung yang merupakan  salah satu Ahli Teknologi Membran, memanfaatkan polivinilalkohol dan kitosan sebagai bahan baku membran. Keduanya bersifat hidrofilik alias tidak menyerap air sehingga selektif terhadap air dan tidak mudah mengembang. Yang digunakan adalah membran tidak berpori sehingga hanya uap air yang mampu melewatinya, sedangkan larutan etanol ditolak oleh membran. (lebih…)


untuk melihat gambar lebih jelas klik dua kali

Prinsip pembuatan etanol sangat sederhana, etanol berkadar 6-12% dimasukan ketangki evaporator dan dipanaskan sampai temperatur 78 C (titik didih etanol). Temperatur ini perlu dijaga karena jika temperatur didalam evaporator melewati 80 C, uap air akan ikut masuk kealat destilasi. uap etanol dialirkan alat destilasi, dialam alat destilasi uap etanol akan terkondensasi menjadi etanol cair. (lebih…)

Inilah terowongan mini yang mampu menaikkan kadar etanol hingga 99,8%. Terowongan itu terbuat dari pipa PVC berdiameter 10 cm. Di dalamnya terdapat membran berbahan baku polivinilalkohol yang mirip kabel. Bioetanol yang melewati terowongan itu akan melonjak kadar kemurniannya sehingga bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar. (lebih…)

Oleh : Achmad Faisol

Terkadang penulis ditanya orang dengan nada dan gaya penuh selidik, “Lulusan mana?”

Setelah dijawab, ternyata masih ada pertanyaan lanjutan, “Jurusan apa?”

Karena pengalaman menjawab “kuesioner” seperti ini, maka biasanya penulis langsung menjawab sekaligus ketika pertanyaan pertama diajukan. Penulis tak hendak sû’uzh zhan, tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap perguruan tinggi atau sekolah mempunyai peringkat (ranking), brand dan reputasi berbeda-beda. Begitu pula setiap jurusan yang ada. Terlebih lagi, masyarakat kita masih memandang adanya perbedaan prestise atau gengsi antara sekolah/kuliah di dalam dan luar negeri.

Kalau kita pada posisi penanya, kira-kira apa tujuan kita bertanya seperti itu? Untuk perkenalankah? Saling memahamikah? Ataukah untuk mengetahui kualitas orang yang kita tanya?

Permasalahan yang mungkin timbul yaitu :

  • Jika orang yang kita tanya ternyata posisinya di bawah kita, dikuatirkan muncul sifat tidak terpuji dalam diri kita. Kita akan meremehkan orang itu, baik dalam ucapan maupun tindakan.
  • Kalau orang tersebut berkualitas di atas kita, dikuatirkan timbul minder dalam diri kita. Akibatnya kita jadi salah tingkah atau malah bicara tidak karuan dengan harapan agar kita dianggap sebagai seorang cerdik-pandai.

Bahkan, tak mau ketinggalan, para orang tua pun sering saling bertanya, “Anakmu sekolah/kuliah di mana? Jurusan apa?”

Selain kebiasaan mengajukan pertanyaan seperti di atas, seringkali kita juga mencantumkan gelar mengiringi nama kita nan indah. Umumnya gelar dibagi menjadi tiga, yaitu :

  • Gelar akademik

Gelar ini diperoleh lewat jalur pendidikan formal, misalnya diploma, sarjana, pasca sarjana dan sejenisnya.

  • Gelar profesional

Gelar ini tak terhitung variasinya. Di bidang Teknologi Informasi saja, setiap vendor mengeluarkan gelar. Penulis pernah membaca sebuah buku TI yang ditulis oleh seorang Ph.D dan mempunyai 25 gelar profesional—ada Cisco, Unix Sun Solaris, Microsoft, Novell bahkan Hardware PC A+. Saking banyaknya, akhirnya gelar-gelar tersebut ditulis menurun, bukan mengiringi nama beliau.

  • Gelar kemasyarakatan

Gelar ini pun bermacam-macam, sebagai contoh Gus, Haji, Raden, Ustadz, Kyai, Syaikh, Ajengan, Tuan Guru, Tengku, al-‘Âlim, al-‘Allâmah, al-Fâdhil, al-Faqîh, al-Hâfizh dan sebagainya.

Barangkali kita akan bertanya, “Apakah salah kalau kita mencantumkan gelar kesarjanaan yang kita peroleh dengan susah payah dan biaya berjuta-juta? Bertahun-tahun kita kuliah, salahkah bila kita senantiasa menulis gelar tersebut sebagai bukti bahwa kita telah berhasil menyelesaikan studi?”

Tidak ada yang salah dengan pencantuman gelar mengiringi nama syahdu kita. Namun, mari kita bersama-sama introspeksi diri, buat apakah pencantuman gelar tersebut?

Apakah kita mencantumkan gelar karena memang disyaratkan demikian, misalnya dalam struktur organisasi perguruan tinggi atau ketika menulis Curriculum Vitae?

Apakah kita mencantumkan gelar sebagai informasi bagi orang lain bahwa kita dapat mempertanggungjawabkan semua tulisan atau perkataan kita?

Ataukah kita mencantumkan gelar agar orang lain tahu bahwa kita pintar, canggih dan hebat? Agar orang lain mengerti bahwa status dan strata sosial kita begitu tinggi? Agar orang lain tidak menganggap kita remeh dan sekaligus harus menghormati kita?

Bukankah kita tak ‘kan pernah melupakan sabda Nabi Muhammad saw. yang begitu sering dituturkan?

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّـيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِىءٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya segala amal itu tergantung dari niatnya dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diniatkannya. (Muttafaq ‘alayh)

Tak usahlah kita menyibukkan diri mengamati orang lain. Mari kita cermati dan introspeksi diri kita sendiri.

KH. Muchit Murtadlo (Surabaya) dan KH. Masrihan (Mojokerto) pernah menasihatkan bahwa seorang kyai tidak boleh menggunakan ke-kyai-annya untuk kepentingan duniawi (pribadi). Misal, seorang kyai berkata kepada santrinya, “Tolong belikan nasi goreng, ya nak… Bilang saja Pak Kyai yang pesan, biar tidak perlu antri…”

Perintah tersebut tak elok didengar, apalagi dilaksanakan. Seorang kyai tak selayaknya menyuruh santri berbuat demikian, walaupun bagi sebagian orang hal ini termasuk kategori wajar dan lumrah. Kenapa? Karena kita seharusnya tidak memandang diri kita tinggi, apalagi minta diperlakukan lebih.

Sebuah kasus lain yang masih ada relevansi dengan inti permasalahan yang sedang dibahas (walaupun menyimpang dari judul) yaitu tentang pemakaian sarung, sebuah perlengkapan ibadah yang lazim digunakan oleh kaum muslim Indonesia dan sekitarnya.

Ada apa dengan sarung?

Biasanya, di sebuah sarung ada bagian yang agak berbeda—lebih gelap atau lebih terang daripada bagian lain—dengan tujuan agar diletakkan di bagian belakang tubuh. Di bagian bawahnya terdapat semacam kain stiker atau tulisan tanda merk. Sejak penulis sekolah, almarhum orang tua penulis mengajarkan agar meletakkan tanda merk sarung di atas (bagian yang dilipat), sehingga tidak terlihat oleh orang lain. Tujuannya untuk menghindari fitnah.

Jika ada orang melihat merk sarung kita, sedangkan orang itu memakai sarung yang lebih mahal, dikuatirkan akan timbul sifat meremehkan di sisi orang itu, dan rendah diri di sisi kita. Namun, jika yang melihat memakai sarung yang merknya berharga lebih murah, dikuatirkan akan menimbulkan iri hati pada yang memandang dan sifat sombong pada diri kita.

Alasan kedua yaitu agar tanda merk tersebut tidak terbaca orang yang sedang shalat di shaf belakang kita. Dengan demikian ketika menundukkan pandangannya ke arah sujud, ia tidak akan terganggu. Oleh karena itu, maka bagian bawah sarung dijadikan bagian atas, begitu pula sebaliknya. Nasihat tersebut penulis jalankan terus sampai sekarang.

Lucunya, ada sarung yang merknya bukanlah stiker atau kain dijahit, melainkan sebuah tulisan dan berada di sisi atas serta bawah sarung. Sungguh kreatif sekali. Dengan begitu, tidak bisa ditentukan mana bagian atas, dan mana bagian bawah. Akhirnya, penulis punya inisiatif sendiri, bagian belakang sarung diletakkan di depan dan dilipat sehingga tidak terlihat. Dengan demikian, yang tampak adalah bagian yang semuanya sama. Bukankah kreativitas harus ditandingi dengan kreativitas pula? :-)

Bersambung…!

MRP9000(tm) menyediakan sarana berupa sistem pengendali bagi kegiatan manufaktur, yang menggabungkan filosofi dari MRPII dan teknik penyelenggaraan operasional yang menjadi standar kendali mutu yang lazim dikenal dengan sebutan ISO 9000 itu.

Standar kendali atas kualitas tersebut akan membentuk sebuah sistem yang terintegrasi secara penuh, sebuah paket software manufaktur yang benar-benar lengkap, yang memungkinkan aktivitas bisnis menjadi cukup kompetitif guna bersaing secara internasional.

Paket MRP ini bekerja dengan Microsoft Access yang bekerja dalam platform Windows NT dan SQL server. MRP9000 menawarkan kemampuan olah yang benar-benar akrab bagi penggunanya, dalam lingkungan operasi client server pada format Windows yang sudah sangat populer saat ini, seraya menerapkan pula sarana bantu yang benar-benar sempurna yang akan menyediakan kesempatan bagi manufaktur untuk memasuki arena persaingan global yang semakin ketat dewasa ini.

MRP9000 dirancang berdasarkan software manufaktur yang sudah teruji keberhasilannya, PRO:MAN, yang sudah diterapkan pada ratusan pengguna manufaktur di seluruh dunia, untuk bisa memenuhi kegiatan bisnis yang terdiri dari aktivitas memproduksi-dan-menyimpan-sebagai-persediaan atau yang bisnisnya adalah memproduksi-berdasarkan-pesanan.

Sistem bakunya meliputi software untuk inventory control, penjualan dan pemasaran, pembelian, perencanaan produksi, MRP/CRP, pengendalian manufaktur, serta laporan keuangan yang lengkap. Sejumlah tambahan juga tersedia meliputi Multi-Location/Lot Tracking, Quoting/Estimating, Physical Inventory, Shop Floor Control, TeleData, Return Material Authorization, Engineering Change Order, dan TeleData. Semua modul tersebut bekerja secara integrated dan dioperasikan dalam modus online dan real-time.

Proven Cycle Design (Siklus desain yang teruji)

MRP9000 terdiri dari lima buah siklus yang lengkap dan integrated, yang terdiri dari Inventory, Sell, Plan, Make, dan Buy.

Semua siklus tersebut ditayangkan dalam bentuk grafis yang menggambarkan diagram alir, serta bekerja secara bebas satu sama lainnya, meski tetap terintegrasi secara penuh.

Informasi dimasukkan pada sebuah siklus akan bisa digunakan oleh siklus lain yang berkaitan, sehingga tidak menyebabkan terjadinya duplikasi masukan data.

Microsoft Access 97

MRP9000 ditulis dengan menggunakan Microsoft Access. Dengan catatan penjualan yang mencapai lebih dari 10-juta keping saat ini, maka boleh dibilang kalau Access adalah salah satu dari software database yang paling populer selama ini.
Berdasarkan catatan yang dikeluarkan oleh Microsoft, saat ini frekuensi penjualan Access terjadi tiap sembilan detik sekali dibagian manapun di dunia ini. Access akan terus-menerus dikembangkan dan diperbaiki, dan akan menjadi bendera utama paket database dari Microsoft.

Keadaan seperti itu merupakan sebuah petunjuk yang sangat penting mengenai betapa terjaminnya pengguna software MRP9000 in, mengingat Microsoft Access akan terus berkembang menjadi standar database yang mendunia. Versinya yang untuk SQL Server sudah pula diluncurkan, yang akan memberikan kemampuan untuk diterapkan di kelas bisnis tingkat yang mana pun, serta memiliki kemampuan handal yang menjadi kebutuhan organisasi bisnis besar pada umumnya.

Interconnectability (saling terkoneksi dengan yang lain)

Karena MRP9000 bekerja pada Microsoft Access maka hubungannya dengan aplikasi-aplikasi lain keluaran Microsoft seperti Excel, E-Mail, Project, Word, dan lain sebagainya, akan berlangsung secara mulus tanpa hambatan.
Dengan kemampuannya tersebut maka aplikasi MRP9000 semakin meluas pula kemampuannya sehingga sistem mampu menghasilkan informasi lebih banyak, meliputi grafis, jaringan, dan konektivitas perkantoran secara menyeluruh.

Microsoft Access juga memiliki seperangkat standar untuk melakukan hubungan dengan sistem database lain melalui ODBC (Open Data Base Connectivity), yang memungkinkan data-data yang berasal dari sistem database lain untuk saling termanfaatkan dengan program-program, pelaporan, dan grafik yang terdapat di MRP9000.

Mudah dioperasikan.

MRP9000 mudah diinstal dan sekaligus juga mudah pengoperasiannya. Hal ini dikarenakan panduan operasionalnya yang menggunakan tampilan grafis yang menerapkan format Windows sepenuhnya. Tak dibutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya, khususnya bagi mereka yang masih baru mengenalnya, dibandingkan dengan aplikasi-aplikasi manufaktur yang lain. Ini disebabkan oleh penggunaan ilustrasi grafis yang sempurna untuk menggambarkan aliran dan urutan proses masing-masing manufaktur pemakai sistem ini, serta adanya fasilitas bantu, ‘help’, yang bisa langsung dipanggil untuk memberikan uraian yang jelas sebagai penjelasannya, dengan cara meng-klik-nya saja.

 

Adopted from : Intuitive Manufacturing System, Inc.

Oleh: A. Zaenal Mustopa, M.Si (Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong)

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang banyak menimbulkan masalah di Indonesia. Penyakit yang lebih populer dengan nama muntah berak atau muntaber termasuk penyakit endemis di Indonesia, artinya terjadi secara terus menerus di semua daerah, baik pedesaan maupun perkotaan. Penyakit yang mewabah setiap tahun ini sepertinya merupakan penderitaan yang terus akan dialami. Sampai saat ini belum terlihat usaha konkrit dan sistematis dari pemerintah untuk menanggulangi wabah diare di negeri ini.

Diare adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC). Budiarti (1997) melaporkan bahwa sekitar 55% anak-anak di Indonesia terkena diare akibat infeksi EPEC. Gejala klinis diare yang disebabkan infeksi EPEC adalah diare yang berair sangat banyak yang disertai muntah dan badan sedikit demam (Cary dan Bhatnager, 2000 mengacu pada Donnenberg, 2001). (lebih…)

Erliza Hambali, Erliza Noor, Zainal Alim Mas’ud, dan Chilwan Pandji

Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Lemak tengkawang mempunyai ciri mirip dengan lemak kakao, oleh karena itu lemak ini berpotensi sebagai cocoa butter substitute (CBS).  Potensi ini sangat menguntungkan secara ekonomis karena harga lemak tengkawang jauh lebih murah,  yaitu 20-25% dari harga lemak kakao.  Penggunaan lemak tengkawang merupakan alternatif yang baik dalam pembuatan kosmetik yang selama ini banyak menggunakan lemak kakao.  Penelitian ini bertujuan melihat pengunaan lemak tengkawang sebagai bahan dasar lipstik.  Melihat perkembangan produksi lipstik Indonesia yang cukup besar, diperkirakan sekitar 300 ribu sampai 400 ribu batang per tahun, diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemanfaatan hasil hutan Indonesia. 

Untuk memperoleh lemak, biji tengkawang dikeringkan. Hasil optimum didapatkan dengan pengeringan menggunakan oven tipe rak pada suhu 50-60°C selama 28 jam yang menghasilkan kadar air 8.5%. Selanjutnya biji kering ini diekstraksi. Dari tiga cara estraksi yang dicobakan, yakni cara pengempaan, perebusan, dan pelarutan, telah diperbaiki metode ekstraksi dengan cara pengempaan. Biji dikempa menggunakan mesin kempa panas pada suhu 50-60°C dan tekanan 140 kg.cm2 selama 4 menit. Bungkil sisa kempaan selanjutnya diekstraksi dengan pelarut heksana teknis selama 6 jam dan pengecilan ukuran 16 mesh. Ciri lemak tengkawang yang dihasilkan hampir sama dengan ciri lemak kakao. 

Untuk pembuatan bahan lispstik, dilakukan analisis fosfolipid dan degumming terhadap lemak. Berhubung kandungan fosfatidil kolina kurang dari 55%, metode degumming dilaksanakan dengan asam. Metode degumming terbaik ialah metode dengan asam sitrat 20% sebanyak 0.3% (b/b) dibandingkan yang menggunakan asam fosfat 20% dengan campuran yang sama. Campuran lemak dan asam dipanaskan pada suhu 80°C selama 10 menit, dicusi dengan air, didiamkan selama 20 menit, lalu gum dipisahkan dari lemak. 

Segmentasi pasar dikaji dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada para konsumen lipstik dan melalui pengamatan. Segmentasi produk lipstik yang dihasilkan ialah untuk pelajar dan mahasiswa yang berusia 15-24 tahun dengan lipstik berbentuk batang, warna muda dan terang, serta menempel dengan baik. 

Formulasi dasar lipstik didahului dengan menentukan kemurnian bahan yang dipakai. Bahan-bahan yang dianalisis ialah malam (wax) kandelila, malam karnauba, malam ozokerit, minyak jarak, dan lemak tengkawang. Selanjutnya dicari nisbah malam karnauba dengan ozokerit, nisbah malam kandelila dengan malam ozokerit, dan menentukan suhu proses pembuatan dan suhu penuangan ke dalam cetakan. Dari campuran bahan tersebut telah dibuat tiga formula dasar lipstik. Penggunaan lemak tengkawang sampai 50% dalam formulasi dasar lipstik masih memungkinkan.

Tahapan penelitian berikutnya terbagi atas tiga bagian, yaitu netralisasi lemak tengkawang, pemucatan (bleaching) lemak tengkawang dan formulasi lipstik menggunakan lemak tengkawang dan pewarna alami. Netralisasi dilakukan dengan menggunakan larutan kaustik soda pada konsentrasi 5°, 8°, dan 10° Be pada suhu 70°C selama 10 menit. Netralisasi dengan 3 taraf konsentrasi larutan kaustik soda ini hanya memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap rendemen lemak netral yang dihasilkan, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, titik cair, bilangan asam, bilangan iodin, bilangan peroksida, dan kejernihan lemak netral yang dihasilkan. Berdasarkan hasil analisis terhadap semua parameter yang diukur, netralisasi lemak tengkawang dengan NaOH 10° Be merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan lemak netral dengan rendemen 89.45%, kadar asam lemak bebas 0.13% dan bilangan peroksida 4.17. 

Pemucatan lemak tengkawang dilakukan dengan menggunakan 2 jenis lempung aktif, yaitu bentonit dan sepiolit, masing-masing pada konsentrasi 1, 1.5, dan 2%. Proses ini dilakukan dalam kondisi vakum pada suhu 120°C selama 30 menit. Perlakuan yang paling efektif dan efisien untuk menghasilkan lemak tengkawang pucat ialah dengan menggunakan bentonit 2% dengan nilai transmitan sebesar 87.3%, bilangan asam 1.44 (asam lemak bebas = 0.75%). 

Penggunaan lemak tengkawang dalam formula lipstik pada tahap penelitian ini dikombinasikan dengan penggunaan pigmen yang dihasilkan dari Porphyridum cruentum sebagai pewarna alami. Dalam formulasi lipstik menggunakan pigmen alami ini ditambahkan lemak tengkawang sejumlah 3, 4, dan 5% (b/b) dan pigmen dalam jumlah 6, 7, dan 8% (b/b). Penambahan lemak tengkawang pada formula lipstik berpengaruh nyata terhadap kekerasan lipstik dan berpengaruh sangat nyata terhadap titik leleh lipstik. Sebaliknya pigmen hanya berpengaruh sangat nyata terhadap titik leleh lipstik. Namun interaksi antara kedua perlakuan ini tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kedua ciri lipstik tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa formulasi lipstik yang paling baik ialah yang menggunakan lemak tengkawang sebanyak 3% (b/b) dengan penambahan pigmen alami dari P. cruentum sebanyak 8% (b/b).

 

Adopted from : Hibah Bersaing V

 

 Asep Wahyu Nugraha 1

 

1Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Medan, Jl. Willem Iskandar Psr. V Medan, Sumatera Utara

 

ABSTRACT

Kegiatan Praktikum di Perguruan Tinggi bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia dapat dijadikan bekal dalam rangka pelaksanaan kegiatan praktikum di SMA. Kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa calon guru adalah memilih materi praktikum, kemampuan menyusun penuntun berdasarkan fasilitas yang ada di sekolah, membuat persiapan praktikum, membimbing pelaksanaan praktikum, serta mengelola laboratorium kimia.

Dalam upaya peningkatan kompetensi mahasiswa maka upaya penyempurnaan pelaksanaan kegiatan praktikum kimia  merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan. Selama ini kegiatan praktikum secara umum dan kegiatan Praktikum Kimia Fisika secara khusus dilaksanakan kurang mengoptimalkan keterampilan proses IPA. Dalam kegiatan ini ditawarkan suatu model praktikum yang berusaha mengoptimalkan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset. Kegiatan ini telah dilaksanakan mulai 25 Agustus 2006 sampai dengan 29 November 2006 di Laboratorium Kimia Fisika FMIPA UNIMED.

Hasil dari kegiatan ini adalah:

1.  Model Praktikum Kimia Fisika 2 menggunakan model praktikum semi riset meliputi 7 (tujuh) langkah kegiatan yaitu: penjelasan singkat untuk seluruh percobaan, Pemberian tes pra praktikum, membuat laporan sementara, membuat laporan lengkap, menyusun penuntun praktikum kimia SMA, mengkomunikasikan Penuntun Praktikum, mengadakan uji coba penuntun praktikum yang telah disusun.

2.  Hasil yang diperoleh dalam penerapan model praktikum semi riset adalah sebagai berikut:

a.  Rata-rata  daya  serap  mahasiswa  terhadap  materi  praktikum  sebesar 74, 77%  sedangkan base line 59%.

b.  Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang dihasilkan dalam kegiatan pembelajaran sebesar 4 judul.

c.  Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang diuji-cobakan dalam kegiatan pembelajaran sebesar 4 judul.

 

Kata kunci:      praktikum Kimia, semi riset, pendekatan keterampilan proses IPA

 

  

PENDAHULUAN

Kegiatan laboratorium merupakan kegiatan yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya Ilmu Kimia. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan bidang yang mengkaji fakta-fakta empiris yang ada di alam, sehingga untuk mempelajarinya harus melalui pengkajian di laboratorium yang didisain sebagai miniatur alam. Selain kegiatan laboratorium yang merupakan sarana untuk mengembangkan dan menerapkan keterampilan proses IPA, membangkitkan minat belajar dan memberikan bukti-bukti bagi kebenaran teori atau konsep-konsep yang telah dipelajari mahasiswa sehingga teori atau konsep-konsep tersebut menjadi lebih bermakna pada struktur kognitif mahasiswa.

Matakuliah-matakuliah Kimia Fisika merupakan salah satu kelompok matakuliah di Jurusan Kimia, dimana para dosennya tergabung dalam Kelompok Dosen Bidang Kajian Kimia Fisika. Matakuliah-matakuliah Kimia Fisika sering disebut juga dengan Kimia Teori karena berisi konsep-konsep dasar dalam ilmu kimia. Secara garis besar materi Kimia Fisika meliputi: Gas, Termodinamika, Kinetika Kimia, Kesetimbangan Kimia, Larutan, Konsep Daya Hantar, Elektrokimia, Kimia Kuantum, Ikatan Kimia, dan Radiokimia. Disamping matakuliah-matakuliah teori, matakuliah Kimia Fisika juga disertai dengan matakuliah praktikum. Pada saat ini di Program Studi Pendidikan Kimia Praktikum Kimia Fisika dibagi menjadi dua matakuliah dengan bobot 1 SKS, yaitu matakuliah Praktikum Kimia Fisika 1 dan matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2. Matakuliah yang dikaji dalam kegiatan ini adalah matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2, yang meliputi materi-materi Kinetika Reaksi, Larutan, Konsep Daya Hantar, dan Elektrokimia. Secara hierarki matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2 ini merupakan kelanjutan dari matakuliah Praktikum Kimia Fisika 1.

Kedudukan matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2 merupakan kelompok matakuliah  Bidang Studi yang akan memberikan bekal kepada mahasiswa calon guru dalam hal penguasaan materi kimia. Penguasaan materi Praktikum Kimia Fisika 2 merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh mahasiswa calon guru kimia. Pada kurikulum Berbasis Kompetensi Program Studi Pendidikan Kimia, matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2 diberikan pada semester V yang merupakan kelanjutan dari matakuliah Praktikum Kimia Fisika 1. Matakuliah-matakuliah yang mendukung matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2 adalah Praktikum Kimia Fisika 1, Praktikum Kimia Dasar 1 dan 2, Praktikum Fisika Dasar 1 dan 2, matakuliah Kimia Dasar 1 dan 2, serta matakuliah Kimia Fisika 1 dan 2.

Sejalan dengan hal tersebut, kegiatan laboratorium dalam hal ini praktikum Kimia Fisika 2 diharapkan dapat berfungsi disamping sebagai pendukung untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep Kimia Fisika, juga dapat meningkatkan penguasaan keterampilan proses IPA sehingga dapat menjadi bekal bagi mahasiswa pada saat pelaksanaan kegiatan laboratorium untuk kepentingan penelitian. Lebih jauh lagi penguasaan keterampilan proses IPA oleh mahasiswa LPTK diharapkan dapat menjadi bekal bagi mereka untuk melaksanakan kegiatan demontrasi/ eksperimen di sekolah. Seperti diketahui bahwa metode demonstrasi/ eksperimen merupakan salah satu metode yang memegang peranan penting dalam proses pengajaran ilmu kimia di SMU. Apalagi dalam kurikulum SMA yang berbasis kompetensi kegiatan praktikum Kimia merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh siswa. Sehingga pelaksanaan kegiatan praktikum di SMU merupakan suatu keharusan.

Setelah terjun langsung dalam pelaksanaan praktikum Kimia Fisika baik Praktikum Kimia Fisika 1 maupun Praktikum Kimia Fisika 2 selama kurang lebih 10 tahun (1993-1996 dan 2000-2006) dan pengawasan pelaksanaan kegiatan laboratorium mehasiswa yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan tugas akhir, kami menemukan bahwa kebanyakan mahasiswa melakukan praktikum tanpa persiapan yang matang baik persiapan berupa pengetahuan teori atau konsep-konsep yang berkaitan dengan praktikum yang akan dilakukannya maupun persiapan penguasaan keterampilan proses IPA dalam pelaksanaan praktikum. Banyak mahasiswa yang melaksanakan kegiatan praktikum hanya mengikuti prosedur saja yang terdapat pada Penuntun Praktikum tanpa mengetahui maksud dan tujuan prosedur tersebut. Kegiatan praktikum yang dilaksanakan hanyalah melaksanakan prosedur kerja yang telah disusun dosen pembimbing praktikum yang terdapat dalam Buku Penuntun Praktikum.

Kegiatan Praktikum di Perguruan Tinggi bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia dapat dijadikan bekal dalam rangka pelaksanaan kegiatan praktikum di SMA. Kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa calon guru adalah memilih materi praktikum, kemampuan menyusun penuntun berdasarkan fasilitas yang ada di sekolah, membuat persiapan praktikum, membimbing pelaksanaan praktikum, serta mengelola laboratorium kimia.

Ilmu Kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA) yang secara garis besar mencakup dua bagian, yakni kimia sebagai proses dan kimia sebagai produk. Kimia sebagai produk meliputi sekumpulan pengetahuan yang terdiri atas fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip ilmu kimia. Sedangkan kimia sebagai proses meliputi keterampilan-keterampilan dan sikap yang dimiliki oleh para ilmuwan untuk memperoleh dan mengembangkan produk kimia. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan Keterampilan Proses IPA, sedangkan sikap-sikap yang dimiliki oleh para ilmuwan dikenal sebagai sikap ilmiah.

Ratna Wilis Dahar (1986) mengemukakan bahwa keterampilan proses IPA meliputi keterampilan-keterampilan: mengamati, menafsirkan pengamatan, meramalkan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, merencanakan penelitian, dan berkomunikasi. Secara operasional masing-masing keterampilan proses IPA tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

 

Mengamati, meliputi keterampilan:

·     Menggunakan indera dalam mengamati fakta-fakta yang relevan dan memadai.

·     Mencari kesamaan dan perbedaan.

·     Menafsirkan pengamatan, meliputi keterampilan:

a. Mencatat hasil pengamatan secara terpisah

b. Menghubungkan hasil pengamatan

c. Menemukan suatu pola dalam satu seri pengamatan

d. Menarik kesimpulan.

Meramalkan, meliputi keterampilan:

·     Mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati berdasarkan hasil pengamatan yang sudah ada.

·     Menggunakan alat dan bahan, meliputi keterampilan:

a. Menggunakan alat-alat laboratorium dalam suatu percobaan.

b. Menggunakan bahan-bahan dalam satu percobaan.

 

Menerapkan konsep, meliputi keterampilan:

·     Menggunakan konsep pada pengalaman baru untuk menjelaskan peristiwa yang sedang terjadi.

·     Menyusun hipotesis.

 

Merencanakan percobaan, meliputi keterampilan:

a. Menentukan alat, bahan, dan sumber yang akan dipergunakan dalam satu percobaan.

b. Menentukan apa yang akan diamati, diukur, dan ditulis.

c. Menentukan cara dan langkah-langkah kerja yang akan dilakukan dalam suatu percobaan.

 

Berkomunikasi, meliputi keterampilan:

·     Menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis.

·     Mendiskusikan hasil percobaan

·     Menggambarkan data dengan grafik, tabel, atau diagram.

 

Dalam upaya peningkatan kompetensi mahasiswa maka upaya penyempurnaan pelaksanaan kegiatan Praktikum Kimia Fisika 2 merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan. Selama kegiatan praktikum secara umum dan kegiatan Praktikum Kimia Fisika secara khusus dilaksanakan kurang mengoptimalkan keterampilan proses IPA. Kegiatan praktikum yang umumnya dilaksanakan hanya sekedar melaksanakan prosedur yang telah tertulis dalam penuntun praktikum meskipun setiap percobaan selalu disertai dengan kegiatan pelaporan. Dalam kegiatan ini ditawarkan suatu model praktikum yang berusaha mengoptimalkan keterampilan proses IPA dengan berbagai kegiatan sebagai berikut:

1.   Penjelasan singkat tentang dasar teori, cara kerja, pengolahan data, dan pengembangan prosedur.

2.   Pelaksanaan kegiatan praktikum yang meliputi: pengembangan keterampilan dasar laboratorium, pelaksanaan prosedur, pengamatan hasil percobaan, dan pembuatan laporan sementara.

3.   Penyusunan Laporan Praktikum yang meliputi pengembangan kemampuan mengolah data hasil pengamatan dan mengkomunikasikannya dalam bentuk laporan praktikum.

4.   Penyusunan Penuntun Praktikum Kimia SMA dengan materi yang telah ditentukan dengan dasar teori seperti telah dilakukan dalam kegiatan praktikum. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengembangan konsep yang telah dimiliki untuk diaplikasikan dalam berbagai kondisi.

5.   Diskusi tentang hasil penuntun praktikum kimia SMA yang telah disusun. Dalam kegiatan ini dikembangkan kemampuan untuk menyajikan hasil pemikiran dan mempertahankan argumentasi dalam penyusunan penuntun praktikum tersebut. Hasil dari kegiatan ini diharapkan penuntun praktikum betul-betul valid secara konsep maupun dapat dilaksanakan di laboratorium.

6.   Uji coba penuntun praktikum kimia SMA. Penuntun praktikum yang telah disusun dan direvisi diuji coba di laboratorium untuk membuktikan bahwa penuntun praktikum tersebut betul-betul dapat dilaksanakan.

 

Berdasar uraian diatas dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:

1.   Kemampuan alumni Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA UNIMED dalam hal penyusunan penuntun praktikum di SMA masih rendah.

2.   Kemampuan alumni Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA UNIMED dalam hal modifikasi penuntun praktikum di SMA masih rendah.

3.   Kegiatan praktikum kimia fisika yang dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA UNIMED belum mengembangkan keterampilan proses IPA.

Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah Praktikum Kimia Fisika 2 sehingga dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap materi praktikum dan dapat mengembangkannya. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Membuat model pembelajaran Praktikum Kimia Fisika 2 dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset.

2. Meningkatkan daya serap mahasiswa pada Praktikum Kimia Fisika 2 dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset.

3. Menentukan permasalahan yang muncul dalam Praktikum Kimia Fisika 2 dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset.

4. Menentukan daya serap mahasiswa terhadap Praktikum Kimia Fisika 2 dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset.

Secara umum dengan adanya pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset akan memberikan nilai lebih pada proses pembelajaran di laboratorium. Secara khusus kontribusi dari penelitian ini  adalah untuk

• Pengajar ( Dosen):

1.   Proses pembelajaran yang disajikan menjadi lebih terarah karena dituntun oleh model pembelajaran yang telah teratur.

2.   Adanya model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa pada materi Praktikum Kimia Fisika 2.

• Mahasiswa

1. Pada mahasiswa terjadi perubahan sikap, yakni mahasiswa yang mengikuti kegiatan praktikum terpadu diharapkan setiap kali akan praktikum mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga pada saat melakukan praktikum, mahasiswa tersebut dapat menerapkan poin-poin keterampilan proses IPA yang harus dilakukannya.

2. Dapat diketahui kesulitan-keslitan yang dihadapi mahasiswa dalam menerapkan dan mengembangkan keterampilan proses IPA pada saat melakukan praktikum.

3. Dapat diketahui hubungan atau peranan kesiapan mahasiswa sebelum melaksanakan praktikum dengan kemampuan mahasiswa menerapkan dan meningkatkan keterampilan proses IPA pada saat mahasiswa melakukan praktikum.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Kimia FMIPA UNIMED mulai tanggal 25 Agustus 2006 sampai dengan 29 November 2006. Mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Kimia FMIPA UNIMED 2004/ 2005 kelas A.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini dibutuhkan sumberdaya dosen 3 orang yang dibantu oleh satu orang laboran dan 2 orang asisten mahasiswa. Secara rinci pemakaian sumberdaya dikemukakan dalam tabel 1.Populasi penelitian ini adalah semua guru-guru kimia SMU Kotamadya Medan. Sampel diambil 40 orang dengan tehnik random.

 

Tabel 1. Jenis Aktivitas dan Sumber Daya yang dibutuhkan

No

Aktivitas

Jenis Sumber Daya yang dibutuhkan

1.

Penjelasan singkat tentang:

- Dasar teori

- Cara kerja

- Pengolahan data

- Pengembangan prosedur

Dosen

2.

Pelaksanaan kegiatan praktikum yang meliputi:

- Pengembangan keterampilan  dasar laboratorium

- Pelaksanaan prosedur

- Pengamatan hasil percobaan

 -  Pembuatan laporan sementara

Dosen

Asisten Mahasiswa

Laboran

Alat-alat laboratorium sesuai dengan penuntun praktikum

Bahan-bahan sesuai dengan penuntun praktikum

 

3.

Penyusunan Laporan Praktikum yang meliputi pengembangan kemampuan mengolah data hasil pengamatan dan mengkomunikasikannya dalam bentuk laporan praktikum

Text Book (Buku Sumber)

Jurnal

4.

Penyusunan Penuntun Praktikum Kimia SMA dengan materi yang telah ditentukan dengan dasar teori seperti telah dilakukan dalam kegiatan praktikum.

Buku Praktikum Kimia SMA

Buku Praktikum Kimia Sederhana

Jurnal

 

5.

Diskusi tentang hasil penuntun praktikum kimia SMA yang telah disusun.

Dosen

Asisten Laboratorium

 

6.

Uji coba penuntun praktikum kimia SMA.

Dosen

Asisten Laboratorium

Laboran

Alat-alat laboratorium sesuai dengan penuntun praktikum yang disusun

Bahan-bahan sesuai dengan penuntun praktikum yang disusun

 

 


 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk menentukan tingkat pencapaian dari kegiatan ini perlu dikemukakan tentang indikator kinerja yang disajikan dalam tabel 2.

 

Tabel 2. Hasil yang dicapai berdasarkan Indikator Kinerja

 

No

Indikator Kinerja

Base Line

Hasil yang Dicapai

1.

Rata-rata daya serap materi Praktikum Kimia Fisika 2

59 %

74.77 %

2.

Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang dihasilkan dalam kegiatan pembelajaran

Belum ada

4 judul

3

Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang diuji-cobakan dalam kegiatan pembelajaran

Belum ada

4 judul

Kegiatan praktikum merupakan salah satu upaya untuk menerapkan keterampilan proses, tetapi bila tidak dioptimalkan kegiatan praktikum kurang memberikan manfaat kepada para mahasiswa. Dari hasil pengamatan ditemukan banyak mahasiswa tidak memahami tujuan percobaan yang dilakukan dan sangat jauh untuk memahami konsep yang terdapat pada materi praktikum tersebut. Oleh karena itu diperlukan optimalisasi kegiatan praktikum di laboratorium sehingga para mahasiswa memperoleh manfaat yang banyak  dari kegiatan praktikum tersebut. Dari hasil penelitian Esson (2005) diperoleh bahwa kegiatan praktikum dapat meningkatkan pemahaman materi kimia, kemampuan menyelesaikan masalah, dan meningkatkan kemampuan menulis dan berkomunikasi.

Hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini adalah model Praktikum Kimia Fisika 2 dengan pendekatan semi riset, dalam model ini ada beberapa aktivitas yang dilakukan secara rinci adalah sebagai berikut:

a.       Kegiatan praktikum yang disertai dengan kegiatan-kegiatan: penjelasan singkat untuk seluruh percobaan tentang tujuan, cara kerja, dan pengolahan data pada awal kegiatan praktikum.

b.       Pemberian tes pra praktikum bagi setiap mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan praktikum.

c.       Membuat laporan sementara untuk melihat kemampuan mengorganisasikan data hasil pengamatan.

d.       Membuat laporan lengkap dengan pengolahan data, pembahasan , dan disertai dengan kajian teoritis.

e.       Menyusun penuntun praktikum kimia SMA sesuai dengan materi yang diberikan dengan melihat berbagai sumber bacaan.

f.        Mengkomunikasikan Penuntun Praktikum untuk mendapakan masukan dari dosen dan mahasiswa.

g.       Mengadakan uji coba penuntun praktikum yang telah disusun.

 

Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut tidak terlalu mudah karena menyangkut beban tugas yang dimiliki mahasiswa sehingga secara teknis diperlukan pertimbangan-pertimbangan waktu, beban mahasiswa, dan faktor lain sehingga kegiatan praktikum semi riset ini dapat dilaksanakan dengan baik.

 

PENUTUP

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1.       Model Praktikum Kimia Fisika 2 menggunakan pendekatan semi riset meliputi 7 (tujuh) langkah kegiatan yaitu: penjelasan singkat untuk seluruh percobaan, Pemberian tes pra praktikum, membuat laporan sementara, membuat laporan lengkap, menyusun penuntun praktikum kimia SMA, mengkomunikasikan Penuntun Praktikum, mengadakan uji coba penuntun praktikum yang telah disusun.

2.       Hasil yang diperoleh dalam penerapan model praktikum semi riset adalah sebagai berikut:

a.  Rata-rata daya serap mahasiswa terhadap materi praktikum sebesar 74,77%   sedangkan base line 59%.

b.  Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang dihasilkan dalam kegiatan pembelajaran sebesar 4 judul.

Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang diuji-cobakan dalam kegiatan pembelajaran sebesar 4 judul.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abimanyu, Soli, 1998, Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas, Makalah dalam PCP PTK Proyek PGSM

Castellan, G W.,1983, Physical Chemistry , edisi ketiga , Addison-Wesley          Publishing Co. Inc., Massachusetts.

Cony Semiawan, 1987, Pendidikan Keterampilan Proses. Gramedia, Jakarta.

Daniels, F, dkk, 1956, Experimental Physical Chemistry , 5th edition, Mc Graw-

      Hill, New York.

Deters, Kelly Morgan, 2005, Student Opinion Regarding Inquiry-Based Labs, J. Chemical Education, Vol  82, No. 8 , 1178 – 1180.

Esson, Joan M, etc, 2005, Service Learning, in Introductory Chemistry: Supplementing Chemistry Curriculum in Elementary Schools, J. Chemical Education, Vol  82, No. 8, 1168 – 1173

Harry Firman, 1990. Penilaian Hasil Belajar Dalam Pengajaran Kimia, Jurusan Pendidikan Kimia FP MIPA IKIP Bandung, Bandung.

Nugraha, A W, 2003, Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses IPA pada Praktikum Kimia Fisika 2 di Jurusan Kimia FMIPA UNIMED melalui kegiatan Praktikum Terpadu, Laporan Hasil Penelitian, FMIPA UNIMED, Medan.

———-, 2005, Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses IPA pada Praktikum Kimia Fisika 2 di Jurusan Kimia FMIPA UNIMED melalui kegiatan Praktikum Terpadu,Jurnal Penelitian Bidang Pendidikan,Vol 11,2,107 – 112

Shoemaker D P., dkk., 1989. Experiment in Physical Chemistry, 5th edition, Mc

          Graw-Hill, New York.

Tim Pelatihan Proyek PGSM, 1999, Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), Bahan Pelatihan Dosen dan Guru Sekolah Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikti  Proyek PGSM.

Tobing, R, 1992, Pengelolaan Laboratorium, Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA  IKIP Medan, Medan

 

oleh Ahmad Kurnia

Pengertian Motivasi

Salah satu aspek memanfaatkan pegawai ialah pemberian motivasi (daya perangsang) kepada pegawai, dengan istilah populer sekarang pemberian kegairahan bekerja kepada pegawai. Telah dibatasi bahwa memanfaatkan pegawai yang memberi manfaat kepada perusahaan. Ini juga berarti bahwa setiap pegawai yang memberi kemungkinan bermanfaat ke dalam perusahaan, diusahakan oleh pimimpin agar kemungkinan itu menjadi kenyataan. Usaha untuk merealisasi kemungkinan tersebut ialah dengan jalan memberikan motivasi. Motivasi ini dimaksudkan untuk memberikan daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar pegawai tersebut bekerja dengan segala daya dan upayanya (Manulang , 2002).

Menurut The Liang Gie Cs. (dalam Matutina dkk ,1993) bahwa pekerjaan yang dialakukan oleh seseorang manajer dalam memberikan inspirasi, semangat, dan dorongan kepada orang lain (pegawai) untuk mengambil tindakan-tindakan. Pemberian dorongan ini dimaksudkan untuk mengingatkan orang-orang atau pegawai agar mereka bersemangat dan dapat mencapai hasil sebagaimana dikehendaki dari orang tersebut. Oleh karena itu seorang manajer dituntut pengenalan atau pemahaman akan sifat dan karateristik pegawainya, suatu kebutuhan yang dilandasi oleh motiv dengan penguasaan manajer terhadap perilaku dan tindakan yang dibatasi oleh motiv, maka manajer dapat mempengaruhi bawahannya untuk bertindak sesuai dengan keinginan organisasi.

Menurut Martoyo (2000) motivasi pada dasarnya adalah proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan yang kita inginkan. Dengan kata lain adalah dorongan dari luar terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) disini dimaksudkan desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup, dan kecendrungan untuk mempertahankan hidup. Kunci yang terpenting untuk itu tak lain adalah pengertian yang mendalam tentang manusia.

Motivasi berasal dari motive atau dengan prakata bahasa latinnya, yaitu movere, yang berarti “mengerahkan”. Seperti yang dikatakan Liang Gie dalam bukunya Martoyo (2000) motive atau dorongan adalah suatu dorongan yang menjadi pangkal seseorang melakukan sesuatu atau bekerja. Seseorang yang sangat termotivasi, yaitu orang yang melaksanakan upaya substansial, guna menunjang tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya, dan organisasi dimana ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi, hanya memberikan upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi, merupakan sebuah konsep penting studi tentang kinerja individual. Dengan demikian motivasi atau motivation berarti pemberian motiv, penimbulan motiv atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Dapat juga dikatakan bahwa motivation adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu (Martoyo , 2000).

Manusia dalam aktivitas kebiasaannya memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu asalkan dapat menghasilkan sesuatu yang dianggap oleh dirinya memiliki suatu nilai yang sangat berharga, yang tujuannya jelas pasti untuk melangsungkan kehidupannya, rasa tentram, rasa aman dan sebagainya.
Menurut Martoyo (2000) motivasi kinerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja.

Menurut Gitosudarmo dan Mulyono (1999) motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau kegiatan tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang manusia pasti memiliki sesuatu faktor yang mendorong perbuatan tersebut. Motivasi atau dorongan untuk bekerja ini sangat penting bagi tinggi rendahnya produktivitas perusahaan. Tanpa adanya motivasi dari para karyawan atau pekerja untuk bekerja sama bagi kepentingan perusahaan maka tujuan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Sebaliknya apabila terdapat motivasi yang besar dari para karyawan maka hal tersebut merupakan suatu jaminan atas keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya.

Motivasi atau dorongan kepada karyawan untuk bersedia bekerja bersama demi tercapainya tujuan bersama ini terdapat dua macam, yaitu:

a.      Motivasi finansial, yaitu dorongan yang dilakukan dengan memberikan imbalan finansial kepada karyawan. Imbalan tersebut sering disebut insentif.

b.      Motivasi nonfinansial, yaitu dorongan yang diwujudkan tidak dalam bentuk finansial/ uang, akan tetapi berupa hal-hal seperti pujian, penghargaan, pendekatan manusia dan lain sebagainya (Gitosudarmo dan Mulyono , 1999).

Menurut George R. dan Leslie W. (dalam bukunya Matutina. dkk , 1993) mengatakan bahwa motivasi adalah “……getting a person to exert a high degree of effort ….” yang artinya motivasi membuat seseorang bekerja lebih berprestasi.
Menurut Ravianto (1986) dalam bukunya ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kinerja, yaitu atasan, rekan, sarana fisik, kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa uang, jenis pekerjaan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidak seimbangan. Ada definisi yang menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan :

1.      Pengaruh perilaku.

2.      Kekuatan reaksi (maksudnya upaya kerja), setelah seseorang karyawan telah memutuskan arah tindakan-tindakan.

3.      Persistensi perilaku, atau berapa lama orang yang bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu. (Campell , 1970).

Teori motivasi dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu teori kepuasan (content theory) dan teori proses (process theory). Teori ini dikenal dengan nama konsep Higiene, yang mana cakupannya adalah:

1.      Isi Pekerjaan.

Hal ini berkaitan langsung dengan sifat-sifat dari suatu pekerjaan yang dimiliki oleh tenaga kerja yang isinya meliputi : Prestasi, upaya dari pekerjaan atau karyawan sebagai aset jangka panjang dalam menghasilkan sesuatu yang positif di dalam pekerjaannya, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, pengembangan potensi individu.

2.      Faktor Higienis.

Suatu motivasi yang dapat diwujudkan seperti halnya : gaji dan upah, kondisi kerja, kebijakan dan administrasi perusahaan, hubungan antara pribadi, kualitas supervisi.

Pada teori tersebut bahwa perencanaan pekerjaan bagi karyawan haruslah menunjukkan keseimbangan antara dua faktor.

1. Teori Motivasi Kepuasan.

Teori yang didasarkan pada kebutuhan insan dan kepuasannya. Maka dapat dicari faktor-faktor pendorong dan penghambatnya. Pada teori kepuasan ini didukung juga oleh para pakar seperti Taylor yang mana teorinya dikenal sebagai Teori Motivasi Klasik. Teori secara garis besar berbicara bahwa motivasi kerja hanya dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja baik secara biologis maupun psikologis. Yaitu bagaimana mempertahankan hidupnya. Selain itu juga Teori Hirarki Kebutuhan (Need Hirarchi) dari Abraham Maslow yang menyatakan bahwa motivasi kerja ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja baik secara biologis maupun psikologis, baik yang berupa materi maupun non-materi. Secara garis besar tersebut teori jenjang kebutuhan dari Maslow dari yang rendah ke yang paling tinggi yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah merasa puas, karena kepuasannya bersifat sangat relatif maka disusunlah hirarki kebutuhan seperti hasrat menyususn dari yang teruraikan sebagai berikut:

1.      Kebutuhan pokok manusia sehari-hari misalnya kebutuhan untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan fisik lainnya (physical need). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah, apabila sudah terpenuhi maka diikuti oleh hirarki kebutuhan yang lainnya.

2.      Kebutuhan untuk memperoleh keselamatan, keselamatan, keamanan, jaminan atau perlindungan dari yang membayangkan kelangsungan hidup dan kehidupan dengan segala aspeknya (safety need).

3.      Kebutuhan untuk disukai dan menyukai, disenangi dan menyenangi, dicintai dan mencintai, kebutuhan untuk bergaul, berkelompok, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menjadi anggota kelompok pergaulan yang lebih besar (esteem needs).

4.      Kebutuhan untuk memperoleh kebanggaan, keagungan, kekaguman, dan kemasyuran sebagai seorang yang mampu dan berhasil mewujudkan potensi bakatnya dengan hasil prestasi yang luar biasa (the need for self actualization). Kebutuhan tersebut sering terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari melalui bentuk sikap dan prilaku bagaimana menjalankan aktivitas kehidupannya (Zainun , 1997).

5.      Kebutuhan untuk memperoleh kehormatan, pujian, penghargaan, dan pengakuan (esteem need).

2. Teori Motivasi Proses.

Teori ini berusaha agar setiap pekerja giat sesuai dengan harapan organisasi perusahaan. Daya penggeraknya adalah harapan akan diperoleh si pekerja. Dalam hal ini teori motivasi proses yang dikenal seperti :

a.      Teori Harapan (Expectancy Theory), komponennya adalah: Harapan, Nilai (Value), dan Pertautan (Instrumentality).

b.      Teori Keadilan (Equity Theory), hal ini didasarkan tindakan keadilan diseluruh lapisan serta obyektif di dalam lingkungan perusahaannya.

c.      Teori Pengukuhan (Reinfocement Theory), hal ini didasarkan pada hubungan sebab-akibat dari pelaku dengan pemberian kompensasi.

3. Teori Motivasi Prestasi (Achievement Motivation) dari McClelland

Teori ini menyatakan bahwa seorang pekerja memiliki enerji potensial yang dapat dimanfaatkan tergantung pada dorongan motivasi, situasi, dan peluang yang ada. Kebutuhan pekerja yang dapat memotivasi gairah kerja adalah :

1.      Kebutuhan akan prestasi dorongan untuk mengungguli, berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat untuk sukses.

2.      Kebutuhan akan kekuasaan : kebutuhan untuk membuat orang berprilaku dalam suatu cara yang orang-orang itu (tanpa dipaksa) tidak akan berprilaku demikian.

3.      Kebutuhan akan afiliasi : hasrat untuk hubungan antar pribadi yang ramah dan karib (Robbins , 1996).

4.Teori X dan Y dari Mc. Gregor.

Teori ini didasarkan pada asumsi-asumsi bahwa manusia secara jelas dan tegas dapat dibedakan atas manusia penganut teori X dan mana yang menganut teori Y. Pada asumsi teori X menandai kondisi dengan hal-hal seperti karyawan rata-rata malas bekerja, karyawan tidak berambisi untuk mencapai prestasi yang optimal dan selalu menghindar dari tanggung jawab, karyawan lebih suka dibimbing, diperintah dan diawasi, karyawan lebih mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan pada asumsi teori Y menggambarkan suatu kondisi seperti karyawan rata-rata rajin bekerja. Pekerjaan tidak perlu dihindari dan dipaksakan, bahkan banyak karyawan tidak betah karena tidak ada yang dikerjakan, dapat memikul tanggung jawab, berambisi untuk maju dalam mencapai prestasi, karyawan berusaha untuk mencapai sasaran organisasi (Robbins dalam bukunya Umar, 2000).

Dalam hal ini motivasi dan kemampuan karyawan merupakan salah satu aspek atau faktor yang dapat meningkatkan sinergik (synergistic effect). Maka pembinaan terhadap sumber daya manusia tidak pada penyelenggaraan latihan (training) saja, tetapi juga didukung dengan pengembangan atau pembinaan selanjutnya (development).

Menurut Mitchell (dalam Winardi , 2000) tujuan dari motivasi adalah memperediksi perilaku perlu ditekankan perbedaan-perbedaan antara motivasi, perilaku dan kinerja (performa). Motivasilah penyebab perilaku; andai kata perilaku tersebut efektif, maka akibatnya adalah berupa kinerja tinggi.

Prestasi Kerja

1. Pengertian Prestasi Kerja

Faktor kritis yang berkaitan dengan keberhasilan jangka panjang organisasi adalah kemampuan mengukur baik karyawan-karyawannya berkarya dan menggunakan informasi. Prestasi kerja yang didapatkan oleh para pekerja organisasi perusahaan merupakan suatu harapan yang mutlak, dan tidaklah mudah untuk mendapatkannya karena banyak kriteria-kriteria serta usaha yang keras yang akan dijalani atau dilalui oleh para pekerja tersebut. Motivasi karyawan untuk bekerja, mengembangkan kemampuan pribadi, dan meningkatkan kemampuan dimasa mendatang dipengaruhi oleh umpan balik mengenai kinerja masa lalu dan pengembangan kinerja yang akan datang.
Orang-orang yang termotivasi untuk berprestasi, memiliki tiga macam ciri umum sebagai berikut:

1.      Sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat.

2.      Orang-orang yang berprestasi tinggi juga menyukai situasi-situasi dimana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain seperti misalnya kemanjuran.

3.      Mengidentifikasikan mereka yang berprestasi tinggi, adalah bahwa mereka menginginkan lebih banyak umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.

2. Penilaian Prestasi Kerja

Penilaian prestasi kerja pada dasarnya merupakan pengukuran yang sistematik terhadap penampilan kerja karyawan itu sendiri dan terhadap taraf potensi karyawan dalam upayanya mengembangkan diri untuk kepentingan perusahaan/ organisasi. Menurut (Martoyo , 2000) penilaian prestasi kerja adalah proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. Apabila penilaian prestasi kerja tersebut dilaksanakan dengan baik tertib dan benar, maka akan dapat membantu meningkatkan motivasi kerja dan sekaligus juga meningkatkan loyalitas organisasi organisasional dari para karyawan. Penilaian prestasi kerja (Perpormance Apprasial) ini pada dasarnya merupakan salah satu faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien.
Pembinaan dan pengembangan terhadap para karyawan adalah salah satu kegiatan dalam rangka menyesuiakan diri dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi, baik bagi para karyawan lama maupun bagi karyawan yang baru. Dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan karier para karyawan, maka perlu dilakukan penilaian pelaksanaan pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh para karyawan. Menurut (Soeprihanto , 1998) penilaian prestasi kerja adalah suatu sistem yang digunakan untuk menilai dan mengetahui sejauh mana seorang karyawan telah melaksanakan perkerjaannya masing-masing secara keseluruhan.

3.Tujuan Penilaian Prestasi Kerja

Prestasi kerja tersebut sangat erat hubungannya dengan masalah latihan dan pengembangan, perencanaan karier/ kenaikan pangkat maupun masalah pengupahan. Oleh karena itu informasi secara rutin tentang prestasi kerja seorang karyawan sangat penting untuk turut serta menentukan kebijaksanaan dibidang personalia.

Secara terperinci, tujuan penilaian prestasi kerja adalah sebagai berikut:

1.      Mengetahui keadaan keterampilan dan kemampuan setiap karyawan secara rutin.

2.      Untuk digunakan sebagai dasar perencanaan bidang personalia, khususnya penyempurnaan kondisi kerja, peningkatan mutu dan hasil kerja.

3.      Dapat digunakan sebagai dasar pengembangan dan pemberdayagunaan karyawan seoptimal mungkin; sehingga antara lain dapat diarahkan jenjang kariernya atau perencanaan karier, kenaikan pangkat dan kenaikan jabatan.

4.      Mendorong terciptanya hubungan timbal balik yang sehat antara atasan dan bawahan.

5.      Mengetahui kondisi perusahaan secara keseluruhan dari bidang personalia, khususnya prestasi kerja dalam bekerja.

2.2.          Peranan Dari Faktor-faktor Motivasi Dalam Penciptaan Kualitas Kerja

Mulai dari adanya manusia di muka bumi, motivasi tersebut sudah ada bertumbuh secara beriringan dengan pertumbuhannya (selama manusia hidup). Kerterkaitan dengan para pekerja dan organisasi, pada masa sekarang ini motivasi tersebut sudah menjadi suatu hal yang sudah tidak asing lagi, dan karenanya menjadi perhatian dari para manajer dalam hal mengelola sumber daya manusia yang dijadikan aset penting bagi organisasi. Salah satu faktor yang dirasakan sangat penting di dalam penentuan keberhasilan serta kelangsungan hidup organisasi adalah tingkat kemampuan dan keterampilan dari para pekerjanya.

Tetapi secara kenyataannya tidak semua karyawan yang memiliki kriteria tersebut sesuai dengan harapannya dan juga terdapatnya pekerja yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang tinggi, tetapi tidak memiliki semangat kerja yang tinggi, maka dengan demikian organisasi tersebut belum menciptakan kualitas kerja yang baik atau prestasi kerja yang sesuai dengan harapannya.

Secara garis besar semua organisasi memiliki kepentingan serta tujuan yang berbeda-beda sama seperti yang dimiliki oleh organisasi. Maka perhatian dari para manajer organisasi atau perusahaan sangat diperlukan guna meningkatkan kualitas kerja sumber daya manusia yang dimiliki, agar dapat mencapai tujuan dan dapat bersaing.

Disamping itu juga terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan alat pemotivasian karyawan atau pekerja sehingga mereka dapat terdorong dan semangat dalam melaksanakan pekerjaannya diantaranya adalah:

a.      Melibatkan atau mengikutsertakan dengan maksud mengajak karyawan untuk berprestasi secara efektif dalam proses operasi dan produksi organisasi.

b.      Komunikasi, yaitu melakukan penginformasian secara jelas terhadap tujuan yang ingin dicapai, cara-cara pencapaian dan kendala yang sekiranya akan dihadapi.

c.      Pengakuan, yang pada dasarnya berupa pemberian penghargaan dan pengakuan yang tepat dan wajar kepada karyawan atas prestasi kerja yang dicapai.

d.      Wewenang pengdelegasian, yaitu berkaitan dengan pendelegasian sebagai wewenang dan kebebasan untuk mengambil keputusan serta kreatifitas karyawan.

e.      Perhatian timbal balik, yaitu berkaitan dengan pengungkapan atas harapan dan keinginan pemilik atau pemimpin dan pengelola organisasi pada karyawan serta memahami, memperhatikan dan berusaha memenuhi kebutuhan karyawannya.

Karena melibatkan individu dan organisasi, maka hal tersebut merupakan suatu kerumitan dalam memotivasi pekerja untuk dapat bekerja sesuai dengan harapan. Hal ini mengingatkan bahwa terdapatnya faktor-faktor yang bersumber dari karyawan seperti kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, sikap, dan kemampuan. Sedangkan faktor-faktor yang bersumber dari organisasi itu sendiri seperti, pembayaran atau gaji, keamanan pekerja, hubungan sesama pekerja, pengawasan, pujian-pujian, dan pekerjaan itu sendiri

 

 

Nyoman Wistara, W Syafii, DS Nawawi, dan G Ibnusantosa

Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Institut Pertanian Bogor

Meningkatnya tekanan masyarakat terhadap industri pulp dan kertas yang berpotensial mencemari lingkungan hidup mendasari penelitian peningkatan mutu proses, penghematan pemakaian sumber serat, dan pencarian bahan baku serat alternatif.  Salah satu sumber serat alternatif potensial ialah dari kertas daur ulang. Masalah pemanfaatan kertas daur ulang terletak pada teknologi pendauran dan peningkatan sifat kekuatannya. Peningkatan sifat kekuatan pulp daur ulang dapat dilakukan melalui teknik fraksinasi, perlakuan kimia, dan substitusi dengan pulp asli.

Penelitian ini ditujukan untuk mencari teknik peningkatan sifat pulp daur ulang melalui teknik fraksinasi, perlakuan kimia, dan substitusi dengan pulp asli alternatif. Eksplorasi bahan baku serat alternatif melibatkan pula pencarian teknik pulping dan pemutihan non-konvensional yang relatif ramah lingkungan.

Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahap. Tahap pertama ialah penelitian tentang cara fraksinasi kertas daur-ulang (OCC) dan peningkatan sifat pulp daur ulang melalui berbagai metode pemulihan ECF. Dalam tahap kedua, proses kraft diterapkan untuk memasak batang ubi kayu (Manihot sp.). Penelitian tahap ketiga merupakan kelanjutan usaha eksplorasi sumber dan proses pemasakan bahan baku serat alternatif.

Sekitar 65-77% pulp dari OCC bekas dapat didaur ulang dengan sifat kekuatan tertentu yang telah ditingkatkan melalui proses pemulihan. Indeks tarik pulp fraksinasi manual berkisar 60.01-80.49 N.m/g dan 47.95-62.24 N.m/g untuk fraksinasi otomatis (nilai SNI minimum 60 N.m/g).  Nilai indeks sobek fraksi pulp berkisar 9.14-13.9 mN.m2/g (nilai SNI minimum 9 mN.m2/g). Sifat dan mutu pulp yang difraksinasi secara manual lebih baik daripada sifat dan mutu pulp hasil fraksinasi otomatis.

Pulp kraft batang ubi kayu dengan mutu relatif baik diperoleh dengan kondisi pemasakan alkali aktif 17%, sulfiditas 20%, suhu maksimum 170oC, nisbah cairan:bobot bahan (L/W) 4:1, dan total waktu pemasakan selama 3.5 jam.  Indeks sobek pulp sebesar 5.78 Nm2/g, yang lebih rendah daripada syarat minimum pulp kraft kayu daun jarum SNI (9 Nm2/g) tetapi lebih tinggi daripada pulp kraft putih kayu daun lebar SNI ( 5 Nm2/g). Indeks tariknya, 78.42 Nm/g, melampaui syarat minimum indeks tarik pulp kraft kayu daun jarum putih SNI (60 Nm/g). Rendemen pemasakan hanya 27.86% dan tergolong rendah bila dibandingkan dengan rendemen proses kraft untuk kayu (40-55%). Bilangan kappa yang diperoleh 37.93. Pulp batang kayu ini diduga akan sesuai untuk digunakan sebagai substitusi sebagian pulp daur ulang agar produk yang dibuat berkekuatan rendah memiliki kekuatan tinggi.

Kondisi proses soda-etanol yang dipakai memasak 3 jenis sumber serat baru, yaitu kulit kayu waru laut, kulit kayu dadap dan kayu dadap, ialah alkali aktif 20%, suhu maksimum 180oC, waktu tuju 1 jam, waktu pada suhu maksimum 2 jam, L/W 15, dan konsentrasi etanol beragam dari 0 hingga 50%. Rendemen tertinggi hasil pemasakan kayu dadap diperoleh pada konsentrasi etanol 40%, yaitu 39.21% dengan bilangan kappa rendah (18.01). Rendemen tertinggi hasil pemasakan kulit kayu dadap diperoleh pada konsentrasi etanol 50%, bilangan kappa tertendah (19.66) dicapai dengan konsentrasi etanol 40%. Rendemen tertinggi pemasakan kulit kayu waru laut diperoleh pada konsentrasi etanol 50% yaitu 49.12% dengan bilangan kappa rendah (16.48).  Jika dilihat dari selektivitas delignifikasi proses, maka selektivitas tertinggi untuk pemasakan kayu dadap dan kulitnya terjadi pada konsentrasi etanol 40% yang masing-masing sebesar 41.88 dan 38.12. Kondisi proses ini lebih selektif daripada proses soda konvensional (kontrol) yang selektivitasnya masing-masing 39.86 dan 12.75 untuk kayu dadap dan kulitnya.  Selektivitas proses soda-etanol untuk kulit kayu waru laut ialah 58.75 dengan konsentrasi etanol 30%, yang jauh melebihi selektivitas proses soda konvensional terhadap bahan baku ini (18.28). Proses soda-etanol merupakan proses yang cukup baik untuk menyediakan serat asli dari bahan yang diteliti dan dapat menjadi alternatif proses soda konvensional maupun proses kraft yang berpotensi tinggi mencemari lingkungan hidup.

Adoptrd from : Hibah Bersaing VIII

 

Manajemen Pemeliharaan – Upaya terbaik untuk peningkatan produktivitas  

Perusahaan yang membiarkan dirinya mengalami kegagalan peralatan produksinya serta mengabaikannya, sama saja dengan memberikan dirinya kalah bersaing terhadap pesaingnya, dengan kekalahan yang tidak wajar.

Sangat aneh, kiranya, jika sementara sebuah perusahaan yang membiarkan dirinya mengalami gangguan pada alat-alat produksinya, maka pihak lain berani menghabiskan pengeluarannya yang cukup besar untuk terus-menerus mencari software yang bisa meningkatkan sistem informasi berkenaan dengan aktivitas pemeliharaan dan perawatan terhadap aktiva tetap berupa mesin-mesin tersebut.

Masih cukup banyak perusahaan yang begitu bodoh, sehingga tidak segera memperhatikan penerapan sistem yang mampu mengelola informasi berkenaan dengan aset-aset yang menjadi modal bisnisnya. Dan hasilnya bisa dilihat pada laporan-laporan keuangan, atau laba/rugi, yang menunjukkan bagaimana jeleknya cara mereka menangani aset-aset permodalannya tersebut.

Produk untuk manajemen pemeliharaan dan perawatan aset
berasal dari: PSDI       

THE MAXIMO ADvantage solusi Microsoft tersedia dalam database Access, MAXIMO ADvantage mengembangkan sistem yang mampu melakukan penghematan dan produktivitas yang berlangsung secara otomatis dari manajemen pemeliharaan dan perawatan bagi fasilitas dan pasar manufaktur kecil.

Work and Labor Management (manajemen pekerjaan dan tenaga kerja)

Materials Management (manajemen material/barang)

Aplikasi Work Order akan menghasilkan, merubah, dan menutup untuk terjadinya transaksi-transaksi yang berkenaan dengan adanya pekerjaan-pekerjaan yang harus dikerjakan, yang dikelompokkan berdasarkan nomor WO-nya.

Inventory (Persediaan material/barang) aplikasi ini akan melakukan penambahan jenis item, melakukan perubahan atas informasi batas minimal persediaan, serta menetapkan suatu batas kuantitas di mana sebuah material/bahan harus dilakukan pemesanan kembali, untuk secara otomatis menimbulkan laporan permintaan pembelian. Juga akan diterbitkan data pengeluaran dan pemakaian material/barang yang digunakan untuk suatu Work Order tertentu, pekerjaan perbaikan, catatan pemeliharaan dan akuntansi persediaan.

Work Request (permintaan pelaksanaan kerja) aplikasi ini akan membentuk dan menelusuri semua permintaan perbaikan, termasuk  pembatalan, pengiriman, pembukuan catatan secara lengkap, dan pembebanan biayanya.

Receiving (penerimaan) aplikasi akan menerima kedatangan barang, baik yang dibeli atas dasar permintaan pembelian atau beli langsung, untuk direkam pada catatan persediaan (stok), dan secara otomatis akan meng-update nilai persediaan.

Perencanaan & Penjadualan aplikasi ini akan mengendalikan sumberdaya tenaga kerja dan material termasuk informasi mengenai kontraktor. Akan membantu dalam pengaturan dan pengelompokan jenis-jenis dan klasifikasi tenaga kerja berdasarkan kebutuhan-kebutuhan atas beban kerja tertentu, dan menyeimbangkan antara kebutuhan tenaga kerja dan materialnya.

Kartu Material merupakan aplikasi yang akan membebankan material yang tidak termasuk ke dalam material stok yang digunakan pada penyelesaian sebuah work-order permintaan pekerjaan serta panggilan mendadak, serta mencatat waktu penyelesaian pekerjaan dan akuntansi materialnya.

Work Order Bar Code merupakan aplikasi yang memungkinkan pemasukan data work-order dengan menggunakan scanner untuk barcode.

Inventory Bar Code akan menjadi aplikasi yang memungkinkan untuk melakukan pengeluaran barang dan kinerja dari persediaan fisik dengan menggunakan scanner barcode.

Time Cards (kartu pencatat jam operasi) akan menjadi sebuah aplikasi yang akan menerapkan pembebanan biaya berdasarkan alokasi waktu yang digunakan untuk menyelesaikan sebuah work-order, permintaan pekerjaan, serta panggilan mendadak, atau merupakan pencatatan akuntansi atas waktu dan materialnya.

Aplikasi kunci lainnya

Apalikasi penagihan (tersedia dalam versi 3.40) memfasilitasi prosedur pembebanan biaya, membuat tagihan dan menelusuri data penerimaan pembayaran dari pelanggan atas pelaksanaan kerja dari Work-Order tertentu, meliputi beban biaya material dan tenaga kerjanya.

Preventive Maintenance (pemeliharaan dan perawatan)

Preventive Maintenance merupakan aplikasi yang memungkinkan Anda untuk membuat jadual PM (preventive maintenance, pemeliharaan dan perawatan) untuk peralatan tertentu atau fasilitas-fasilitas perusahaan. Work-order akan dibuat secara otomatis berdasarkan skedul waktu yang sudah ditetapkan, lengkap dengan peralatan-peralatan, bahan-bahan, serta prosedur kerjanya. Jadual PM bisa didasarkan atas satuan meter, jam kerja aktif, atau pemanfaatannya.

Component Management (manajemen komponen) merupakan sebuah aplikasi untuk menghasilkan peringkat peralatan.  meliputi sub-komponen dan sistem yang lebih besar di mana peralatan itu terdapat.

Purchasing (pembelian)

Purchase Order (permintaan pembelian) merupakan aplikasi yang memungkinkan untuk menghasilkan permintaan pembelian, termasuk penyediaan informasi dalam besaran mata uangnya, untuk memudahkan persetujuan pimpinan.

System Administration merupakan aplikasi untuk mempersiapkan pemberian kode bagi sistem dan pengguna untuk keperluan pengamanan dan pengelompokan staf.

Spot-Buy Requisitions (permintaan pembelian langsung) digunakan untuk menghasilkan permintaan-permintaan yang bersifat mendadak untuk item-item barang yang tidak tersedia sebagai stok atau merupakan barang yang jarang digunakan dan disediakan.

Interfaces merupakan aplikasi yang memungkinkan ADvantage untuk terhubung langsung pada sistem lainnya yang Anda gunakan untuk keperluan pendugaan masa pemeliharaan, manajemen energi, TPM, dan lain sebagainya.

Reports (pelaporan-pelaporan) merupakan aplikasi yang akan memberikan Anda kesempatan untuk memilih dari sejumlah pelaporan baku, membuat sendiri laporan dengan bantuan Smart Reports atau membuat bentuk laporan tersendiri, dan analisanya.

THE MAXIMO —

memberikan Anda fungsi-fungsi manajemen pengolahan data yang sempurna dan memiliki fleksibilitas sesuai kebutuhan dari perusahaan-perusahaan kelas atas. MAXIMO mendukung sistem database SQL utama, termasuk Oracle, Sybase, dan bekerja pada platform UNIX atau NT server pada lingkungan operasional client/server.

Adopted from : Adopted from : Intuitive Manufacturing System, Inc.

 

Adopted from : PERPIPAAN : CORROSION UNDER INSULATION (KOROSI DI BAWAH ISOLASI)

1.      Pendahuluan

Pipa-pipa yang dibungkus isolator panas juga bisa mengalami masalah korosi karena sel aerasi-differensial yang terbentuk di balik/ di bawah isolasi. Isolator yang terbuat dari bahan penghambat perambatan panas juga berfungsi sebagai sumbu yang merembeskan air ke bagian lain. Korosi di bawah isolasi digolongkan sebagai korosi atmosferik dengan faktor penyebab air. Air yang mungkin berasal dari hujan, kabut, atau pengembunan akibat kelembaban relatif tinggi.

Kabut dan pengembunan bisa mendatangkan bahaya korosi dari udara karena membasahi seluruh permukaan termasuk yang tersembunyi. Lapisan-lapisan tipis air dari kabut dan embun tidak akan mengalir dan akan tetap di situ sampai menguap oleh hembusan angin atau meningkatnya temperatur. Untuk memulai serangan, selapis tipis air yang tidak kelihatan sudah lebih dari cukup. Kebanyakan logam seperti besi, baja, nikel, tembaga, dan seng mengalami korosi bila kelembaban relatif lebih besar dari 60 %. Jika kelembaban lebih dari 80 %, karat pada besi dan baja menjadi higroskopik (menyerap air) dan dengan demikian laju serangan meningkat lagi.

1.1.      Ekonomi dan Safety

Laju korosi di bawah isolasi dalam kondisi basah memiliki laju 20 kali lebih besar dibandingkan pada kondisi atmosferik (ambient). Bila pipa yang terkorosi harus diperbaiki/diganti, maka diperlukan biaya bermilyar-milyard untuk satu Pabrik, tidak termasuk kehilangan produksi serta akibat keseluruhan dari Pabrik yang mati (shut down).

Karena tidak terlihat, maka corrosion under insulation (CUI) seakan terjadi secara mendadak, dan dapat menimbulkan kebocoran dengan potensial terjadinya bahaya, khususnya pada aliran fluida yang berbahaya, sehingga memicu terjadinya kenaikan temperature atau tekanan pada vessel.

1.2.       Kondisi

Tiga faktor yang diperlukan sehingga terjadi korosi di bawah isolasi (corrosion under insulation / CUI) :

  1. Air

Air akan terbawa selama penyimpanan isolasi ataupun pada saat pemasangan, karena kebocoran system, tidak efektifnya waterproofing, pemeliharaan yang kurang baik atau ”service lapses”.

  1. Kandungan Bahan Kimia dalam Air.

Bila pH turun di bawah 4, korosi akan berlangsung sangat cepat. Seperti  korosi asam (acidic corrosion) umumnya terjadi pada material Carbon Steel. Sehingga selalu dijaga kondisi pH isolasi berada pada kondisi netral/alkali pada range antara 7,0  – 11,7.

Dengan material austenitic stainless steel, masalah utama yang perlu diperhatikan adalah kandungan Chlorida bebas dan mechanical stress. Pada kenyataannya, untuk menjamin kualitas isolasi yang kontak langsung dengan stainless steel, diperlukan isolasi yang tidak (sangat sedikit) mengandung chloride dan flouride. Di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, level ini diimbangi / dilawan dengan isolasi yang melepaskan ion natrium dan silikat. Ion Chloride yang terlepas juga dipicu oleh air hujan, pabrik  maupun cooling tower atmosferik, atau juga portable water yang biasa dipakai untuk fire fighting (pemadam kebakaran), flushing ataupun pencucian area. Laju dan tingkat keparahan serangan biasanya ditentukan oleh konduktivitas elektrolit, yang bergantung pada kadar bahan pengotor yang terlarut. Bahan pengotor ini berbeda-beda, dari karbon dioksida (membentuk larutan agak asam), ion-ion ammonium, serta ion-ion klorida di lingkungan laut. Di lingkungan laut, terutama di pesisir (seperti lingkungan PKT), laju korosi bisa lebih tinggi.

c. Temperatur

Temperatur berpengaruh terhadap korosi atmosferik melalui dua cara :

  1. Peningkatan temperatur biasanya diikuti oleh peningkatan laju reaksi. Temperatur service antara 32F dan 212°F (0C dan 100°C) memungkinkan air masih dalam bentuk cair. Dengan range temperatur tersebut, laju korosi akan naik dua kali setiap kenaikan temperatur 27F sampai 36°F (15C sampai 20C). Potensial korosi maksimum umumnya berada di antara kedua range tersebut. Stress Corrosion Cracking yang diinduksi oleh Chloride pada material Carbon Steel umumnya terjadi pada range ambient (atau bisa juga di bawah) dari 248°F (120C).
  2. Perubahan temperatur berpengaruh terhadap kelembaban relatif dan dapat menyebabkan pengembunan pada titik embun (dew point condensation). Jika temperatur turun lebih rendah dari titik embun, udara menjadi jenuh dengan uap air dan titik-titik air akan mengendap pada setiap permukaan yang terbuka. Pengembunan bisa terjadi di semua permukaan yang cukup dingin, baik di luar maupun di dalam isolasi. Titik-titik air dapat menggenang pada tempat-tempat tertentu dan membentuk kolam elektrolit yang tersembunyi dalam suatu struktur sehingga korosi terjadi di tempat yang tidak disangka-sangka.

Selain itu ada dua kondisi temperatur korosi yang khusus yaitu :

  1. Temperatur siklis yang mempercepat korosi,
  2. Temperatur extreme yang tercapai selama terjadinya shut down pabrik, di mana air terakumulasi tanpa pembekuan atau evaporasi (pada kondisi ini penggantian isolasi harus direkomendasikan).

1.3.      Pencegahan CUI

Tiga langkah untuk mengurangi/menanggulangi masalah korosi di bawah isolasi (corrosion under insulation = CUI) adalah :

 

  1. Mencegah adanya vapor (uap air) :

Hal ini merupakan tindakan yang paling penting, namun penghilangan uap air dengan mencegah adanya uap air kelihatannya cukup sulit.

  1. Other Barriers (Pemakaian Penghalang yang lain, selain Isolasi)

Penghalang lain seperti cat (paints) atau mastics (misalnya silicones, epoxy phenolics, coal tar epoxies dan bitumens) dapat dipakai sebagai pencegah secara fisik untuk air yang akan kontak langsung dengan peralatan. Dengan material-material tersebut, maka persiapan permukaan menjadi masalah yang kritis, dan bebas cacat dalam pengecatan sangat penting. Aluminium foil dapat juga dipakai sebagai barikade fisik sebagus lapisan proteksi katodik.

  1. Proper Insulation

Alternatif ketiga adalah pemilihan isolasi yang tepat dengan meminimalkan water intrusion.  Meminimalkan adanya air akan mengurangi laju korosi logam.

1.4.      Tipe Isolasi

Umumnya Isolasi dibagi menjadi dua katagori :

  1. Untuk temperatur rendah.

Isolasi untuk temperatur rendah termasuk polyurethane dan polyisocyanurate cellular plastics, sebagus phenolics. Dari kesemuanya, akan membentuk larutan asam (pH 2 – 3) dalam air.

  1. Untuk temperatur tinggi.

1.5.      Beberapa Pengalaman tentang CUI

Terjadi pada Exxon bahwa isolasi polyurethane pada tangki panas, sejumlah korosi ditemukan ketika isolasi dilepas. Air bersama halogen di dalam isolasi memberikan kondisi pH 1 dan mempercepat korosi logam. Sumber halogen adalah fire retardant dari pemakaian polyurethane. Akhirnya, Exxon mengurangi masalah tersebut degan merubah tipe isolasi.

Potensial dengan mengubah lingkungan asam dengan memakai plastik polyurethane cellular selanjutnya tidak tepat lagi karena senyawa chloride – phsogene dipakai pada produk ini. Konsekuensinya, pabrik menyebutkan bahwa permukaan metal harus diproteksi dengan corrosion – inhibiting coating.

 

Contoh lain dari kegagalan akibat korosi dengan isolasi polyurethane juga terjadi pada pipa-pipa oil dan gas ARCO, di mana 85 % dari dinding pipa telah berkarat setelah kurang dari 10 tahun beroperasi. Penetrasi komplit pada atap tangki oil panas di Belanda; korosi sumuran yang dalam dan korosi merata pada tangki storage gas dingin di Inggris dan Saudi Arabia; dan stress corrosion cracking pada vessel brewery yang terbuat dari material stainless steel.

Phenolics, di pihak lain, juga bersifat asam, dipakai juga di pabrik, dan dapat menciptakan lingkungan menjadi pH 1,8.

Katagori mengenai isolasi termasuk aplikasi temperatur tinggi. Salah satu di antaranya adalah : Calcium silikat, perlite, mineral wood, dan febrious glass Absorbent fiberous glass). Walau masing-masing dikenal porous, calcium silikat dan fiberous glass umumnya banyak menyebabkan masalah.

System Exxon telah memiliki pengalaman yang cukup banyak mengenai hubungan antara korosi yang diakibatkan keberadaan air yang melepas chloride dengan pemakaian isolasi calcium silikat. Di Monsato, calcium silikat memberikan banyak masalah. Di Eropa pada saat meeting tentang korosi di bawah lagging, konsekuensinya adalah bahwa calcium silikat adalah tidak cocok untuk senyawa agresif. England’s Institution of Chemical Engineer yang mem-warning bahwa calcium silikat dan menimbulkan resiko untuk stress corrosion dengan mengijinkan terjadinya pengembunan pada permukaan hot metal. Sementara beberapa isolasi mengandung inhibitor stress crack, namun bila system telah melebihi life timenya, maka kemampuan inhibitor untuk mencegah crack akan menurun drastis. ARCO dan Esso di Belanda, DuPont, Exxon, dan Gulf mempunyai pengalaman yang sama tentang isolasi absorbent fibroud glass.

2.      FUNGSI PEMASANGAN ISOLASI

Sesuai spesifikasi dalam pemasangan isolasi yang disebutkan dalam setiap spesifikasi proyek di PKT, maka Spesifikasi cover suatu peralatan (vessel, piping, peralatan mekanikal atau item-item lain yang diperlukan) dengan memasang Isolasi adalah :

  1. Pada peralatan pada kondisi normal operasi beroperasi pada temperatur antara 60 s/d 550°C.
  2. Nozzles dan flanges pada peralatan dan piping juga harus di-isolasi seperti juga peralatan dan piping yang teriisolasi.
  3. Isolasi on skirt dan leg supported vessels harus berada di 0,6 meter di bawah tangen line.
  4. Personal protection untuk pipa yang harus idisolasi minimal setinggi 2,5 meter di atas grade, platform, dan level operasi yang lain.
  5. Isolasi untuk personnel protection harus dipasang bila pipa dan dinding peralatan bertemperatur 60C.

3.            PERMASALAHAN

Hampir semua piping di bawah isolasi di area Pabrik Kaltim-1 dengan service fluida bertemperatur > 60C dikhawatirkan mengalami korosi.

 

4.            LANGKAH PERBAIKAN

4.1.            Standar praktis yang dipakai pada beberapa tahun lalu untuk menghindari korosi di bawah isolasi adalah :

  1.  
    1. Menge-cat material dengan material cat yang tahan korosi atmosferik atau coating type sacrificial.

Primer Seng bekerja dengan baik, namun akan kehilangan kemampuan proteksinya setelah elemen sacrificialnya habis. Kedua coating tersebut mengijinkan moisture masuk bila diserang oleh gas, garam, atau bahan kimia yang ada dalam isolasi yang menyebabkan korosi yang lebih cepat.

  1.  
    1. Epoxi serpihan gelas dan glass-flake novolacs (untuk material yang terpapar bahan kimia dan temperatur kurang dari 325°F (163°C)) menunjukkan performance yang bagus sebagaimana sistem high-bred zinc atau acrylic-silicones (untuk temperatur di atas 325°F (163°C)).

4.2.            Pemakaian metode lain, misalnya dengan melampiri substrat yang merupakan format coating yang disebut Thermal Insulation Coating (TIC).

Beberapa kelebihan TIC yang ditawarkan adalah :

  1.  
    1. Dalam masalah biaya, initial cost untuk TIC lebih murah dibandingkan dengan tipe isolasi konvensional dengan memakai jacket water.
  1.  
    1. Menghindari perbaikan pada metode protective jacketing yang meliputi penggantian isolasi akibat kerusakan isolasi,
    2. Memberikan kemudahan total untuk menginspeksi permukaan setiap waktu. Artinya permukaan tidak tertutup/terlindungi dari pengawasan.
    3. Thermal Insulation Coating juga dapat diaplikasikan untuk permukaan yang masih dioperasikan tanpa harus dishut-down-kan,
    4. Permukaan sekarang mudah diperbaiki, efisiensi untuk menginspeksi, dan tidak selalu harus dibuang atau diganti bila terjadi korosi.

5.            REKOMENDASI

5.1.            Isolasi untuk line atau peralatan bertemperatur ³ 60°C hanya dipasang untuk line atau peralatan yang berdampak pada sistem proses, bukan sekedar  sebagai personal protection. Personal protection dipasang untuk pipa-pipa yang mudah bersentuhan dengan badan manusia, namun bila tidak (di bawah ataupun di atas jangkauan manusia) dianjurkan tidak perlu dipasang. Untuk line yang tidak diisolasi, perlu dilakukan coating dengan mengikuti prosedur baku coating.

5.2.            Buka isolasi pada line number terlampir di bawah.

5.3.            Lakukan coating (dengan persiapan permukaan yang benar).

5.4.            Pasang isolasi dengan type yang kandungan Chloride dan senyawa halogen terendah.

5.5.           Bila memungkinkan dapat dicoba mengaplikasikan metode TIC (Thermal Insulation Coating).

Korosi adalah fenomena alam (Sunatullah) yang akan terus terjadi selama alam semesta ini ada dan selama logam berinteraksi (berhubungan) dengan lingkungannya, seperti hal-nya manusia yang mengalami tahapan dari muda menjadi tua (karena juga berinteraksi dengan lingkungannya), kemudian tiada. Semuanya itu tidak bisa kita tolak, namun sebagai makhluk yang berpikir, kita diwajibkan untuk mensiasatinya. Seperti upaya manusia agar tetap awet muda dan selalu sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi, vitamin, suplement, anti oksidan, ataupun memakai komestik pengencang dan pemutih kulit, dsb.; demikian pula logam, untuk menghambat laju kerusakan perlu memakai inhibitor (penghambat) korosi.

Korosi adalah kerusakan logam akibat berinteraksi dengan lingkungannya. Proses korosi logam dalam larutan akuatik (mengandung air) merupakan reaksi elektrokimia yang meliputi proses perpindahan massa dan perpindahan muatan. Bila suatu logam dicelupkan dalam larutan elektrolit, terjadi dua lokasi yang disebut anoda dan katoda. Pada anoda terjadi reaksi oksidasi dan pada katoda terjadi reaksi reduksi.

Inhibitor adalah zat yang bila ditambahkan ke dalam suatu lingkungan dalam jumlah kecil, secara sinambung atau berkala, dapat menurunkan laju korosi logam. Pemakaian Inhibitor Korosi adalah salah satu upaya untuk mencegah korosi.

Ada berbagai jenis Inhibitor yang dikenal, dan diklasifikasikan berdasarkan bahan dasarnya, reaksi yang dihambat, serta mekanisme inhibisinya.

q       Menurut Bahan Dasarnya :

§         Inhibitor Organik : Menghambat korosi dengan cara teradsorpsi kimiawi pada permukaan logam, melalui ikatan logam-heteroatom. Inhibitor ini terbuat dari bahan organik. Contohnya adalah : gugus amine, tio, fosfo, dan eter. Gugus amine biasa dipakai di sistem boiler.

§         Inhibitor Inorganik

Inhibitor yang terbuat dari bahan anorganik.

q       Menurut Reaksi yang dihambat :

§         Inhibitor katodik :

Yang dihambat adalah reaksi reduksi. Molekul organik netral teradsorpsi di permukaan logam, sehingga mengurangi akses ion hidrogen menuju permukaan elektroda. Dengan berkurangnya akses ion hidrogen yang menuju permukaan elektroda, maka hydrogen overvoltage akan meningkat, sehingga menghambat reaksi evolusi hidrogen yang berakibat  menurunkan laju korosi.

Inhibitor katodik dibedakan menjadi :

·        Inhibitor racun : Contohnya : As2O3, Sb2O3.

-         menghambat penggabungan atom-atom Had menjadi molekul gas H2 di permukaan logam

-         dapat mengakibatkan perapuhan hidrogen pada baja kekuatan tinggi.

-         Bersifat racun bagi lingkungan.

·        Inhibitor presipitasi katodik :

-         mengendapkan CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4 dari dalam air. Contoh  : ZnSO4 + dispersan.

·        Oxygen scavenger :

-         mengikat O2 terlarut

Contoh : N2H4 (Hydrazine) + O2 N2 + 2 H2O

Hydrazine diinjeksikan di up stream Deaerator dalam sistem WHB (Waste Heat Boiler) dan WHR (Waste Heat Recovery) di unit pabrik Ammonia maupun Utilitas.

§         Inhibitor Anodik :

Adalah inhibitor yang menghambat reaksi oksidasi.

Fe + OH- ® FeOHad + e-

FeOHad + Fe + OH-  Û FeOHad + FeOH+ + 2e-

§         Molekul organik teradsorpsi di permukaan logam, sehingga  katalis FeOHad berkurang akibatnya laju korosi menurun. Contoh inhibitor anodik adalah molibdat, silikat, fosfat, borat, kromat, nitrit, dan nitrat. Inhibitor jenis ini sering dipakai / ditambahkan pada saat chemical cleaning peralatan pabrik.

§         Inhibitor campuran : Campuran dari inhibitor katodik dan anodik.

q       Menurut Mekanisme (Cara Kerja) Inhibisi  :

§         Inhibitor Pasivator : menghambat korosi dengan cara menghambat reaksi anodik melalui pembentukan lapisan pasif, sehingga merupakan inhibitor berbahaya, bila jumlah yang ditambahkan tidak mencukupi.

Inhibitor Pasivator terdiri dari :

·        Inhibitor Pasivator Oksidator, misalnya : Cr2O72-, , CrO42-, ClO3-, ClO4-.

Cr2O72- mempasivasi baja dengan peningkatan reaksi katodik dari Cr2O72- menjadi Cr2O3, dan menghasilkan lapisan pasif Cr2O3 dan FeOOH.

·        Inhibitor Pasivator non oksidator, contohnya : ion metalat (vanadat, ortovanadat, metavanadat), NO2-. Inhibitor vanadium dipakai di Unit CO2 Removal Pabrik Ammonia, karena larutan Benfield yang bersifat korosif.

Molybdat (MoO42-) menginhibisi dengan cara membentuk lapisan pelindung yang terdiri dari senyawa ferro-molybdat menurut reaksi berikut :

Fe + ½ O2 + H+ Fe2+  + OH-

MoO42- + Fe2+   FeMoO4

·        Pembentuk senyawa tak larut :

INH + H2O Û OH- ; M + 2 OH- ÛMO¯ + H2O

Misalnya : NaOH, Na3PO4, Na2HPO4, Na2CO3, NaBO3.

§    Inhibitor Presipitasi : Membentuk kompleks tak larut dengan logam atau lingkungan sehingga menutup permukaan logam dan menghambat reaksi anodik dan katodik. Contoh : Na3PO4, Na2HPO4.

·        Contoh inhibitor yang bereaksi dengan logam :

Na3PO4 +3H2O® 3Na++3OH- + H3PO4

Fe + 2 OH-® FeO¯ + H2O + 2e-

·        Contoh inhibitor yang bereaksi dengan lingkungan :

2 Na3PO4 +2Ca2+ (dalam air) ® 2Ca3(PO4)2¯  + 3Na2+      

§         Inhibitor Adsorpsi : Agar teradsorpsi harus ada gugus aktif (gugus heteroatom). Gugus ini akan teradsorpsi di permukaan logam. Contoh : Senyawa asetilen, senyawa sulfur, senyawa amine dan senyawa aldehid.

§         Inhibitor Aman dan Inhibitor Berbahaya :

·        Inhibitor aman (tidak berbahaya) adalah inhibitor yang bila ditambahkan dalam jumlah yang kurang (terlalu sedikit) dari konsentrasi kritisnya, tetap akan mengurangi laju korosi. Inhibitor aman ini umumnya adalah inhibitor katodik, contohnya adalah garam-garam seng dan magnesium, calcium, dan polifosfat.

·        Inhibitor berbahaya adalah inhibitor apabila ditambahkan di bawah harga kritis akan mengurangi daerah anodik, namun luas daerah katodik tidak terpengaruh. Sehingga kebutuhan arus dari anoda yang masih aktif bertambah hingga mencapai harga maksimum sedikit di bawah konsentrasi kritis. Laju korosi di anoda-anoda yang aktif itu meningkat dan memperhebat serangan korosi sumuran. Yang termasuk inhibitor berbahaya adalah inhibitor anodik, contohnya adalah molibdat, silikat, fosfat, borat, kromat, nitrit, dan nitrat. 

 

Daftar Pustaka

1.    Jones, Denny A., (1992), “Principle and Prevention of Corrosion”, Macmillan Publishing Company, New York.

2.    Rozenfeld, I.L., (1981), “Corrosion Inhibitors”, McGraw-Hill Inc., New York.

3.    Priandani, Manik, (2001), “Studi Pengaruh Inhibitor Formaldehid Terhadap Korosi Baja Karbon ASTM A 283 oleh Bakteri Pereduksi Sulfat (SRB) di dalam Air Laut”, Master Thesis,  Program Khusus Rekayasa Korosi, Program Studi Rekayasa Pertambangan, ITB.

 

Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari binatang atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon, protein, dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut.

Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, yang dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan; sedangkan bentuk lainnya berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob. Dimanapun limbah organik berada, jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya memerlukan oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hudupnya tidak memerlukan oksigen) dan mikroba .fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan aerobik dan anaerobik).

Limbah organik yang ada di badan air aerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba aerobik (BAR); dengan proses seperti pada reaksi (1) dan (2):

·                     BAR + O2 + BAR è CO2 + NH3 + prod lain + enerji .. (1) (COHNS)

·                     COHNS + O2 + BAR + enerji è C5H7O2N (sel MO baru)…(2)

Kedua reaksi tersebut diatas dengan jelas mengisaratkan bahwa makin banyak limbah organik yang masuk dan tinggal pada lapisan aerobik akan makin besar pula kebutuhan oksigen bagi mikroba yang mendekomposisi, bahkan jika keperluan oksigen bagi mikroba yang ada melebihi konsentrasi oksigen terlarut maka oksigen terlarut bisa menjadi nol dan mikroba aerobpun akan musnah digantikan oleh mikroba anaerob dan fakultatif yang untuk aktifitas hidupnya tidak memerlukan oksigen.

Dekomposisi di Badan Air Anaerob

Limbah organik yang masuk ke badan air yang anaerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba anaerobik atau fakultatif (BAN); dengan proses seperti pada reaksi (3) dan (4):

·                     COHNS + BAN è CO2 + H2S + NH3 + CH4 + produk lain + enerji ……….(3)

·                     COHNS + BAN + enerji è C5H7O2 N (sel MO baru)….…..(4)

Kedua proses tersebut diatas mengungkapkan bahwa aktifitas mikroba yang hidup di bagian badan air yang anaerob selain menghasilkan sel-sel mikroba baru juga menghasilkan senyawa-senyawa CO2, NH3, H2S, dan CH4 serta senyawa lainnya seperti amin, PH3 dan komponen fosfor. Asam sulfide (H2S), amin dan komponen fosfor adalah senyawa yang mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap, misalnya H2S berbau busuk dan amin berbau anyir. Selain itu telah disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat konsentrasi tertentu adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain, termasuk ikan.

Selain menghasilkan senyawa yang tidak bersahabat bagi lingkungan seperti tersebut diatas, hasil dekomposisi di semua bagian badan air menghasilkan CO2 dan NH3 yang siap dipakai oleh organisme perairan berklorofil (fitoplankton) untuk aktifitas fotosintesa; yang dapat digambarkan sebagai reaksi (5).

MATAHARI
NH3 +7.62 CO2 + 2.53 H2O è C7.62 H8.06 O 2.53 N + 7.62 O2 …..(5)

DAMPAK DEKOMPOSISI LIMBAH ORGANIK.

Uraian diatas mengungkapkan bahwa proses dekomposisi limbah organik di badan air bagian manapun cenderung selalu merugikan karena sebagian besar produknya (NH3 H2S dan CH4) dapat langsung mengganggu kehidupan fauna, sedang produk yang lain (nutrien) meskipun sampai pada konsentrasi tertentu menguntungkan namun jika limbah/nutrien terus bertambah (eutrofikasi) akan menjadi pencemar yang menurunkan kualitas perairan dan akhirnya mengganggu kehidupan fauna.

Dampak Langsung.

Pengaruh pertama proses dekomposisi limbah organik di badan air aerobik adalah terjadinya penurunan oksigen terlarut dalam badan air. Fenomena ini akan mengganggu pernafasan fauna air seperti ikan dan udang-udangan; dengan tingkat gangguan tergantung pada tingkat penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan jenis serta fase fauna. Secara umum diketahui bahwa kebutuhan oksigen jenis udang-udangan lebih tinggi daripada ikan dan kebutuhan oksigen fase larva/juvenil suatu jenis fauna lebih tinggi dari fase dewasanya. Dengan demikian maka dalam kondisi konsentrasi oksigen terlarut menurun akibat dekomposisi; larva udang-udangan akan lebih menderita ataupun mati lebih awal dari larva fauna lainnya. Fenomena seperti itulah yang diduga menjadi sebab kenapa akhir-akhir ini di sepanjang pantai utara P. Jawa yang padat penduduk dan tinggi pemasukan limbah organiknya tidak mudah lagi ditemukan bibit-bibit udang dan bandeng (nener); padahal pada masa lalu dengan mudahnya ditemukan..

Kesulitan fauna karena penurunan oksigen terlarut sebenarnya baru dampak permulaaan, sebab jika jumlah pencemar organik dalam badan air bertambah terus maka proses dekomposisi organik memerlukan oksigen lebih besar dan akibatnya badan air akan mengalami deplesi oksigen bahkan bisa habis sehingga badan air menjadi anaerob (Polprasert, 1989). Jika fenomena ini terjadi pada seluruh bagian badan air maka fauna air akan mati masal karena tidak bisa menghindar; namun jika hanya terjadi di bagian bawah badan air maka fauna air, termasuk ikan masih bisa menghindar ke permukaan hingga terhindar dari kematian. Secara alamiah kejadian anaerob di semua lapisan badan air memang sangat sulit terjadi karena bagian atas air selalu berhubungan dengan udara bebas yang selalu mensupplainya, namun demikian kalau sebagian badan air anaerob sangatlan sering; misal di teluk-teluk waduk dan pantai yang relatip menggenang sering muncul gelembung-gelembung gas yang mengisaratkan bahwa bagian air yang anaerob dekat dengan permukaan air.

Telah diuraikan bahwa pada badan air yang anaerob dekomposisi bahan organik menghasilkan gas-gas, seperti H2S, metan dan amoniak yang bersifat racun bagi fauna seperti ikan dan udang-udangan. Seperti penurunan oksigen terlarut; senyawa-senyawa beracun inipun dalam konsentrasi tertentu akan dapat membunuh fauna air yang ada.

Selain menyebabkan penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan menghasilkan senyawa beracun yang selalu merugikan dan dapat menyebabkan kematian fauna; dekomposisi juga dapat menghasilkan kondisi perairan yang cocok bagi kehidupan mikroba fatogen yang terdiri dari mikroba, virus dan protozoa (Polprasert, 1989), yang setelah berkembang-biak, setiap saat dapat menyerang dan menjadi penyakit yang mematikan ikan, udang dan fauna lainnya

Dampak Tidak Langsung (Eutrofikasi)

Selain menurunkan konsentrasi oksigen terlarut, menghasilkan senyawa beracun dan menjadi tempat hidup mikroba fatogen yang menyengsarakan fauna air; dekomposisi juga menghasilkan senyawa nutrien (nitrogen dan fosfor) yang menyuburkan perairan. Nutrien merupakan unsur kimia yang diperlukan alga (fitoplankton) untuk hidup dan pertumbuhannya (Hutchinson, 1944; Margalef, 1958 dan Frost, 1980). Sampai pada tingkat konsentrasi tertentu, peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air akan meningkatkan produktivitas perairan (Garno, 1995); karena nutrien yang larut dalam badan air langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton (reaksi no 5) untuk pertumbuhannya sehingga populasi dan kelimpahannya meningkat (Garno, 1992). Peningkatan kelimpahan fitoplankton akan diikuti dengan peningkatan kelimpahan zooplankton, yang makanan utamanya adalah fitoplankton (Garno, 1998). Akhirnya karena fitoplankton dan zooplankton adalah makanan utama ikan; maka kenaikan kelimpahan keduanya akan menaikan kelimpahan (produksi) ikan dalam badan air tersebut.

Sangat disayangkan bahwa jika peningkatan nutrien terus berlanjut maka dampak positif seperti itu hanya bersifat sementara bahkan akan terjadi proses yang berdampak negatif bagi kualitas badan air (Anonim, 2001). Peningkatan konsentrasi nutrien yang berkelanjutan dalam badan air, apalagi dalam jumlah yang cukup besar akan menyebabkan badan air menjadi sangat subur atau eutrofik (Henderson, 1987). Proses peningkatan kesuburan air yang berlebihan yang disebabkan oleh masuknya nutrien dalam badan air, terutama fosfat inilah yang disebut eutrofikasi (Anonim, 2001).

Sesungguhnya eutrofikasi adalah sebuah proses alamiah yang terjadi dengan pelahan-lahan dan memakan waktu berabad-abad bahkan ribuan tahun; di mana badan air yang relatif tergenang seperti danau dan pantai tertutup mengalami perubahan produktifitas secara bertahap. Namun demikian, sejalan dengan peningkatan populasi manusia yang diikuti dengan peningkatan jumlah limbah yang dihasilkannya, maka tanpa disadari fenomena ini telah dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade seperti yang umum terjadi pada berbagai danau dan pantai (Goldman dan Horne,1983); bahkan beberapa tahun saja seperti eutrofikasi yang terjadi pada perairan waduk kaskade Citarum (Garno, 2001a) dan beberapa minggu seperti eutrofikasi yang terjadi pada perairan tambak (Garno, 2001b). Fenomena tersebut menunjukkan bahwa eutrofikasi memang telah menjadi masalah perairan umum di seluruh di dunia..

Publikasi yang ada menyatakan bahwa kandungan fosfor > 0,010 mgP·l-1 dan nitrogen > 0,300 mgN·l-1 dalam badan air akan merangsang fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang-biak dengan pesat (Henderson dan Markland, 1987), sehingga terjadi blooming sebagai hasil fotosintesa yang maksimal dan menyebabkan peningkatan biomasa perairan tersebut (Garno, 1992). Sehubungan dengan peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air, setiap jenis fitoplankton mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkannya sehingga kecepatan tumbuh setiap jenis fitoplankton berbeda (Henderson dan Markland 1987; Margalef, 1958;. Selain itu setiap jenis fitoplankton juga mempunyai respon yang berbeda terhadap perbandingan jenis nutrien yang terlarut dalam badan air (Kilham dan Kilham, 1978). Fenomena ini menyebabkan komunitas fitoplankton dalam suatu badan air mempunyai struktur dan dominasi jenis yang berbeda dengan badan air lainnya (Hutchinson, 1944; Margalef., 1958 Reynolds, 1989).

Perbedaan struktur dan dominasi jenis fitoplankton tersebut diatas juga dipengaruhi oleh karakteristik fitoplankton dan zooplankton yang ada. Diketahui beberapa jenis fitoplankton tidak dapat dimakan oleh zooplankton karena bentuk morpologi, fisiologi (Horn, 1981; Garno, 1993; Geller, 1975, Downing dan Petter, 1980) komposisi fitoplankton; dan mekanisme makan zooplankton (DeMott, 1982; Frost, 1980; James &. Forsynth 1990) serta faktor abiotik lainnya. Selanjutnya dalam kondisi persediaan makanan (fitoplankton) banyak dan beragam; zooplankton melakukan pemilihan terhadap jenis, bentuk dan ukuran fitoplankton yang hendak dimakan atau selective feeding (Garno, 1993).

Interaksi kompleks antara nutrien, fitoplankton dan zooplankton tersebut menyebabkan badan air yang mengalami eutrofikasi pada akhirnya akan didominasi oleh sejenis fitoplankton tertentu yang pada umumnya tidak bisa dimakan oleh fauna air terutama zooplankton dan ikan; termasuk karena beracun. Sebagai contoh yang nyata dari fenomena ini adalah dominasi Mycrocistis sp di waduk-waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur (Garno, 2001, 2002, 2003); dan dominasi Pyrodinium bahamense, lexandrium spp. dan Gymnodinium spp. di perairan pantai/pesisir waktu terjadi “red-tide

Selain merugikan dan mengancam keberlanjutan fauna akibat dominasi fito-plankton yang tidak dapat dimakan dan beracun; blooming yang menghasilkan biomasa (organik) tinggi juga merugikan fauna; karena fenomena blooming selalu diikuti dengan penurunan oksigen terlarut secara drastis akibat pe-manfaatan oksigen yang ber lebihan untuk de-komposisi biomasa (organik) yang mati. Seperti pada analisis dampak langsung tersebut diatas maka rendahnya konsentrasi oksigen terlarut apalagi jika sampai batas nol akan menyebabkan ikan dan fauna lainnya tidak bisa hidup dengan baik dan mati. Selain menekan oksigen terlarut proses dekomposisi tersebut juga menghasilkan gas beracun seperti NH3 dan H2S yang pada konsentrasi tertentu dapat membahayakan fauna air, termasuk ikan.

Selain badan air didominasi oleh fitoplankton yang tidak ramah lingkungan seperti tersebut diatas, eutrofikasi juga merangsang pertumbuhan tanaman air lainnya, baik yang hidup di tepian (eceng gondok) maupun dalam badan air (hydrilla). Oleh karena itulah maka di rawa-rawa dan danau-danau yang telah mengalami eutrofikasi tepiannya ditumbuhi dengan subur oleh tanaman air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla dan rumput air lainnya.

Akhirnya, yang harus dimengerti dan disadari adalah bahwa karena Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan cahaya Matahari sepanjang tahun; maka blooming (dalam arti biomasa alga tinggi) dapat terjadi sepanjang tahun. Artinya kapan saja (asal tidak mendung/hujan) dan dari manapun asalnya kalau konsentrasi nutrien dalam badan air meningkat maka akan meningkat pula aktifitas fotosintesa fitoplankton yang ada; dan jika peningkatan nutrien cukup besar alau lama akan terjadi blooming. Fenomena itulah yang menyebabkan badan-badan air (waduk, danau dan pantai) di Indonesia yang telah menjadi hijau warnanya tidak pernah atau jarang sekali menjadi jernih kembali; tidak seperti di negeri 4 musim seperti Kanada dan Jepang yang blooming hanya terjadi di akhir musim semi dan panas.

 

By : dhani

Game theory sebenarnya adalah cabang matematika terapan yang sering dipakai dalam konteks ekonomi. Teori ini mempelajari interaksi strategis antar pemain (“agen”). Dalam permainan strategis, suatu agen memilih strategi yang dapat memaksimalkan keuntungan, berdasarkan strategi yang dipilih agen lain. Intinya, teori ini menyediakan pendekatan permodelan formal terhadap situasi sosial mengenai bagaimana pelaku keputusan berinteraksi dengan agen lain.

Game theory dapat menjelaskan suatu paradoks yang cukup terkenal, yakni bagaimana orang bisa bekerjasama dalam masyarakat apabila masing-masing dari mereka cenderung berusaha untuk menjadi pemenang. Asal tahu saja, paradoks ini sempat menyusahkan Charles Darwin saat menyusun teori evolusinya itu. (Dan dengan demikian mematahkan satu lagi argumen bahwa teori evolusi tidak dapat dibuktikan secara matematis).

Para ekonom dibikin kagum dengan game theory karena teori ini dapat menjelaskan secara matematis mengapa tangan yang tak terlihat (invisible hand) yang diajukan oleh pelopor pasar bebas Adam Smith, bisa gagal memberikan kemaslahatan umum. John Nash, matematikawan yang juga dikenal sebagai salah seorang pelopor game theory menunjukkan perbedaan antara permainan kooperatif, dimana masing-masing pemain saling bekerjasama secara terikat, dan permainan non-kooperatif, dimana tidak ada kekuatan dari luar permainan yang dapat memaksakan berlakunya sekumpulan peraturan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Dalam permainan non-kooperatif, Nash menemukan bahwa jika harapan semua pemain terpenuhi, mereka tidak akan mau mengubah strategi karena mereka akan rugi sendiri. Hasilnya adalah suatu kesetimbangan (equilibrium), yang sekarang disebut sebagai Kesetimbangan Nash. Walaupun pernah frustrasi sampai sakit jiwa akibat gagal memperoleh medali Field (penghargaan prestisius untuk bidang Matematika), tapi Nash akhirnya berhasil meraih Nobel Ekonomi berkat teorinya ini.

Karya ini bisa menerangi keputusan-keputusan bisnis dalam pasar yang penuh persaingan, teori makroekonomi untuk kebijakan ekonomi, ekonomi lingkungan dan sumberdaya, teori perdagangan luar negeri, ekonomi informasi, dan seterusnya. Para politisi juga pasti menyukai teori ini karena bisa menunjukkan bagaimana kepentingan pribadi yang “rasional” bisa merugikan semua orang. Pada 1970-an, game theory diperluas hingga mencakup bidang biologi. Sekarang kita lihat, bagaimana game theory berperan dalam teori evolusi.

Untuk itu, kita perlu berkenalan dulu dengan yang namanya dilema narapidana (prisoner’s dilemma). Ini adalah istilah untuk menggambarkan interaksi, entah antara individu-individu atau kelompok-kelompok dalam bentuk suatu permainan sederhana. Gagasan permainannya adalah untuk menirukan konflik-konflik yang ada dalam dunia nyata, antara pandangan pemenang memperoleh segalanya, dan perlunya kerjasama dan kompromi untuk memperoleh semuanya itu.

Berikut adalah skenario dasar dari dilema narapidana. Dua narapidana (napi) diketahui telah melakukan jenis kejahatan X. Tetapi, polisi menduga mereka telah melakukan suatu jenis kejahatan Y yang lebih serius. Kedua napi lantas ditempatkan dalam sel terpisah dan masing-masing diberikan tawaran:

  • Napi yang bersaksi melawan napi yang lainnya terkait dengan kejahatan Y akan dibebaskan, sementara napi lainnya akan dipenjara selama 3 tahun. Ini disebut ”sucker’s payoff” (entah apa terjemahannya dalam bahasa Indonesia).
  • Apabila keduanya menyangkal, atau saling bersaksi terhadap yang lainnya, maka keduanya akan mendapat hukuman 2 tahun penjara.
  • Apabila keduanya bungkam, maka masing-masing akan menjalani hukuman 1 tahun penjara.

Disini, kedua napi pada dasarnya mendapat dua pilihan: untuk bekerjasama (dalam skenario ini, tetap diam) atau untuk berkhianat. Bekerjasama artinya bahwa napi bersangkutan bisa jadi mendekam di penjara selama 1 atau 3 tahun. Tapi apabila berkhianat, maka ia dapat menjalani hukuman 0 atau 2 tahun, tergantung pengakuan napi lainnya.

Karena masing-masing napi tidak tahu pilihan apa yang diambil napi lainnya (keduanya berada dalam sel terpisah dan tidak dapat berkomunikasi satu sama lain), pilihan yang rasional, menurut aturan bertahan hidup ala Darwin adalah pilihan yang paling menguntungkan (ingat kaidah survival of the fittest). Dalam hal ini adalah memaksimalkan kemungkinan terbaik (nol tahun di penjara) dan meminimalisir kemungkinan terburuk (2 atau 3 tahun di penjara).

Tahun 1980-an, sebuah kompetisi pemrograman komputer diadakan untuk mencari solusi terbaik untuk dilema narapidana. Hasilnya, sebuah program simulasi yang dinamai Tit-for-tat keluar sebagai pemenang. Seperti yang ditunjukkan oleh namanya (yang secara harafiah berarti satu pukulan dibalas satu pukulan), program ini memilih bekerjasama pada putaran pertama, dan kemudian menirukan apapun yang dilakukan lawan pada putaran-putaran selanjutnya.

Dalam kasus ini, saling bekerjasama membawa hasil positif, sementara si pengkhianat kelak akan memperoleh balasannya (apabila Anda mengkhianati saya, pada putaran berikut Anda juga akan saya khianati). Sebaliknya, kalau kita bekerjasama, tidak perduli apapun yang dilakukan orang lain, akibatnya adalah “suckers payoff.” Orang lain tidak punya insentif untuk bekerjasama dengan kita, dan akibatnya kita akan selalu menjadi pecundang.

Tapi, itu kan dalam simulasi. Dalam dunia nyata, si baik bisa saja merugi, dan si pengkhiat bisa beruntung, dan kadang-kadang memang demikian yang terjadi. Kemunculan kerjasama dapat dipicu manakala salahsatu diantara kondisi-kondisi berikut ini ada: para ‘pemain’ berkali-kali saling bertemu; mereka saling mengenal; mereka mengingat hasil pertemuan terdahulu. Tapi ada juga faktor-faktor lain yang juga perlu diperhitungkan, mulai dari peluang terjadinya pertemuan antar pemain, kesalahan-kesalahan (ketika ajakan untuk bekerjasama justeru dianggap sebagai pengkhianatan), hingga kemungkinan adanya faktor genetis pembentuk perilaku yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, tit-for tat mungkin terlalu ideal sehingga sulit diterapkan di dunia nyata.

Solusinya adalah dengan menambahkan unsur kesalahan, yang mungkin hanya disebabkan kecenderungan manusiawi untuk berbuat kesalahan. Tit-for-tat bukanlah strategi paling hebat, karena tidak punya sifat pemaaf: sekali dua pemain tit-for-tat mulai saling berkhianat, mereka akan terus melakukan itu. Dengan menambahkan sedikit unsur ketidakpastian, masing-masing pemain dapat mengembangkan strategi baru. Penambahan sedikit unsur keacakan pada perilaku program memungkinkan munculnya “sifat pemaaf”, dan kesempatan untuk menguji perilaku pemain lain.

Satu strategi yang menggunakan sifat pemaaf adalah “tit-for-tat baik hati” (generous tit-for-tat), dimana ditambahkan unsur keacakan untuk memutuskan lingkaran setan saling mengkhianati. Strategi lain yang yang lebih sukses, diberi nama Pavlov, dapat digambarkan dengan ungkapan “Kalau tidak rusak, tak usah diperbaiki (dan jika Anda kalah, ganti strategi).” Bagaimanapun juga, ketidak pastian ternyata memungkinkan kerjasama, dan pesan optimistik dalam model tit-for-tat tetap berlaku.

Pendeknya, apa yang ditunjukkan oleh dilema narapidana juga dapat terjadi dalam tataran pribadi maupun evolusioner: Kalau saya bekerjasama dengan Anda, maka Anda kemungkinan besar juga akan bekerjasama dengan saya (strategi tit-for-tat) dan kita akan memperoleh skor yang sama dalam “permainan kehidupan”. Sebaliknya, apabila kita saling mengkhianati, maka kita berdua sama-sama kalah dan akhirnya “game over”.

Adopted from www.blog.dhani.org

 

 

Bahan berbahaya adalah bahan kimia baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung atau tidak langsung yang mempunyai sifat racun, karsinogenik, teratogenik, mutagenik, korosif dan iritasi

(Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 472/ Menkes/ Per/ V/ 1996 tentang Pengamanan Bahan Berbahaya BagiKesehatan).

Sesungguhnya bahan kimia bersifat esensial dalam peningkatan kesejahteraan manusia, dan penggunaannya sedemikian luas di berbagai sektor antara lain industri, pertanian, pertambangan dan lain sebagainya. Singkatnya, bahan kimia dengan adanya aneka produk yang berasal dari padanya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun hal yang perlu kita waspadai adalah adanya kecenderungan penggunaan yang salah(misuse) sejumlah bahan (kimia) berbahaya pada pangan. Bahan kimia berbahaya yang sering disalah gunakan pada pangan antara lain boraks, formalin, rhodamin B, dan kuning metanil. Keempat bahan kimia tersebut dilarang digunakan untuk pangan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Di bawah ini diketengahkan sejumlah tujuan peruntukan dari senyawa-senyawa tersebut.

  • Boraks digunakan untuk mematri logam; pembuatan gelas dan enamel; anti jamur kayu; pembasmi kecoa; antiseptik; obat untuk kulit dalam bentuk salep; campuran pembersih.
  • Formalin digunakan untuk pembunuh kuman sehingga banyak dimanfaatkan sebagai pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian; pembasmi lalat dan berbagai serangga lain; bahan untuk pembuatan sutra buatan, zat pewarna, pembuatan gelas dan bahan peledak; dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas; bahan untuk pengawet mayat; bahan pembuatan pupuk lepas lambat (slow- release fertilizer) dalam bentuk urea formaldehid; bahan untuk pembuatan parfum; bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku; pencegah korosi untuk sumur minyak; bahan untuk insulasi busa; bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood); dalam konsentrasi yang sangat kecil (< 1%) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai produk konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan pembersih karpet.
  • Rhodamin B digunakan sebagai zat warna untuk kertas, tekstil (sutra, wool, kapas), sabun, kayu dan kulit; sebagai reagensia di laboratorium untuk pengujian antimon, kobal, niobium, emas, mangan, air raksa, tantalum, talium dan tungsten; untuk pewarna biologik.
  • Kuning metanil selain digunakan sebagai pewarna tekstil dan cat; juga digunakan sebagai indikator reaksi netralisasi (asam-basa).


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 722/ Menkes/ Per/ IX/ 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan, bahan yang dilarang digunakan pada pangan meliputi boraks/ asam borat, asam salisilat dan garamnya, dietilpirokarbonat, dulsin, kalium klorat, kloramfenikol, minyak nabati yang dibrominasi, nitrofuranazon, serta formalin. Disamping itu, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 239/ Menkes/ Per/ V/ 1985 tentang Zat Warna Tertentu yang dinyatakan Sebagai BahanBerbahaya, memuat sebanyak 30 zat warna yang dilarang digunakan untuk pangan termasuk rhodamin B dan kuning metanil. Pelarangan tersebut tentunya berkaitan dengan dampaknya yang merugikan kesehatan manusia.

Potensi risiko yang dapat ditimbulkan dari masing-masing keempat bahan berbahaya tersebut adalah sebagai berikut:

  • Boraks beracun terhadap semua sel. Bila tertelan senyawa ini dapat menyebabkan efek negatif pada susunan syaraf pusat, ginjal dan hati. Ginjal merupakan organ yang paling mengalami kerusakan dibandingkan dengan organ lain. Dosis fatal untuk dewasa berkisar antara 15-20 g dan untuk anak-anak 3-6 g. Bila tertelan, dapat menimbulkan gejala-gejala yang tertunda meliputi badan terasa tidak nyaman (malaise), mual, nyeri hebat pada perut bagian atas (epigastrik), pendarahan gastroenteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan rasa sakit kepala.
  • Formalin (larutan formaldehid), paparan formaldehid melalui saluran pencernaan dapat mengakibatkan luka korosif terhadap selaput lendir saluran pencernaan disertai mual, muntah, rasa perih yang hebat dan perforasi lambung. Efek sistemik dapat berupa depresi susunan syaraf pusat, koma, kejang, albuminaria, terdapatnya sel darah merah di urine (hematuria) dan asidosis metabolik. Dosis fatal formalin melalui saluran pencernaan pernah dilaporkan sebesar 30 ml. Formaldehid dapat mematikan sisi aktif dari protein- protein vital dalam tubuh, maka molekul-molekul itu akan kehilangan fungsi dalam metabolisme. Akibatnya fungsi sel akan terhenti.

Pada dasarnya, formaldehid dalam jaringan tubuh sebagian besar akan dimetabolisir kurang dari 2 menit oleh enzim formaldehid dehidrogenase menjadi asam format yang kemudian diekskresikan tubuh melalui urin dan sebagian dirubah menjadi CO2 yang dibuang melalui nafas. Fraksi formaldehid yang tidak mengalami metabolisme akan terikat secara stabil dengan makromolekul seluler protein DNA yang dapat berupa ikatan silang(cross-linked). Ikatan silang formaldehid dengan DNA dan protein ini diduga bertanggungjawab atas terjadinya kekacauan informasi genetik dan konsekuensi lebih lanjut seperti terjadi mutasi genetik dan sel kanker. Bila gen-gen rusak itu diwariskan, maka akan terlahir generasi dengan cacat gen. Dalam pada itu, International Agency Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikannya sebagai karsinogenik golongan 1 (cukup bukti sebagai karsinogen pada manusia), khususnya pada saluran pernafasan.

  • Rhodamin B bisa menumpuk di lemak sehingga lama-kelamaan jumlahnya akan terus bertambah. Rhodamin B diserap lebih banyak pada saluran pencernaan dan menunjukkan ikatan protein yang kuat. Kerusakan pada hati tikus terjadi akibat makanan yang mengandung rhodamin B dalam konsentrasi tinggi. Paparan rhodamin B dalam waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan kanker hati.
  • Kuning metanil dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak dan tekanan darah rendah. Pada jangka panjang dapat menyebabkan kanker kandung kemih.

Meskipun bahan kimia tersebut telah dilarang penggunaannya untuk pangan, namun potensi penggunaan yang salah (misuse) hingga saat ini bukan tidak mungkin.

Terdapat berbagai faktor yang mendorong banyak pihak untuk melakukan praktek penggunaan yang salah bahan kimia terlarang untuk pangan. Pertama, bahan kimia tersebut mudah diperoleh di pasaran. Kedua, harganya relatif murah. Ketiga, pangan yang mengandung bahan tersebut menampakkan tampilan fisik yang memikat. Keempat, tidak menimbulkan efek negatif seketika. Kelima, informasi bahan berbahaya tersebut relatif terbatas, dan pola penggunaannya telah dipraktekkan secara turun-temurun. Oleh karena itulah kita sebagai konsumen hendaknya perla berhati-hati dalam memilih produk pangan antara lain dengan mengenal ciri-ciri produk pangan yang mengandung bahan terlarang. Misalnya, tahu yang mengandung formalin mempunyai bentuk fisik yang terlampau keras, kenyal namun tidak padat, bau agak menyengat (bau formalin), tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar (25o C) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10o C).

Tentu upaya lain dapat ditempuh dalam hal sulit untuk menentukan ciri-ciri fisik produk pangan yang mengandung bahan kimia yang terlarang. Misalnya, membeli dari toko/ pasar swalayan yang bereputasi baik atau mengecek apakah produk dimaksud telah terdaftar . Disamping itu, masyarakat dapat mencari informasi tentang bahan berbahaya dari berbagai sumber yang tersedia antara lain: melalui media elektronik (TV, radio, internet), media cetak ( koran, leaflet, booklet, poster) atau komunikasi langsung melalui penyuluhan, seminar dan lain sebagainya. Dengan demikian, secara perlahan diharapkan terjadi perubahan perilaku dari mereka yang tidak tahu menjadi tahu dan dapat menggugah kesadaran mereka sehingga mau dan mampu untuk melakukan pengamanan paling tidak untuk lingkungan keluarganya sendiri. Pada gilirannya akan terbentuk suatu budaya yang menonjolkan perilaku kehidupan yang aman (safety culture) di tengah masyarakat.

Pemerintah dalam hal ini Badan POM bersama jajarannya yaitu Balai Besar POM/ Balai POM secara rutin melakukan pengawasan dan pengamanan termasuk melakukan sampling terhadap sejumlah sampel yang diduga mengandung bahan berbahaya antara lain: tahu, mie basah, kerupuk, ikan asin dan sebagainya untuk dilakukan uji laboratorium terhadap produk- produk tersebut, serta melakukan tindakan pengamanan yang sesuai.

Dalam rangka meminimalisir praktek penggunaan bahan kimia yang salah dalam pangan maka Badan Pengawas Obat dan Makanan tidak dapat melakukannya sendiri. Terdapat sejumlah aspek yang bukan merupakan kewenangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Salah satu diantaranya adalah pengaturan di bidang tata niaga dan distribusi bahan berbahaya yang merupakan kompetensi dari Departemen Perdagangan.

Baru-baru ini Departemen Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 04/M-Dag /Per/2/2006 tentang Distribusi dan Pengawasan Bahan Berbahaya, yang diamandemen dengan Peraturan Menteri Perdagangan No.8/M-DAG/PER/6/2006. Peraturan ini ditetapkan dengan maksud agar kasus penggunaan yang salah (misuse) bahan berbahaya pada pangan dapat dicegah atau paling tidak dikurangi dengan cara mengendalikan pasokan bahan berbahaya tersebut melalui mekanisme distribusi yang jelas. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa yang boleh memproduksi bahan berbahaya di dalam negeri adalah perusahaan yang sudah memiliki izin sebagai Produsen Bahan Berbahaya (PB2) dan PB2 hanya boleh menyalurkan bahan berbahaya kepada Pengguna Akhir Bahan Berbahaya (PAB2) atau melalui Distributor Terdaftar Bahan Berbahaya (DTB2). Selanjutnya, bahan berbahaya boleh diimpor oleh Importir Terdaftar Bahan Berbahaya (ITB2) yang berhak mendistribusikan secara langsung kepada PAB2. Importasi bahan berbahaya juga boleh dilakukan oleh Importir Produsen Bahan Berbahaya (IPB2) untuk kepentingan produksinya sendiri. DTB2 hanya boleh menyalurkan bahan berbahaya kepada PAB2 dan Pengecer terdaftar Bahan Berbahaya (PTB2) dan PTB2 hanya boleh menyalurkan bahan berbahaya kepada PAB2. Surat izin Usaha Perdagangan Bahan Berbahaya untuk DTB2 dan PTB2 dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Departemen Perdagangan dan gubernur di propinsi PTB2 tersebut berada. Pembinaan dan pengawasan terhadap IPB2, ITB2, DTB2, PTB2 dilakukan oleh Departemen Perdagangan berkoordinasi dengan departemen/ instansi yang terkait. Pada peraturan menteri tersebut, diatur 54 jenis (terlampir) bahan berbahaya yang dilarang penggunaannya dalam pangan.

 

DAFTAR JENIS BAHAN BERBAHAYA

NO

NAMA BAHAN

NOMOR CAS *)

KEMASAN TERKECIL DISTRIBUTOR DAN PENGECER

KEPERLUAN LAIN DILUAR PANGAN

LABORATORIUM / PENELITIAN

1.

Alkannin

23444-65-7

1 kg

25 g

2.

Asam Borat

10043-35-3

1 kg

25 g

3.

Asam Monokloroasetat

79 – 11 – 8

1 l

25 ml

4.

Asam Nordihidroguaiaretat

500-38-9

1 kg

25 g

5.

Asam Salisilat

69-72-7

1 kg

2,5 g

6.

Auramin

2465-27-2

1 kg

10 g

7.

Amaran

915-67-3

1 kg

10 g

8.

Besi (III) oksida

1309-37-1

1 kg

10 g

9.

Bismut Oksiklorida

7787-59-9

1 kg

25 g

10.

Boraks

1303-96-4

5 kg

25 g

11.

Coklat FB

12236-46-3

1 kg

25 g

12.

Dietil Pirokarbonat

1609-47-8

1 kg

25 g

13.

Dulsin

150-69-6

1 kg

5 g

14.

Formaldehid larutan

50-00-0

10 l

25 ml

15.

Hijau Amasid G

5141-20-8

1 kg

25 g

16.

Indantren Biru R

81-77-6

1 kg

10 g

17.

Kalkozin Magenta N

569-61-9

1 kg

25 g

18.

Kalium Borat

7758-01-2

1 kg

50 g

19.

Kalium Klorat

3811-04-9

1 kg

5 g

20.

Kobalt Asetat

71-48-7

1 kg

5 g

21.

 

Kobalt Klorid

 

7646-79-9

 

1 kg

 

5 g

 

22.

 

Kobalt Sulfat

 

10124-43-3

 

1 kg

 

5 g

 

23.

 

Krisoidin

 

532-82-1

 

1 kg

 

50 g

 

24.

 

Krisoin S

 

547-57-9

 

1 kg

 

10 g

 

25.

 

Kumarin

 

91-64 – 5

 

1 kg

 

5 g

 

26.

 

Kuning Anilin

 

2706-28-7

 

1 kg

 

10 g

 

27.

 

Kuning Mentega

 

60-11-7

 

1 kg

 

10 g

 

28.

 

Kuning Metanil

 

587-98-4

 

1 kg

 

25 g

 

29.

 

Kuning AB

 

85-84-7

 

1 kg

 

10 g

 

30.

 

Kuning OB

 

131-79-3

 

1 kg

 

10 g

 

31.

 

Magenta I

 

632-99-5

 

1 kg

 

25 g

 

32.

 

Magenta II

 

26261-57-4

 

1 kg

 

25 g

 

33.

 

Magenta III

 

3248-91-7

 

1 kg

 

25 g

 

34.

 

Merah Sitrus No.2

 

6358-53-8

 

1 kg

 

25 g

 

35.

 

Minyak Oranye SS

 

2646-17-5

 

1 kg

 

25 g

 

36.

 

Minyak Oranye XO

 

3118-97-6

 

1 kg

 

25 g

 

37.

 

Nitrobenzen

 

98-95-3

 

1 l

 

25 ml

 

38.

 

Nitrofurazon

 

59-87-0

 

1 kg

 

5 g

 

39.

 

Natrium Salisilat

 

54-21-7

 

1 kg

 

5 g

 

40.

 

Oranye G

 

1936-15-8

 

1 kg

 

25 g

 

41.

 

Oranye GGN

 

523-44-4

 

1 kg

 

25 g

 

42.

 

Orcein

 

1400-62-0

 

1 kg

 

5 g

 

43.

 

P 400

 

553 – 79 – 7

 

1 kg

 

5 g

 

44.

 

Paraformaldehid

 

30525-89-4

 

1 kg/ 1 fl (100 tab)

 

5 g

 

45.

 

Ponceau 3R

 

3564-09-08

 

1 kg

 

5 g

 

46.

 

Ponceau 6R

 

5850-44-2

 

1 kg

 

5 g

 

47.

 

Ponceau SX

 

4548-53-2

 

1 kg

 

10 g

 

48.

 

Rhodamin B

 

81-88-9

 

1 kg

 

1 g

 

49.

 

Sinamil Antranilat

 

87-29-6

 

1 kg

 

10 g

 

50.

 

Skarlet GN

 

3257-28-1

 

1 kg

 

10 g

 

51.

 

Sudan 1

 

842-07-9

 

1 kg

 

25 g

 

52.

 

Tiourea

 

62 – 56 – 6

 

1 kg

 

25 g

 

53.

 

Trioksan

 

110-88-3

 

1 kg

 

25 g

 

54.

 

Violet 6B

 

1694-09-3

 

1 kg

 

10 g

 

Dr. Ir. Anton Apriyantono

Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta, Institut Pertanian Bogor.

 

PENDAHULUAN

Terlepas dari pro dan kontra diharamkannya MSG Ajinomoto oleh MUI baru-baru ini, kejadian tersebut seharusnya membangunkan kita dari tidur panjang selama ini, betapa banyak permasalahan yang dihadapi umat Islam dalam masalah kehalalan produk-produk pangan. Oleh karena itu, ilmuwan diharapkan ikut berperan dalam menyelesaikan permasalahan ini demi kepentingan umat. Agaknya perkembangan teknologi yang sedemikian pesat belum sejalan dengan perkembangan pemahaman hukum Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ijtihad dalam masalah kehalalan produk pangan ini sangat dibutuhkan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam dalam masalah ini.

Di satu sisi, para ahli syariah Islam mungkin belum seluruhnya menyadari betapa kompleksnya produk pangan dewasa ini dimana asal usul bahan bisa melalui jalur yang berliku-liku, banyak jalur, bahkan dalam beberapa kasus, sulit ditentukan asal bahannya. Dengan demikian, penentuan kehalalan suatu produk menjadi tidak mudah, memerlukan peran ilmuwan untuk menelusuri asal usul bahan dan proses pembuatannya. Di sisi lain, pemahaman para ilmuwan terhadap syariah Islam, ushul fiqih dan metodologi penentuan halam haramnya suatu bahan pangan dari sisi syariah, relatif minimal. Akibatnya, sering terjadi perbedaan pandangan dalam menentukan kehalalan produk pangan. Dengan demikian seharusnya para ilmuwan muslim menggali kembali pengetahuan syariahnya, sehingga mampu mengamalkannya dalam kegiatan sehari-hari. Disamping itu, pengetahuan tersebut akan membantu ilmuwan untuk bersama-sama ulama menentukan status kehalalan produk-produk pangan.

Dalam makalah ini akan dicoba dibahas hukum-hukum syariah yang berhubungan kehalalan makanan dan minuman serta implikasinya dalam penentuan kehalalan produk pangan hasil bioteknologi. Tentu saja pembahasan disini lebih menekankan pada kajian berdasarkan sumber utama yaitu Al-Quran dan hadis, kemudian didukung oleh hasil ijma ulama dan pendapat-pendapat para ulama. Selain itu, pembahasan hanya secara garis besar saja, kecuali beberapa hal yang dianggap kritis. Selanjutnya akan dicoba membahas secara umum bagaimana implikasi hukum-hukum tersebut pada produk pangan hasil bioteknologi.

BAHAN PANGAN YANG DIHARAMKAN

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya (Al-Maaidah: 88).

Ayat tersebut diatas jelas-jelas telah menyuruh kita hanya memakan makanan yang halal dan baik saja, dua kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, yang dapat diartikan halal dari segi syariah dan baik dari segi kesehatan, gizi, estetika dan lainnya.

Sesuai dengan kaidah ushul fiqih, segala sesuatu yang Allah tidak melarangnya berarti halal. Dengan demikian semua makanan dan minuman diluar yang diharamkan adalah halal. Oleh karena itu, sebenarnya sangatlah sedikit makanan dan minuman yang diharamkan tersebut. Walaupun demikian, pada zaman dimana teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari manusia, maka permasalahan makanan dan minuman halal menjadi relatif kompleks, apalagi yang menyangkut produk-produk bioteknologi.

Makanan yang Diharamkan

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut nama selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang (Al-Baqarah:173).

Dari ayat diatas jelaslah bahwa makanan yang diharamkan pada pokoknya ada empat:

  1. Bangkai: yang termasuk kedalam kategori bangkai ialah hewan yang mati dengan tidak disembelih, termasuk kedalamnya hewan yang matinya tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk dan diterkam oleh hewan buas, kecuali yang sempat kita menyembelihnya (Al-Maaidah:3). Bangkai yang boleh dimakan berdasarkan hadis yaitu bangkai ikan dan belalang (Hamka, 1982).
  2. Darah, sering pula diistilahkan dengan darah yang mengalir (Al-Anam:145), yang dimaksud adalah segala macam darah termasuk yang keluar pada waktu penyembelihan (mengalir), sedangkan darah yang tersisa setelah penyembelihan yang ada pada daging setelah dibersihkan dibolehkan (Sabiq, 1987). Dua macam darah yang dibolehkan yaitu jantung dan limpa, kebolehannya didasarkan pada hadis (Hamka, 1982).
  3. Daging babi. Kebanyakan ulama sepakat menyatakan bahwa semua bagian babi yang dapat dimakan haram, sehingga baik dagingnya, lemaknya, tulangnya, termasuk produk-produk yang mengandung bahan tersebut, termasuk semua bahan yang dibuat dengan menggunakan bahan-bahan tersebut sebagai salah satu bahan bakunya. Hal ini misalnya tersirat dalam Keputusan Fatwa MUI bulan September 1994 tentang keharaman memanfaatkan babi dan seluruh unsur-unsurnya (Majelis Ulama Indonesia, 2000).
  4. Binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah. Menurut Hamka (1984), ini berarti juga binatang yang disembelih untuk yang selain Allah (penulis mengartikan diantaranya semua makanan dan minuman yang ditujukan untuk sesajian). Tentu saja semua bagian bahan yang dapat dimakan dan produk turunan dari bahan ini juga haram untuk dijadikan bahan pangan seperti berlaku pada bangkai dan babi.

Masalah pembacaan basmalah pada waktu pemotongan hewan adalah masalah khilafiyah (Hamka, 1982), ada yang mengharuskan membacanya, ada yang hanya menyunahkan saja (Hassan, 1985). Yang mengharuskan membacanya berpegang pada surat Al-An’am ayat 121: dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah (ketika menyembelihnya), sesungguhnya hal itu suatu kefasikan Bagi mereka yang menyunahkan membacanya berpegang pada hadis-hadis, diantaranya hadis yang dirawikan oleh Bukhari, An-Nasa-i dan Ibnu Majah dari hadis Aisyah bahwa suatu kaum datang kepada kami membawakan kami daging, tetapi kami tidak tahu apakah disebut nama Allah atasnya atau tidak. Maka menjawab Rasulullah saw: kamu sendiri membaca bismillah atasnya, lalu makanlah! Berkata yang merawikan: mereka itu masih dekat kepada zaman kufur.(Artinya baru masuk Islam) (Hamka, 1982).

Ada satu masalah lagi yang masih menjadi khilafiyah yaitu sembelihan ahli kitab, ada yang membolehkan (Hamka, 1982; Qardlawi, 1976) yang didasarkan diantaranya firman Allah dalam surat Al-Maaidah ayat 5: dan makanan orang-orang yang diberi AlKitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka Kebolehan memakan hewan ternak (selain babi) hasil sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ini sepanjang cara penyembelihannya sesuai dengan cara penyembelihan secara islami (menggunakan pisau yang tajam, memotong urat lehernya dan hewan mengeluarkan darahnya pada waktu disembelih yang berarti hewan belum mati pada waktu disembelih walaupun dipingsankan dulu sebelumnya) (Hamka, 1982). Yang mengharamkan sembelihan ahli kitab didasarkan pada ayat 121 surat Al-An’am seperti dituliskan diatas, dimana mereka menyembelih tidak atas nama Allah.

Disamping keempat kelompok makanan yang diharamkan tersebut diatas, terdapat pula kelompok makanan yang diharamkan karena sifatnya yang buruk seperti dijelaskan dalam surat Al-A`raaf:157 …..dan menghalalkan bagi mereka segala hal yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala hal yang buruk…… Apa-apa saja yang buruk tersebut agaknya dicontohkan oleh Rasulullah dalam beberapa hadis, diantaranya hadis Ibnu Abbas yang dirawikan oleh Imam Ahmad dan Muslim dan Ash Habussunan: Telah melarang Rasulullah saw memakan tiap-tiap binatang buas yang bersaing (bertaring penulis), dan tiap-tiap yang mempunyai kuku pencengkraman dari burung. Sebuah hadis lagi sebagai contoh, dari Abu Tsa`labah: Tiap-tiap yang bersaing dari binatang buas, maka memakannya adalah haram (perawi hadis sama dengan hadis sebelumnya).

Hewan-hewan lain yang haram dimakan berdasarkan keterangan pada hadis-hadis ialah himar kampung, bighal, burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, anjing, anjing gila, semut, lebah, burung hud-hud, burung shard (Sabiq, 1987). Selain itu, ada lagi binatang yang tidak boleh dimakan yaitu yang disebut jallalah. Jallalah adalah binatang yang memakan kotoran, baik ia unta, sapi, kambing, ayam, angsa, dll sehingga baunya berubah. Jika binatang itu dijauhkan dari kotoran (tinja) dalam waktu lama dan diberi makanan yang suci, maka dagingnya menjadi baik sehingga julukan jallalah hilang, kemudian dagingnya halal (Sabiq, 1987).

Ada pula Imam yang tidak mengkategorikan makanan-makanan haram yang dijelaskan dalam hadis sebagai makanan haram, tetapi hanya makruh saja. Pendapat ini dipegang oleh penganut mazhab Maliki (Hamka, 1982; Hassan, 1985; Sabiq 1987). Akan tetapi, dengan menggunakan common sense saja agaknya sudah dapat dirasakan penolakan untuk memakan binatang-binatang seperti binatang buas: singa, anjing, ular, burung elang, dsb. Oleh karena itu, barangkali pendapat Mazhab Syafi`i lah yang lebih kuat yang mengharamkan makanan yang telah disebutkan diatas.

Ada pula pendapat yang mengatakan hewan yang hidup di dua air haram, yang menurut mereka didasarkan pada hadis. Sayangnya, sampai saat ini penulis hanya dapat menemukan pernyataan keharaman makanan tersebut di buku-buku fiqih tanpa dapat berhasil menemukan sumber hadisnya yang jelas selain dari satu hadis yang terdapat dalam kitab Bulughul Maram (Hassan, 1975): Dari `Abdurrahman bin `Utsman Al-Qurasyis-yi bahwasanya seorang tabib bertanya kepada Rasulullah saw tentang kodok yang ia campurkan didalam satu obat, maka Rasulullah larang membunuhnya (Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahkan oleh Hakim dan diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan Nasa`i). Dari hadis tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa larangan membunuh kodok sama dengan larangan memakannya. Akan tetapi larangan terhadap binatang lainnya yang hidup di dua air seperti kodok tentulah tidak secara tegas dinyatakan dalam hadis tersebut, mungkin itu hanya hasil qias saja. Jadi seharusnya yang diharamkan hanya kodok saja, sedangkan hewan yang hidup di dua alam lainnya tidak diharamkan, kecuali ada hadis yang menyatakan dengan jelas keharaman hewan-hewan tersebut.

Minuman yang Diharamkan

Dari semua minuman yang tersedia, hanya satu kelompok saja yang diharamkan yaitu khamar. Yang dimaksud dengan khamar yaitu minuman yang memabukkan sesuai dengan penjelasan Rasulullah saw berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar: setiap yang memabukkan adalah khamar (termasuk khamar) dan setiap khamar adalah diharamkan (semua hadis-hadis yang digunakan dalam pembahasan minuman yang diharamkan diperoleh dari Sabiq, 1987). Dari penjelasan Rasulullah tsb jelas bahwa batasan khamar didasarkan atas sifatnya, bukan jenis bahannya, bahannya sendiri dapat apa saja. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat mengenai bahan yang diharamkan, ada yang mengharamkan khamar yang berasal dari anggur saja. Akan tetapi penulis menyetujui pendapat yang mengharamkan semua bahan yang bersifat memabukkan, tidak perlu dilihat lagi asal dan jenis bahannya, hal ini didasarkan atas kajian hadis-hadis yang berkenaan dengan itu, juga pendapat para ulama terdahulu.

Mengenai sifat memabukkan sendiri dijelaskan lebih rinci lagi oleh Umar bin Khattab seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim sebagai berikut: Kemudian daripada itu, wahai manusia! sesungguhnya telah diturunkan hukum yang mengharamkan khamar. Ia terbuat dari salah satu lima unsur: anggur, korma, madu, jagung dan gandum. Khamar itu adalah sesuatu yang mengacaukan akal. Jadi sifat mengacaukan akal itulah yang dijadikan patokan. Sifat mengacaukan akal itu diantaranya dicontohkan dalam Al-Quran yaitu membuat orang menjadi tidak mengerti lagi apa yang diucapkan seperti dapat dilihat pada surat An-Nisa: 43: Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. Dengan demikian berdasarkan ilmu pengetahuan dapat diartikan sifat memabukkan tersebut yaitu suatu sifat dari suatu bahan yang menyerang syaraf yang mengakibatkan ingatan kita terganggu.

Keharaman khamar ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Maaidah ayat 90-91: Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan-perbuatan keji yang termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menumbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran meminum khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Maka berhentilah kamu mengerjakan perbuatan itu.

Dengan berpegang pada definisi yang sangat jelas tersebut diatas maka kelompok minuman yang disebut dengan minuman keras atau minuman beralkohol (alcoholic beverages) termasuk khamar. Sayangnya, banyak orang mengasosiasikan minuman keras ini dengan alkohol saja sehingga yang diharamkan berkembang menjadi alkohol (etanol), padahal tidak ada yang sanggup meminum etanol dalam bentuk murni karena akan menyebabkan kematian.

Etanol memang merupakan komponen kimia yang terbesar (setelah air) yang terdapat pada minuman keras, akan tetapi etanol bukan satu-satunya senyawa kimia yang dapat menyebabkan mabuk, banyak senyawa-senyawa lain yang terdapat pada minuman keras juga bersifat memabukkan jika diminum pada konsentrasi cukup tinggi. Komponen-komponen ini misalnya metanol, propanol, butanol (Etievant, 1991). Secara umum, golongan alkohol bersifat narkosis (memabukkan), demikian juga komponen-komponen lain yang terdapat pada minuman keras seperti aseton, beberapa ester dll (Bretherick, 1986).

Secara umum, senyawa-senyawa organik mikromolekul dalam bentuk murninya kebanyakan adalah racun. Sebagai contoh, asetaldehida terdapat pada jus orange walaupun dalam jumlah kecil (3-7 ppm) (Shaw, 1991). Jika kita lihat sifatnya (dalam bentuk murninya), asetaldehida juga bersifat narkosis, walaupun hanya menghirup uapnya (Bretherick, 1986). Oleh karena itu, kita tidak dapat menentukan keharaman minuman hanya dari alkoholnya saja, akan tetapi harus dilihat secara keseluruhan, yaitu apabila keseluruhannya bersifat memabukkan maka termasuk kedalam kelompok khamar. Apabila sudah termasuk kedalam kelompok khamar maka sedikit atau banyaknya tetap haram, tidak perlu lagi dilihat berapa kadar alkoholnya.

Apabila yang diharamkan adalah etanolnya, maka dampaknya akan sangat luas sekali karena banyak sekali makanan dan minuman yang mengandung alkohol, baik terdapat secara alami (sudah terdapat sejak bahan pangan tersebut baru dipanen dari pohon) seperti pada buah-buahan, atau terbentuk selama pengolahan seperti kecap. Akan tetapi kita mengetahui bahwa buah-buahan segar dan kecap tidak menyebabkan mabuk. Disamping itu, apabila alkohol diharamkan maka ketentuan ini akan bertentangan dengan penjelasan yang diberikan oleh Rasulullah saw tentang jus buah-buahan dan pemeramannya seperti tercantum dalam hadis-hadis berikut:

  1. Minumlah itu (juice) selagi ia belum keras. Sahabat-sahabat bertanya: Berapa lama ia menjadi keras? Ia menjadi keras dalam tiga hari, jawab Nabi. (Hadis Ahmad diriwayatkan dari Abdullah bin Umar).
  2. Bahwa Ibnu Abbas pernah membuat juice untuk Nabi saw. Nabi meminumnya pada hari itu, besok dan lusanya hingga sore hari ketiga. Setelah itu Nabi menyuruh khadam menumpahkan atau memusnahkannya. (Hadis Muslim berasal dari Abdullah bin Abbas).
  3. Buatlah minuman anggur!. Tetapi ingat, setiap yang memabukkan adalah haram (Hadis tercantum dalam kitab Fiqih Sunah karangan Sayid Sabiq, 1987).

Pemeraman juice pada suhu ruang dan udara terbuka sampai dua hari jelas secara ilmiah dapat dibuktikan akan mengakibatkan pembentukan etanol, tetapi memang belum sampai pada kadar yang memabukkan, hal ini juga dapat terlihat pada pembuatan tape. Sebelum diperam pun juice sudah mengandung alkohol, juice jeruk segar misalnya dapat mengandung alkohol sebanyak 0.15%. Dari pembahasan tersebut diatas jelaslah bahwa pendapat yang mengatakan diharamkannya alkohol lemah, bahkan bertentangan dengan hadis Rasulullah saw. Apabila alkohol diharamkan, maka seharusnya alkohol tidak boleh digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran, campuran obat, pelarut (pewarna, flavor, parfum, obat, dll), bahkan etanol harus enyah dari laboratorium-laboratorium. Jelas hal ini akan sangat menyulitkan. Disamping itu ingatlah firman Allah dalam surat Al-Maiadah ayat 87: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Allah telah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ada pula yang berpendapat bahwa etanol itu haram, akan tetapi etanol dapat digunakan dalam pengolahan pangan asalkan pada produk akhir tidak terdeteksi lagi adanya etanol. Pendapat ini lemah karena dua hal; pertama, berdasarkan hukum fiqih, apabila suatu makanan atau minuman tercampur dengan bahan yang haram maka menjadi haramlah ia (Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini dibolehkan sepanjang tidak merubah sifat-sifat makanan atau minuman tersebut. Pendapat ini hasil qias terhadap kesucian air yang tercampuri bahan yang najis, sepanjang tidak merubah sifat-sifat air maka masih tetap suci. Penulis tidak sependapat dengan pandangan ini karena masalah kehalalan makanan dan minuman tidak bisa disamakan dengan masalah kesucian air, keduanya merupakan dua hal yang berbeda). Kedua, secara teori tidak mungkin dapat menghilangkan suatu bahan sampai 100 persen apabila bahan tersebut tercampur ke dalam bahan lain, dengan kata lain apabila etanol terdapat pada bahan awalnya, maka setelah pengolahan juga masih akan terdapat pada produk akhir, walaupun dengan kadar yang bervariasi tergantung pada jumlah awal etanol dan kondisi pengolahan yang dilakukan. Hal ini dapat dibuktikan di laboratorium.

Walaupun bukan etanol yang diharamkan tetapi minuman beralkohol, akan tetapi penggunaan etanol untuk pembuatan bahan pangan harus dibatasi, untuk menghindari penyalahgunaan dan menghindari perubahan sifat bahan pangan dari tidak memabukkan menjadi memabukkan. Etanol dapat digunakan dalam proses ekstraksi, pencucian atau pelarutan, akan tetapi sisa etanol pada produk akhir harus dihilangkan sedapat mungkin, sehingga hanya tersisa sangat sedikit sekali. Etanol tidak boleh digunakan sebagai solven akhir suatu bahan, misal digunakan sebagai pelarut bahan flavor dan pewarna.

Batasan khamar ini nampaknya tidak terbatas pada minuman saja mengingat ada hadis yang mengatakan setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah haram (Hadis Muslim); Semua yang mengacaukan akal dan semua yang memabukkan adalah haram (Hadis Abu Daud). Dengan demikian segala hal yang mengacaukan akal dan memabukkan seperti berbagai jenis bahan narkotika termasuk ecstasy adalah haram.

Disamping makanan dan minuman yang diharamkan seperti telah dijelaskan diatas, ada beberapa kaidah fiqih yang sering digunakan dalam menentukan halal haramnya bahan pangan. Kaidah tersebut diantaranya adalah:

  1. Semua yang bersifat najis haram untuk dimakan.
  2. Manakala bercampur antara yang halal dengan yang haram, maka dimenangkan yang haram.
  3. Apabila banyaknya bersifat memabukkan maka sedikitnya juga haram.

IMPLIKASI HUKUM SYARIAH DALAM PENETAPAN KEHALALAN PRODUK PANGAN HASIL BIOTEKNOLOGI

Apabila dasar-dasar syariah yang digunakan sebagai landasan penentuan kehalalan suatu bahan pangan telah dipahami dan disepakati maka sebetulnya implikasinya dalam menentukan kehalalan produk pangan hasil bioteknologi menjadi relatif lebih mudah. Secara umum hal-hal yang menjadi patokan dapat dirumuskan sbb:

  1. Dalam suatu produksi bahan pangan tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan agar produknya dapat dinyatakan halal. Ini misalnya berlaku pada proses produksi secara fermentasi.
  2. Pemanfaatan babi dan unsur-unsurnya atau turunan-turunannya mutlak tidak boleh dilakukan. Jika suatu proses produksi memanfaatkan babi dan unsur-unsurnya maka produknya menjadi haram dimakan. Sebagai contoh: pemanfaatan gen dari babi untuk rekayasa genetika, pemanfaatan porcine somatotropin untuk penggemukan sapi, dll.
  3. Pemanfaatan hewan ternak selain babi dan unsur atau turunannya dibolehkan sepanjang ternak tersebut disembelih secara islami.
  4. Penggunaan etanol sebagai substrat, senyawa intermediet, solven dan pengendap dibolehkan, sepanjang konsentrasinya pada produk akhir (ingredien pangan) diupayakan minimal (minimal level technologically possible, sesuai dengan pendapat Chaudry dan Regenstein, 1994).

Tentu masih ada beberapa hal lagi yang bisa dijadikan patokan, disamping masih ada beberapa masalah lagi yang belum dapat dipecahkan pada saat ini. Oleh karena, hal ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk merumuskan dan mencarikan jalan keluarnya.

DAFTAR PUSTAKA

1.       Bretherick, L (ed.). 1986. Hazards in the Chemical Laboratory. Fourth edition. The Royal Society of Chemistry, London.

2.       Chaudry, M. M. dan Regenstein, J. M. 1994. Implications of biotechnology and genetic engineering for kosher and halal foods. Trends in Food Sci. Technol., 5, 165 168.

3.       Etievant, P. X. 1991. Wine. Didalam: Volatile Compounds in Foods and Beverages, ed. H. Maarse. Marcel Dekker, New York.

4.       Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar Juzu VI. Panji Masyarakat, Jakarta.

5.       Hamka, 1984. Tafsir Al-Azhar Juzu VIII. Pustaka Panjimas, Jakarta.

6.       Hassan A. 1975. Tarjamah Bulughul Maram. Diponegoro, Bandung.

7.       Hassan, A. 1985. Soal Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama. Diponegoro, Bandung.

8.       Majelis Ulama Indonesia. 2000. Keputusan Fatwa Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Produk Penyedap Rasa (Monosodium Glutamate, MSG) Dari PT. Ajinomoto Indonesia yang Menggunakan Bacto Soytone.

9.       Sabiq, S. 1987. Fikih Sunnah. Alih bahasa M. Syaf. Al-Marif, Bandung.

10.   Shaw, P. E. 1991. Fruits II. Didalam: Volatile Compounds in Foods and Beverages, ed. H. Maarse. Marcel Dekker, New York.

11.   Qardlawi, M. Y. E. 1976. Halal dan Haram dalam Pandangan Islam. Alih bahasa M. Hamidy. Bina Ilmu, Surabaya.

 

Oleh Yulianto Mohsin

Akhir bulan Juli lalu, berlaku undang-undang baru di negara bagian New York di Amerika Serikat. Semua orang tanpa terkecuali tidak boleh lagi merokok di restoran-restoran dan bar-bar yang tersebar di seluruh wilayah negara bagian ini. Larangan merokok di tempat-tempat umum lainnya seperti perkantoran, mall, dan lain-lain sudah diberlakukan terlebih dahulu. Bisnis rumah makan atau bar yang ketahuan tidak melaksanakan peraturan baru ini dikenakan denda US $ 2,000. Bukan denda yang kecil. Peraturan keras yang melarang orang merokok di kedua jenis tempat tersebut pada awalnya diberlakukan hanya di kota New York sejak akhir Maret lalu. Empat bulan kemudian, peraturan ini berlaku untuk seluruh negara bagian New York. Di salah satu bar yang penulis amati, para perokok terpaksa keluar dan berdiri di dekat pintu belakang bar untuk merokok. Hal ini mungkin masih dapat dilakukan dengan agak leluasa mengingat sekarang masih musim panas. Tapi akan sangat sulit bagi para pencandu rokok ini untuk berdiri di luar ketika musim dingin datang. Kelihatannya, waktu keluarnya peraturan baru ini juga untuk mempersiapkan datangnya musim dingin.

New York memang salah satu negara bagian Amerika Serikat (AS) yang sangat gencar melancarkan kampanye anti-rokok. Biaya yang dikeluarkan untuk hal ini pun tidak sedikit, US$ 60 juta. Kampanye ini di antaranya mencegah penjualan rokok ke remaja di bawah umur 18 tahun, membuat dan menayangkan iklan-iklan anti-rokok, memberitahukan publik bahaya merokok, mendirikan program-program pemberhentian merokok bagi pecandu rokok berat dan mensubsidi biaya obat-obat yang dapat membantu orang berhenti merokok.

Biaya yang besar untuk program ini sebenarnya berasal dari “tobacco industry settlement” yang didapat negara bagian New York. Sejarahnya, jaksa penuntut umum dari 40 negara bagian di AS, dimulai oleh negara bagian Mississippi, pada pertengahan dekade 1990-an menuntut ganti rugi yang sangat besar kepada segelintir perusahaan pembuat rokok dan barang-barang tembakau lainnya di AS. Didukung bukti yang kuat dari dunia sains dan kedokteran, mereka beralasan bahwa rokok adalah candu, asap rokok sangat membahayakan kesehatan (penyebab kanker) dan rakyat AS banyak yang meninggal gara-gara merokok. Biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian untuk menangani para pasien kanker akibat merokok sangat besar. Dengan alasan inilah mereka menuntut ganti rugi yang tidak sedikit. Karena ingin menghindari proses hukum yang lama dan berbelit-belit dan juga karena industri rokok ini takut jika terbukti bersalah di pengadilan mereka dipaksa membayar ganti rugi yang sangat besar jumlahnya, akhirnya mereka mengalah dan bersedia berdamai dengan memberikan settlement berupa uang ke masing-masing negara bagian yang mengajukan tuntutan.

Banyak sudah riset yang mengungkapkan bahaya asap rokok terhadap aspek biologis dan kimiawi tubuh manusia. Studi pertama yang dilakukan dilaporkan di jurnal terkemuka Science edisi bulan Oktober 1996. Gen P53 di dalam DNA tubuh manusia berfungsi sebagai penekan tumor (tumor suppressor); jika fungsinya dimatikan, kemungkinan terjadinya tumor akan meningkat. Sudah umum diketahui bahwa asap rokok memiliki benzo[a]pyrene dalam jumlah yang cukup banyak. Molekul ini adalah sejenis karsinogen (agen penyebab kanker) yang berbahaya dan terdapat di dalam jelaga, yaitu partikel-partikel karbon yang halus yang dihasilkan akibat pembakaran tidak sempurna arang, minyak, kayu atau bahan bakar lainnya. Bahaya molekul yang ditemui dalam jelaga ini telah lama diketahui. Banyak anak yang bekerja sebagai pembersih cerobong asap di London sejak Kebakaran Besar 1666 (the Great Fire of 1666) terkena kanker testicular.

Benzo[a]pyrene sendiri sebenarnya tidak menyebabkan kanker. Jaringan di dalam tubuh manusia memetabolisme bahan ini dengan cara menambah oksigen ke salah satu cincin molekulnya, mengubahnya menjadi molekul yang dinamakan epoksi diol (diol epoxide). Kegunaan metabolisme ini adalah untuk membuat benzo[a]pyrene lebih mudah larut di dalam air, sehingga mudah untuk dikeluarkan dari tubuh.

Sayangnya, strategi untuk mengeluarkan zat yang tak berguna bagi tubuh ini menjadi tidak karuan untuk benzo[a]pyrene, karena molekul yang terbentuk, epoksi diol, tidak dikeluarkan oleh tubuh. Malahan, molekul ini berhasil menemukan cara untuk masuk ke inti sel, kemudian bereaksi dengan sel-sel DNA. Epoksi cepat sekali bereaksi dengan basa-basa Lewis, dan struktur DNA memiliki bagian yang merupakan basa-basa Lewis. Di artikel jurnal Science tersebut, para periset melaporkan bahwa epoksi diol bereaksi dengan DNA di daerah gen P53 yang diketahui mudah bermutasi. Banyak kasus kanker paru-paru yang memiliki mutasi gen di daerah gen P53 ini. Kesimpulan laporan hasil riset itu menyatakan bahwa benzo[a]pyrene dalam asap rokok adalah penyebab langsung mutasi gen yang diketahui berhubungan dengan kanker paru-paru.

AS bukan negara satu-satunya yang sudah terjun menyadarkan masyarakatnya akan bahaya asap rokok ini. Australia, Selandia Baru, Singapura sudah lebih dahulu memerangi rokok. Beberapa negara lain seperti Kanada dan Jerman akan mengikuti jejak AS. Irlandia yang terkenal dengan kebudayaan pub-nya (merokok sambil meminum minuman alkohol) akan menjadi negara Eropa pertama awal tahun depan yang melarang merokok di pub-pub. Kapan Indonesia akan turut menyadarkan masyarakatnya? Mungkin yang lebih penting untuk diingat, jika pemerintah Indonesia sudah siap memerangi ancaman kesehatan yang satu ini, lebih baik mengikuti jejak AS, yang aktif mensosialisasikan kebijaksanaan tersebut. Tanpa perencanaan dan pemasyarakatan yang baik, kebijaksanaan baik apapun yang dikeluarkan akan mudah mati di tengah jalan ditentang oleh banyak orang.

(Diterjemahkan dan disadur dari berbagai sumber)

 

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.