Meskipun tinggal di Ciloang, di Rumah Dunia, saya jarang sekali meluangkan waktu untuk berjalan-jalan di sekeliling Desa sekitar. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Dunia, berkutat dengan buku dan komputer. Padahal Gola Gong selalu menasehati saya untuk meluangkan waktu melihat lingkungan sekitar. Gola Gong selalu mengingatkan bahwa salah satu cara belajar terbaik adalah dengan terjun langsung pada kehidupan. Melihat dengan mata kepala sendiri. Mendengar dengan telinga sendiri. Merasakan dengan kulit sendiri. Karena ilmu bertebaran di mana-mana, dan sang guru yang bernama kehidupan tak akan pernah merasa jemu untuk membagikan kebijaksanaannya pada kita. Dengan syarat, kita mau mengambil pelajaran darinya dengan penuh kerendahan hati. BELAJAR DI KEHIDUPAN
Model belajar yang seperti ini bahasa kerennya biasa disebut “Accelerate Learning”. Dimana seorang thalib yang mencari ilmu menenggelamkan dirinya pada dinamika kehidupan untuk menimba kebijaksanaan. Tentu saja metode seperti ini meniscayakan seorang thalib untuk pergi jauh ke berbagai tempat. Melihat dan berkunjung ke tempat-tempat yang berbeda, baik geografis, budaya, ideologi, dsb. Serta ikut merasakan apa yang disuguhkan oleh kehidupan. Dari tukang sampah, pengemis, pedagang asongan, kuli pasar, lifter, satpam, juga bermacam ‘rasa’ kehidupan lainnya. Dari kelas bawah, menengah, hingga kelas atas. Dengan itulah ceruk jiwa seseorang akan terisi oleh pengalaman-pengalaman yang nantinya akan mendewasakannya. Salah satu contoh orang yang berhasil belajar dengan model seperti ini adalah Gola Gong. Karena itu pulalah Gola Gong –selain membaca buku tentunya- selalu menekankan hal ini pada saya. Pada relawan-relawan lain, pada anak-anak Kelas Menulis, juga orang-orang yang ingin menimba ilmu di Rumah Dunia.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Setelah mengetahui hal ini. Ditambah dengan bukti-bukti yang terpampang jelas di depan mata, mengapakah aku tetap saja begitu bandel dan keras kepala untuk tidak mengambil pelajaran darinya? Jawaban sederhana-sementara yang bisa kuberikan pada diriku sendiri adalah karena aku memang thalib yang manja, malas, bertekad lemah, dan kurang disiplin. Sedang untuk alasan ‘apologetik’nya, aku akan bilang bahwa ‘banyak jalan menuju Roma’. Ditambah fakta bahwa karakter, latar belakang dan motif yang berbeda meniscayakan persuasi yang tak bisa disamakan pula. Jika Gola Gong, Toto ST Radik, juga Firman Venayaksa adalah thalibin ‘sosialis’ yang mendedikasikan diri untuk kepentingan umat (baca: masyarakat Banten) via Rumah Dunia. Maka aku hanyalah seorang anak muda egois yang hanya mengejar ‘senyum manis kekasih’ dan ‘segenggam rambut ikal’. Namun tentu saja aku tak akan mengatakan bahwa accelerate learning itu tak berguna atau hanya berguna bagi segolongan orang saja. Bagaimanapun accelerate learning bersifat universal. Aku hanya ingin mengatakan bahwa pada beberapa orang, ada beberapa perbedaan kecil dalam caranya memandang kehidupan dan menyikapinya. Lagipula, selincah apapun aku berapologi, kenyataan bahwa aku memang manja, malas, kurang disiplin dan lemah tekad tak bisa dipungkiri. Ditambah, aku memang tidak suka beralasan dan mencari pembenaran. Kenyataannya aku memang belum sanggup menata diriku, kan? Kembali ke masalah pencarian ilmu, ada sebuah contoh yang cukup menarik, dalam bukunya, Mi’raj Ruhani, Imam Khomeini q.s. menyebutkan bahwa esensi pembelajaran adalah ketika manusia menyadari “Kehinaan ubudiyah (penghambaan), dan keagungan Rububiyyah (ketuhanan).” Artinya, seseorang disebut berilmu ketika ia mampu menyingkirkan tabir-tabir nafsu egosentrisnya dalam (pengakuan) kehinaan ubudiyyah. Sehingga ketika ia menyadari kepapaannya, kebergantungan mutlak dan mumkin al-wujud nya, ia akan menjadikan dirinya mampu memandang keagungan Rububiyyah. Jamaliyyah dan Jalaliyyah-Nya. Analogi yang terlalu menukik memang, namun di sini kita melihat bahwa inti keilmuan adalah kerendah-hatian, pengakuan bahwa kita sebenarnya tidak tahu apa-apa. Bahwa kita hanyalah papa semata. Seorang thalib yang tak mempunyai kesadaran diri seperti ini adalah thalib yang angkuh. Ia akan terantuk dan terbatasi oleh dinding-dinding bangga diri egosentrisnya. Inilah yang akan menjadikan ia stagnan dan tak berkembang. Berhenti di permukaan. Dalam bahasa Gola Gong disebutkan bahwa thalib yang seperti ini bagaikan katak dalam tempurung. Ia terpesona dan terpedaya oleh tempurung kecil yang mengungkungnya. Sayangnya, hampir setiap thalib sadar tidak sadar –dengan tingkatan yang berbeda-beda –terkurung dalam batok kelapa ini. Tidak seniman, budayawan, agamawan, cendikiawan, juga ‘wan-wan’ lainnya. Terkecuali bagi orang-orang yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai golongan orang-orang Mukhlasin. Golongan orang-orang yang terjaga dari tipuan-tipuan setan. NALURI FITRIAH MANUSIA
Agaknya, karena hal ini pulalah, manusia, yang sejak lahir dianugerahi oleh Tuhan dengan daya kuriositas dan hasrat untuk belajar yang tinggi tak pernah diam. Selalu saja bergerak, merangkak, meronta mencari-cari pancaran cahaya Illahi ini. Naluri fitriah ini, dari zaman ke zaman semakin lama semakin menguat. Meskipun tak jarang ia dipasung dan dikebiri dengan beragam nama dan kepentingan. Dari kolonialisme, kapitalisme, ‘stabilitas’ negara, hingga agama. Mitos Holocaust yang dibesar-besarkan bukan pada tempatnya, lembaga Inkuisitor gereja abad pertengahan, juga penghanyutan buku-buku keilmuan Islam di sungai Tigris oleh Jengis Khan adalah beberapa contoh yang bisa disebut. Di Indonesia, kita bisa melihat dari zaman penjajahan Belanda, Portugis dan Jepang, hingga era Orde Barunya Soeharto. Tak terhitung betapa banyak pengkebirian-pengkebirian intelektual hanya karena kepentingan-kepentingan sesaat penguasa. Semuanya untuk uang dan kekuasaan semata.
Namun, apakah dengan begitu hasrat belajar dan mengetahui keilmuan berhenti dan mati? Jawabannya tidak. Sebaliknya, semakin kuat tekanan penguasa –juga otoritas agama untuk menekan para ‘oposisi’nya ini, semakin kuat pula gairah untuk bangkit menentangnya. Dan ini hampir ada di segala bidang. Politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga agama. Di setiap lini ini selalu saja ada para penyeru yang berjuang tak kenal lelah memperjuangkannya. PENDIDIKAN KITA
Bagaimana dengan pendidikan kita? Di Indonesia, kita mengenal lembaga pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA sampai Universitas. Disamping lembaga pendidikan formal seperti ini, ada juga lembaga pendidikan non-formal lainnya seperti pondok pesantren, les-privat, juga kursus-kursus. Selain itu ada juga lembaga-lembaga pencinta pendidikan yang aktif dalam mengelola TBM-TBM. Kesemuanya inilah yang saat ini mewarnai ranah pendidikan di Indonesia.
Khusus untuk TBM, saat ini pemerintah mengalokasikan dana mencapai 80 Milyar. Sebuah peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan makin menjamurnya TBM-TBM di seluruh pelosok Indonesia. Dalam satu sisi, hal ini cukup positif. Karena hal ini menunjukkan bahwa minat baca rakyat Indonesia mulai menunjukkan peningkatan, demikian juga dengan pihak-pihak yang peduli terhadap gerakan literasi ini. Namun di sisi lain, muncul beberapa permasalahan yang harus diantisipasi. Seperti berjamurnya TBM-TBM dadakan yang dikhawatirkan hanya sekedar ‘trend’ semata. Tumbuh cepat, dan mati pun lekas. Juga tentang penyaluran dana bantuan untuk TBM, agar jangan sampai jatuh pada pihak yang tidak semestinya. Kita hidup di sebuah bangsa yang secara umum, tingkat pendidikannya masih rendah. Dengan sejarah penjajahan yang melewati tiga abad, ditambah beragam masalah yang menerpa, pendidikan bangsa kita memang tertinggal jauh dibandingkan Negara-negara lain. Ironisnya, pemerintah seolah enggan belajar. Dalam rapat anggaran APBN tahun 2008, anggaran untuk pendidikan yang tadinya direncanakan mencapai 20%, malah turun drastis menjadi hanya 12%. Alasannya, ada banyak kepentingan lain yang harus didahulukan. Sebuah rapor merah dalam hal pendidikan! Kabar baiknya, setidaknya saat ini teriakan-teriakan akan kehausan untuk belajar ini sudah mulai menggema. Meskipun pemerintah cenderung ‘budeg’ dan seolah tak peduli, namun orang-orang dari berbagai kalangan yang peduli sudah mulai bergerak ke arah ini. Tumbuhnya gerakan-gerakan pendidikan masyarakat (seperti TBM-TBM dsb.) yang bosan menunggu peran pemerintah yang lambat satu-persatu mulai bermunculan. Tentu masih banyak catatan di sana-sini, namun ini adalah tanda kemajuan yang harus kita pertahankan. Menurut Prof. Dr. Yoyo Mulyana, MEd, saat menjadi pembicara dalam launching Lumbung Banten Rumah Dunia, Senin, 8 Oktober 2007 di Rumah Dunia, sebuah Pusat Data dan Informasi Banten yang didirikan karena keprihatinan akan tidak adanya pusat dokumentasi tentang ke-Bantenan yang layak, gerakan-gerakan seperti ini tak hanya bisa disebut gerakan kebudayaan (culture activity) semata. Namun juga layak disebut sebagai gerakan peradaban (civilization activity). Lebih lanjut Prof. Dr. Yoyo Mulyana, MEd, mantan Rektor Untirta ini menyebutkan bahwa gerakan-gerakan ‘bawah tanah’ seperti Lumbung Banten merupakan ekspresi dan hasrat untuk belajar dari manusia Banten. Sebuah teriakan akan kehausan untuk belajar dan maju berkembang di tengah ketidakpedulian dan ‘e ge pe’, pemerintah yang terlalu sibuk dengan proyek-proyek ‘pembangunan’nya itu. Oleh: Mushadiq Ali 

About these ads